Malang Sambut Satu Abad NU dengan Harmoni Lintas Iman

MALANG – (3/2/2026) Menjelang 7–8 Februari 2026, Kota Malang tidak hanya bersiap menjadi tuan rumah Mujahadah Kubro Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU). Kota ini sedang mempraktikkan satu pelajaran penting tentang bagaimana perbedaan dirawat menjadi kekuatan sosial. Di balik agenda keagamaan berskala nasional itu, Malang tampil sebagai ruang kolaborasi lintas iman, lintas organisasi, dan lintas peran warga.
Dengan proyeksi kehadiran ratusan ribu jamaah di Stadion Gajayana, kesiapan tidak semata diukur dari panggung dan tata acara. Yang diuji justru kemampuan kota mengelola kerumunan besar dengan tertib, manusiawi, dan saling menghormati. Di titik inilah, NU, Muhammadiyah, gereja, dan masyarakat sipil menemukan irama kerjanya.
PCNU Kota Malang memosisikan Mujahadah Kubro sebagai agenda bersama. Konsolidasi jamaah dan pengamanan internal menjadi fokus utama NU. Namun, sejak awal, panitia membuka ruang kolaborasi agar pelayanan publik tidak bertumpu pada satu organisasi saja.
Muhammadiyah Kota Malang menjawab ajakan itu melalui kerja-kerja konkret. Sekolah-sekolah Muhammadiyah difungsikan sebagai titik transit dan ruang rehat jamaah. Masjid-masjid dibuka 24 jam, bukan hanya untuk ibadah, tetapi juga sebagai rumah singgah musafir.
Melalui Aksi-Mu, unsur Kokam, Tapak Suci, dan Hizbul Wathon bergabung dengan Banser NU, bersinergi bersama TNI–Polri dan Satpol PP. Di sisi lain, dapur umum Aisyiyah, layanan Lazismu, relawan kebersihan, dan penunjuk arah bekerja senyap namun menentukan kenyamanan jamaah.
“Yang kami lakukan adalah kerja pelayanan. Ketika jamaah terlayani dengan baik, ibadah menjadi lebih khusyuk,” ujar Sekretaris PDM Kota Malang, Imam Abda’i.
Ketua PDM Kota Malang, Prof Abdul Haris, menegaskan bahwa keterlibatan Muhammadiyah berangkat dari kesadaran kolektif. “Mujahadah Kubro bukan milik satu organisasi. Ini agenda umat, dan kota harus hadir melayani,” katanya.
Dari Konsolidasi hingga Kepedulian
Di tingkat akar rumput, LPBI PCNU Kota Malang menggerakkan puluhan posko relawan. Posko-posko ini menjadi simpul kepedulian: tempat minum, rehat sejenak, dan saling menyapa. Bantuan sederhana—mi gelas, kopi, camilan—dikumpulkan dari warga dan disalurkan langsung kepada jamaah.
Ketua LPBI PCNU Kota Malang, Chilmi Wildan, menyebut posko ini sebagai ruang partisipasi publik. “Ini cara Nahdliyin terlibat langsung, meski dengan hal kecil,” ujarnya.
Wakil Ketua PCNU Kota Malang bidang LPBI, Asif Budairi, menilai justru dari partisipasi kecil itulah kekuatan kolektif lahir. “Sedikit dari banyak orang akan menjadi besar. Di situlah ruh gotong royong NU bekerja,” katanya.

Yang membuat Malang berbeda adalah keterlibatan lintas iman yang nyata. Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) membuka ruang transit jamaah, khususnya dari Surabaya. Bagi GKJW, langkah ini bukan sekadar dukungan teknis, tetapi kelanjutan sejarah panjang kebersamaan dengan NU di Jawa Timur.
Relasi historis itu—dari Tebuireng hingga Mojowarno, dari Gus Dur hingga dialog lintas iman—menemukan bentuk aktualnya dalam kerja kemanusiaan hari ini. Kota menjadi ruang perjumpaan, bukan sekat identitas.
Ketua Panitia Lokal Mujahadah Kubro PCNU Kota Malang, Edy Hayatullah, menilai pembagian peran lintas organisasi ini membuat kota tetap tertib di tengah lonjakan jamaah. “NU mengonsolidasikan jamaah, Muhammadiyah menguatkan layanan publik, gereja membuka ruang. Semua bergerak sesuai perannya,” ujarnya.

Apa yang terjadi di Malang menjelang Harlah Satu Abad NU bukan sekadar persiapan acara. Ini adalah potret kota yang memilih kolaborasi ketimbang kompetisi, pelayanan ketimbang simbolisme. Sekolah berubah menjadi ruang istirahat, masjid menjadi rumah musafir, posko menjadi simpul empati, dan gereja menjadi ruang persaudaraan.
Jika Mujahadah Kubro adalah puncak spiritual, maka harmoni lintas iman yang bekerja di Malang adalah fondasinya. Dari Stadion Gajayana, pesan itu bergema: perbedaan bukan penghalang untuk saling melayani, dan kota bisa menjadi rumah bersama ketika semua mau berbagi peran.




