Fenomena Penyebaran Kebohongan di Akhir Zaman: Telaah Hadis Riwayat Imam Muslim

Oleh : Abdul Kodir (Santri Ndeso)
Di tengah derasnya arus informasi pada era digital saat ini, umat Islam dihadapkan pada tantangan besar dalam memilah kebenaran dari kebohongan. Fenomena ini sebenarnya telah diantisipasi oleh Rasulullah SAW melalui berbagai sabda beliau yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis otoritatif. Salah satu yang paling relevan adalah riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya, yang secara eksplisit menyebutkan kemunculan individu-individu di akhir zaman yang menyebarkan narasi yang asing dan tidak dikenal dalam tradisi Islam.
Dalam salah satu riwayat, Rasulullah SAW bersabda:
> وَرَوَى مُسْلِمٌ فِي صَحِيحِهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَيَكُوْنُ فِي آخِرِ أُمَّتِي أُنَاسٌ يُحَدِّثُوْنَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُم
> “Akan ditemukan di zaman akhir dari umatku sekelompok manusia yang senantiasa menceritakan kepada kalian segala sesuatu yang kalian dan juga orang-orang tua kalian tidak pernah mendengarnya. Maka jagalah diri kalian semua, dan waspadailah mereka.” (HR. Muslim)
Hadis ini mengandung peringatan penting bagi umat Islam agar tidak mudah menerima segala bentuk informasi keagamaan yang tidak memiliki landasan dalam ajaran yang diwariskan para ulama terdahulu. Pesan Rasulullah SAW dalam hadis ini menekankan pentingnya sikap selektif, kritis, dan waspada terhadap narasi-narasi yang tidak dikenal oleh generasi salaf.
Dalam riwayat lain, juga dari Shahih Muslim, Rasulullah SAW menegaskan:
> وَفِي صَحِيحِ مُسْلِمٍ أَيْضًا أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَكُوْنُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ، يَأْتُوْنَكُمْ مِنَ الْأَحَادِيثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ، لَا يُضِلَّوْنَكُمْ وَلَا يَفْتِنُوْنَكُم
> “Akan didapati di akhir zaman nanti Dajjal-dajjal yang menebar kebohongan-kebohongan. Mereka datang membawa berita-berita yang kalian dan orang tua kalian tidak pernah mendengarnya. Jagalah diri kalian dan waspadailah mereka. Jangan sampai mereka menjerumuskan kalian, dan jangan pula kalian terfitnah oleh mereka.” (HR. Muslim)
Riwayat ini bahkan lebih tegas. Penyebar kebohongan diibaratkan seperti dajjalun kazzabun (para pendusta menyerupai Dajjal), yang bukan hanya menyebarkan berita palsu, tetapi juga menciptakan fitnah yang dapat mengguncang keimanan umat. Dalam konteks hari ini, hadis ini sangat relevan, mengingat begitu banyaknya klaim keagamaan tanpa validitas ilmiah, yang disebarkan melalui media sosial, mimbar keagamaan, bahkan forum akademik.
Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari, dalam Risalah Ahlussunnah wal Jamaah, juga menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menerima ilmu agama. Beliau mengutip beberapa atsar penting dari para ulama salaf. Di antaranya:
> رَوَى ابْنُ عَسَاكِرَ عَنِ الْإِمَامِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
> “Janganlah engkau menerima ilmu dari ahli bidah, jangan pula dari orang yang tidak diketahui dari mana ia belajar, dan jangan pula dari orang yang terbiasa berdusta di tengah masyarakat, meskipun ia tidak berdusta atas nama Rasulullah SAW.”
> وَرَوَى ابْنُ سِيْرِيْنَ رَحِمَهُ اللهُ : هَذَا الْعِلْمُ دِيْنٌ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِينَكُمْ
“Ilmu ini adalah bagian dari agama. Maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”
> وَرَوَى الدَّيْلَمِيُّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
> “Ilmu adalah agama, dan salat adalah agama. Maka perhatikan dari siapa kalian mengambil ilmu dan bagaimana kalian menunaikan salat. Karena kalian akan ditanya di hari kiamat. Janganlah meriwayatkan ilmu kecuali dari orang yang benar-benar ahli, adil, terpercaya, dan teliti.”
Nasihat-nasihat ini menegaskan bahwa dalam Islam, otoritas keilmuan bukan sekadar soal kepandaian berbicara, melainkan menyangkut integritas pribadi, kejelasan sanad keilmuan, serta kesesuaian dengan prinsip-prinsip akidah dan syariat.
Penutup
Hadis-hadis dan atsar para ulama yang telah dikemukakan merupakan peringatan serius bagi umat Islam agar senantiasa selektif dalam menerima informasi keagamaan, terutama di tengah derasnya gelombang narasi yang tampak Islami namun menyimpang dari substansi ajaran Islam. Memahami agama bukan hanya soal semangat, tetapi juga tanggung jawab intelektual. Karena sebagaimana dikatakan para salaf :
“Ilmu ini adalah agama, maka berhati-hatilah dari siapa kalian mengambilnya.”
(Disarikan dari : Risalah Ahlu Sunnah wal Jamaah , Hadratus Syekh Hasyim Asyari)

