On the First Anniversary of KH. Hasyim Muzadi’s Passing, ICIS and BNPT Host an International Seminar on the Challenges Facing Moderate Islam in the Face of Global Political Change
The International Conference of Islamic Scholars (ICIS) once again held an international halaqah/seminar on the theme “The Challenges Facing Moderate Islam in the Face of Global Political Change.” The seminar was organized in collaboration between ICIS and the National Counterterrorism Agency (BNPT).
The themes of moderation and Islam as a mercy to all creation symbolize the late Kiai Hasyim Muzadi’s struggle to apply the values of a compassionate and tolerant Islam. Behind Islam’s gentleness lies a commitment to upholding justice. Therefore, if human values are neglected and injustice permeates every aspect of life, then Islam as a mercy to all creation must step forward to reestablish the value of justice—whether in national, regional, or international contexts.
Dengan pertimbangan inilah maka tema diatas kita angkat untuk mengenang kembali perjuangan Kiai Hasyim yang tidak pernah lelah menyuarakan Islam Moderat dan Islam rahmatan lil alamin diatas panggung politik nasional dan global.
Perubahan peta politik global yang ditandai dengan munculnya kecenderungan negara-negara untuk ”melihat ke dalam” dan pergeseran persekutuan (regionalisme) akan menimbulkan tantangan bagi umat Islam.
Situasi dunia tahun 2018 masih akan dipenuhi dengan berbagai macam tantangan. Meskipun terdapat optimisme pertumbuhan ekonomi dunia, dengan pertumbuhan 2017 sebesar 3,6%, sementara 2018, 3,7%.
Namun di sisi lain, masih terdapat berbagai macam ketidakpastian. Instabilitas politik dan keamanan di tingkat global masih menjadi faktor resiko terbesar di tahun 2018. Potensi proxy conflict di berbagai belahan dunia masih akan terus terjadi. Banyak negara menarik diri dari komitmen internasional yang menyisakan tanda tanya besar. Oleh karenanya, kemitraan untuk menghormati hukum internasional dan multilateralisme perlu terus dikembangkan.
Setidaknya ada 7 pemicu konflik yang akan mendorong situasi global pada tahun 2018 ini dihantui oleh situasi yang tidak menentu, pertama, Uji coba nuklir dan rudal Korea Utara ditambah dengan gagasan permusuhan Gedung Putih, membuat ancaman perang di Semenanjung Korea-bahkan sebuah konfrontasi nuklir yang dahsyat-lebih besar dari pada kapan pun dalam sejarah belakangan ini. Uji coba nuklir keenam Pyongyang pada bulan September 2017, dan meningkatnya jangkauan rudalnya, jelas menunjukkan tekad Korea Utara untuk memajukan program nuklir dan kemampuan penyerangan antarbenua-nya. Dari Amerika Serikat, sementara itu, dikirimkan tanda-tanda yang ceroboh dan membingungkan terkait diplomasi.
Kedua, Persaingan AS-Saudi-Iran. Persaingan ini kemungkinan akan menghiasi Timur Tengah pada tahun 2018. Hal ini dimungkinkan dan diperburuk oleh tiga perkembangan paralel: konsolidasi otoritas Mohammed bin Salman, putra mahkota Arab Saudi yang tegas; strategi Trump yang lebih agresif terhadap Iran; dan berakhirnya kontrol teritorial ISIS di Irak dan Suriah, yang memungkinkan Washington dan Riyadh untuk mengarahkan sorotan lebih tegas terhadap Iran.
Bentuk strategi AS/Saudi (dengan bantuan penting Israel) menjadi jelas. Hal ini didasarkan pada asumsi utama bahwa Iran telah memanfaatkan pelaku regional dan internasional yang pasif untuk memperkuat posisinya di Suriah, Irak, Yaman, dan Lebanon. Washington dan Riyadh berusaha untuk membangun kembali rasa pencegahan, dengan meyakinkan Teheran bahwa Teheran harus membayar tinggi atas apa yang ia lakukan terhadap musuh-musuhnya.
Ketiga, Krisis Rohingya di Myanmar telah memasuki fase baru yang berbahaya, mengancam transisi demokrasi Myanmar, stabilitasnya, dan kondisi Bangladesh serta wilayah tersebut secara keseluruhan.
Keempat, prahara politik dalam negeri Yaman. Akibat perseteruan antar elemen politik di Yaman dan juga intervensi Saudi Arabia, di negeri tersebut maka mengakibatkan 8 juta orang di ambang kelaparan, 1 juta kasus kolera yang diumumkan, dan lebih dari 3 juta pengungsi internal, perang Yaman dapat meningkat lebih lanjut pada tahun 2018. Setelah masa ketegangan, demonstrasi, dan serangan bersenjata, mantan Presiden Ali Abdullah Saleh mengumumkan pada bulan Desember bahwa Kongres Rakyat Umum-nya telah meninggalkan kemitraannya dengan Houthi untuk mendukung koalisi yang dipimpin oleh Saudi. Saleh membayarnya dengan nyawanya; dia langsung terbunuh oleh mantan rekannya.
Arab Saudi dan sekutunya-yang percaya bahwa perpanjangan Kongres Rakyat Houthi membuka peluang baru, dan masih yakin adanya solusi militer-kemungkinan akan mengintensifkan kampanye mereka dengan biaya yang sangat besar bagi warga sipil. Houthi akan terus berperang dengan Saudi, menembakkan rudal ke arah Riyadh, dan mengancam negara-negara Teluk lainnya.
Kelima, Perang saudara di Afghanistan. Perang di Afghanistan tampaknya akan meningkat pada tahun 2018. Strategi baru Amerika Serikat di Afghanistan adalah dengan meningkatkan frekuensi operasi melawan pemberontakan Taliban, dengan lebih banyak pasukan dan serangan udara AS yang lebih hebat, dan serangan darat yang lebih agresif oleh pasukan Afghanistan. Tujuannya, menurut pejabat senior, adalah untuk menghentikan momentum Taliban dan, akhirnya, memaksanya melakukan kesepakatan politik. Untuk saat ini, strategi ini hampir secara eksklusif bersifat militer.
Keenam, Perang Suriah. Setelah hampir tujuh tahun berperang, rezim Presiden Bashar al-Assad berada di atas angin, sebagian besar berkat dukungan Iran dan Rusia. Tapi pertempuran belum berakhir. Perburuan besar di negara tersebut tetap berada di luar kendali rezim, negara-negara regional dan internasional tidak setuju mengenai kesepakatan, dan Suriah adalah arena persaingan antara Iran dan musuh-musuhnya. Karena ISIS digulingkan dari timur, prospek eskalasi di tempat lain akan meningkat.
Di Suriah timur, kampanye saingan oleh pasukan pro-rezim (didukung oleh milisi yang didukung Iran dan kekuatan udara Rusia) dan Pasukan Demokratik Suriah yang dipimpin Kurdi (SDF, yang didukung oleh koalisi anti-ISIS yang dipimpin AS), telah mengalahkan ISIS.
Bagi rezim Suriah dan SDF, perang melawan ISIS adalah sebuah alat untuk mencapai tujuan. Keduanya bertujuan untuk merebut wilayah dan sumber daya, namun juga untuk membangun keuntungan-rezim tersebut untuk memperkuat kekuasaan; Kurdi untuk membangun otonomi yang maksimal. Sejauh ini, kedua belah pihak kebanyakan menghindari konfrontasi. Dengan ISIS yang telah pergi, risikonya akan meningkat.
Ketujuh, Krisis Politik dan ekonomi di Venezuela. Venezuela menghadapi saat-saat yang semakin buruk pada tahun 2017, karena pemerintahan Presiden Nicolás Maduro membuat negara ini lebih terpuruk, sementara ia memperkuat pegangan politiknya. Oposisi telah meledak. Prospek untuk pemulihan demokrasi yang damai tampak semakin hilang. Dan dengan ekonomi yang terjun bebas, Maduro menghadapi tantangan yang sangat besar. Diperkirakan krisis kemanusiaan akan semakin parah pada tahun 2018, seiring PDB yang terus berkontraksi.
Pada akhir November, Venezuela gagal membayar sebagian utang internasionalnya. Sanksi akan membuat restrukturisasi utang hampir tidak mungkin. Meningkatnya dukungan Rusia sepertinya tidak akan cukup, sementara China tampaknya enggan menyelamatkan Maduro. Sebuah kegagalan dapat memicu perusakan aset Venezuela di luar negeri, melumpuhkan perdagangan minyak yang menyumbang 95 persen dari pendapatan ekspor negara tersebut.
Ketujuh persoalan yang terjadi diberbagai kawawan ini mencerminkan perkembangan global yang sedang dan juga merefleksikan kemungkinan-kemungkinan buruk yang harus kita antisipasi.
Menghadapi situasi global ini, negara-negara muslim dituntut lebih mandiri dan siap menghadapi perubahan. Globalisasi yang semula diprediksi memunculkan persatuan negara-negara dalam bentuk regionalisme kini menghadapi penguatan populisme politik di sejumlah negara yang berbarengan dengan munculnya paradoks globalisasi.
Warga Inggris melalui referendum memilih keluar Uni Eropa, sedangkan Amerika Serikat akan memprioritaskan masalah domestik. ”Terjadi kebalikan dari apa yang diperkirakan ketika globalisasi terjadi. Ini terjadi pada saat bersamaan dengan fenomena dunia yang bergerak dengan cepat dan dinamis untuk mengubah persekutuan antarnegara.
Pergeseran ini akan menyebabkan perubahan peta politik global. Apa dampak dari pergeseran ini terhadap dunia islam ? bagaimana kita memproyeksikan masa depan kawasan Timur tengah dan dunia islam, apakah masih akan diwarnai dengan konflik dan kekerasan atau berakhir dengan perdamaian atau eskalasi konflik dikawasan tersebut justru akan semakin meningkat ?
Menghadapi perubahan ini umat Islam hendaknya memperkuat konsolidasi dan meneguhkan sikap moderat atau washatiyah.
Tantangan Islam moderat di masa mendatang semakin nyata jika dilihat dari situasi global yang kian tidak menentu serta menampakkan hegemoni yang memungkinkan munculnya resistensi kultural yang bersifat radikal dan anarkis. Selain itu kebijakan politik internasional selama ini terus menerus melemahkan posisi umat islam dan menjadikannnya sebagai obyek konflik dan perang asimetris. Hal-hal seperti ini akan turut menghambat kampanye Islam moderat secara global.
Kekuatan Islam Washatiyah (moderat) diyakini merupakan kekuatan yang berada di tengah untuk meredam terjadinya radikalisme dan terorisme atas nama agama. Sikap wahstiyah ini terbukti menjadi alternatif yang akan ditempuh setiap kalangan, baik tingkat lokal maupun global.
Saat ini telah terlihat pihak-pihak yang terlibat konflik yang tentu mengusung radikalisme mulai kelelahan. Baik Barat maupun Timur, kini juga telah memiliki kesadaran untuk segera mengakhiri konflik yang selama ini terjadi. Kecenderungan itu juga terlihat dari kalangan umat beragama yang tak mau lagi simbol agama atau agama itu sendiri digunakan untuk memperkuat hegemoni politik maupun ekonomi. Ini merupakan perkembangan yang menarik di mana kalangan umat Islam, Hindu, Kristen, Budha, dan agama lainnya tak ingin lagi ajaran agamanya dicemari oleh kehendak politik suatu kelompok. Ataupun, digunakan untuk melakukan kegiatan radikal.
Radikalisme yang terjadi baik di tingkat lokal maupun global tak hanya bersifat secara fisik. Tetapi juga bersifat pemikiran. Bahkan, kerusakan yang ditimbulkan radikalisme secara fisik lebih kecil nilainya dibandingkan dengan radikalisme pemikiran.
Dalam menghadapi tantangan kedepan, umat Islam dituntut mengembangkan konsep washatiyah yang komprehensif baik dalam bidang politik, ekonomi , sosial, budaya serta hubungan internasional (politik luar negeri).
Untuk itu Dalam rangka peringatan satu tahun haul Kiai Ahmad Hasyim Muzadi maka dengan ini kami akan menyelenggarakan konferensi internasional dengan Tema : “Tantangan Wasatiyah Menghadapi Perubahan Politik Global”.
The seminar featured speakers from both Indonesia and abroad, including Sheikh Ibrahim Mushtofa Al Buraidi, Secretary-General of the Lebanese League of Scholars; Sheikh Yahya Hussein Al Gibris, spokesperson for the Lebanese League of Scholars; Febrian Ruddyard, Director General of Multilateral Cooperation at the Indonesian Ministry of Foreign Affairs; and Brigadier General Hamli M.E., Director of Prevention at the National Counterterrorism Agency (BNPT).
An international seminar was held in the auditorium on the third floor of the Kulliyatul Qur’an College (STKQ) at the Alhikam Islamic Boarding School in Depok on March 24, 2018, from 9:00 a.m. to 12:00 p.m.
Alhikam Depok
March 23, 2018

