
Mohamad Anas**
Ada yang berbeda dari suasana pertemuan bersama MWC NU Sukun tadi malam, Rabu, 6 Mei 2026. Dalam bangunan yang menurut saya cukup besar dan megah, meskipun proses pembangunan belum selesai sepenuhnya, terjadi sebuah percakapan yang, semua orang, dapat berbicara jujur untuk membangun jam’iyyah NU di Kota Malang selama lima tahun mendatang.
Tema yang dibawa sederhana namun menyentuh inti: bagaimana NU benar-benar “menarik” di mata warga, bukan sekadar “dilirik” sekilas lalu dilupakan? Pertanyaan ini bukan retorika. Ia lahir dari kegelisahan nyata yang sudah lama menggantung di antara pengurus. Mulai dari tingkat PCNU hingga MWC NU. Kesenjangan antara besarnya potensi organisasi dan sempitnya ruang yang selama ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat menjadi tantangan yang harus dipikirkan solusi penyelesaiannya.
Dalam catatan saya, salah satu topik paling jujur dalam diskusi antara lain soal skala prioritas yang selama ini hampir tidak ditemukan. Selama ini, PCNU kerap menyusun program yang “ambisius”, mencakup banyak sektor sekaligus semisal pendidikan, ekonomi, kesehatan, keagamaan, dan filantropi. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua program itu mendarat dengan sama baiknya.
Para pengurus MWC NU Sukun mengungkapkan keresahan serupa. Meskipun isu yang paling sering muncul adalah tata kelola pendidikan, sebagian dari mereka menyatakan bahwa “kiriman” program dari atas yang belum tentu sesuai dengan kondisi dan kebutuhan riil warga NU di akar rumput. Akibatnya, program tidak berakar. Hadir, namun tidak hidup. Salah satu yang dicontohkan adalah program safari ke masjid-masjid yang dilakukan, proses penentuan masjidnya tidak koordinasi dengan lembaga di bawahnya.
Di sinilah pentingnya PCNU berani menetapkan skala prioritas. Bukan berarti menutup mata terhadap banyaknya kebutuhan umat, tetapi justru karena sumber daya terbatas, pilihan harus dibuat secara sadar dan terukur. Layanan apa yang paling dibutuhkan warga NU di Kota Malang hari ini? Kesehatan dasar? Pendampingan ekonomi? Atau, yang lebih sering dipertanyakan adalah “pendampingan” strategis terhadap sekolah atau madrasah yang terafiliasi dengan NU. Jawaban atas pertanyaan inilah yang seharusnya menjadi kompas arah program, bukan sekadar mengikuti tren atau mengejar citra kelembagaan.
Persoalan kedua yang saya catat adalah minimnya sinkronisasi program antara PCNU dan MWC NU. Ini bukan isu baru bahkan sering juga ditemukan di berbagai tempat lain bahkan juga di ormas lainnya. Sebuah situasi, yang menurut saya, juga sering terjadi di lembaga-lembaga struktural lainnya, tak terkecuali birokrasi pemerintahan. Hanya saja, “pekerjaan rumah” ini selain harus diakui secara terbuka juga perlu dicarikan solusinya. Salah satu peserta menyebut, “jika ini (baca: singkronisasi program) adalah niatan baik, maka harus terus diupayakan agar tidak hanya menjadi wacana”. Satu kesadaran yang terbuka dan evaluatif terhadap kondisi organisasi.
Dalam pengakuan beberapa fungsionaris MWC NU, program PCNU dan program MWC NU selama ini lebih sering berjalan pada rel masing-masing. memang, harus diakui, tidak saling bertabrakan tetapi juga tidak saling menopang. Padahal dalam konstruksi tata organisasi yang ada, MWC NU seharusnya menjadi perpanjangan tangan PCNU. Bukan sekadar struktural, tetapi substansial. Program yang dirancang di tingkat cabang harus memiliki sambungan organik dengan apa yang dikerjakan di level MWC NU, bahkan juga di PRNU.
Saya memaknai sinkronisasi yang diinginkan oleh jajaran MWC NU tidak harus keseragaman. Justru sebaliknya, sinkronisasi yang baik adalah ketika program dari PCNU mampu menjadi payung yang cukup lebar untuk menampung variasi konteks lokal di tiap MWC. Sukun, misalnya, memiliki karakter wilayah perkotaan yang padat, dengan dinamika sosial yang berbeda dari wilayah lain. Program yang relevan di sana belum tentu sama dengan yang relevan di tempat lain.
Selain itu, diskusi juga menyentuh soal yang cukup sensitif yaitu fungsi lembaga-lembaga di bawah struktur NU. Di tingkat PCNU maupun MWC NU, lembaga seringkali hadir secara formal tetapi tidak bergerak secara fungsional. Ada yang pengurusnya terbentuk, plang terpasang, namun program tidak bergerak. Menurut saya ini otokritik yang baik dan perlu dilihat secara jujur. Setidaknya dalam penentuan personalia yang akan “ditugaskan” sebagai fungsionaris lembaga di lingkungan PCNU.
Menurut salah satu peserta FGD menyebut, jika personalia ditentukan secara tepat maka lembaga sesungguhnya bisa dijadikan sebagai eksekutor taktis di lapangan dalam melaksanakan program-program stretegis PCNU. Mereka, lembaga-lembaga ini, bisa didorong menjadi tangan-tangan yang menyentuh langsung persoalan umat. Ketika tangan-tangan ini lumpuh, maka sebesar apapun kepala organisasi berpikir, hasilnya akan tetap nihil di akar rumput.
Muncul gagasan yang paling menggembirakan dari forum adalah soal posisi MWC NU sebagai kanal layanan dasar bagi warga. Gagasan ini sebetulnya juga muncul dalam diksusi sebelumnya di MWC Blimbing. Menurut saya, gagasan semacam ini tampak sederhana, tapi sesungguhnya mengandung pergeseran paradigma “khidmah” yang cukup signifikan.
Mengapa saya sebut demikian? Selama ini, warga datang ke NU untuk urusan keagamaan dan seremonial. Pengajian, tahlilan, peringatan hari besar. Acara seperti ini tetap penting, tentu. Namun, NU sebagai organisasi yang mengklaim mewakili puluhan juta bahkan ratusan juga umat seharusnya mampu hadir dalam urusan yang lebih grounded: bagaimana membantu warga yang kesulitan mengakses layanan kesehatan, bagaimana mendampingi keluarga yang terjerat masalah hukum, bagaimana memfasilitasi usaha kecil warga agar tidak tenggelam dalam jerat pinjaman online? Dan, ini yang paling sering muncul, bagaimana agar madrasah-madrasah NU kembali diminati oleh masyarakat.
NU yang menarik lahir dari NU yang bekerja. Begitulah frasa penutup dari diskusi bersama WWC NU Sukun. Menurut saya, satu kesimpulan yang sepertinya disepakati bersama: NU akan menarik bukan karena kampanye atau branding, melainkan karena ia benar-benar bekerja untuk umat secara nyata, terasa, dan terukur.
Diskusi semacam ini tentu bukan akhir dari segalanya. Hanya satu langkah kecil dalam perjalanan panjang menata khidmah organisasi. Langkah kecil yang jujur. Karena pada akhirnya, NU yang dilirik adalah NU yang menarik. Dan NU yang menarik adalah NU yang hadir bukan hanya dalam struktur, tapi dalam kehidupan warganya. Wallahu a’lam.
**Ketua Lakpesdam NU Kota Malang



