OpiniWarta

Menata Jalan Khidmat, Tak Ada Pilihan Lain!

Oleh: Febri Taufiqurrahman**

Ada organisasi yang besar karena sejarah. Ada pula organisasi yang tetap besar karena mampu membaca zaman. Nahdlatul Ulama selama lebih dari satu abad membuktikan bahwa kebesaran tidak cukup diwariskan, tetapi harus terus dihidupkan melalui khidmat yang relevan dengan kebutuhan umat. Semangat inilah yang saya catat saat diskusi dengan pengurus MWC NU Lowokwaru, Kota Malang.

Ada yang menarik dalam diskusi tersebut. Yang muncul bukan laporan seremonial, melainkan peta masalah yang selama ini tersimpan rapi di bawah jubah formalitas. Sebagai fasilitator diskusi, bersama beberapa orang pengurus Lakpesdam lainnya, saya menyaksikan bagaimana keberanian untuk jujur dikelola dalam forum yang dinamis, kadang tegang, canda tawa, namun tetap produktif. Dan, dari forum tersebut, saya ingin berbagi catatan yang saya kira penting, bukan hanya untuk MWC NU Lowokwaru, tetapi untuk seluruh tubuh NU di akar rumput.

Setelah penjelasan singkat dari tim Lakpesdam NU Kota Malang tentang maksud dari kegiatan, para peserta yang terdiri dari jajaran pengurus Syuriah, Tanfidziyah, Lembaga, dan Banom kemudian dipersilahkan untuk mengutarakan “apapun” tentang peta jalan khidmat NU Kota Malang. Disebut “apapun” untuk merujuk pada kritik-otokritik yang membangun, gagasan-gagasan strategis tentang program regional MWC-PC, atau strategi yang efektif untuk penataan jam’iyyah di semua tingkatan.

Berangkat dari kesadaran bahwa perubahan sosial yang bergerak cepat, pertumbuhan teknologi digital yang nyaris tanpa batas, serta perubahan pola hidup masyarakat urban, forum diskusi ini mengajukan pertanyaan besar: bagaimana NU tetap hadir, bukan sekadar sebagai organisasi keagamaan, tetapi sebagai penggerak?

Bagi sebagian orang, gagasan mengenai peta jalan mungkin terlihat seperti naskah organisasi biasa. Penuh rumusan, strategi, dan arah kebijakan. Namun sesungguhnya, dalam hemat saya, di balik lembaran-lembaran yang dituliskan, tersimpan sebuah kegelisahan yang sangat mendasar: bagaimana menjaga ruh khidmat kepada umat melalui jam’iyyah NU di tengah perubahan zaman yang begitu cepat. Dan, NU Kota Malang harus hadir dan memberikan respon, bukan tanpa alasan.

Kota ini memiliki wajah yang unik. Ia adalah kota pendidikan, tempat ribuan mahasiswa datang dari berbagai penjuru Indonesia. Apalagi, wilayah Lowokwaru merupakan pusat urbanisasi yang cukup besar karena mayoritas Perguruan Tinggi ada di wilayah ini. di Kota Malang kadang juga disebut kota santri, dengan tradisi pesantren yang mengakar kuat. Banyaknya Perguruan Tinggi menuntut perkembangan pesantren yang cukup pesat. Alhasil, Kota Malang tumbuh sebagai kota kreatif dengan dinamika urban yang terus bergerak.

Di sinilah, menurut saya, NU Kota Malang menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Sangat kompleks. Dinamika masyarakat dan jam’iyyah NU di masing-masing wilayah kecamatan sangat berbeda. Namun, satu hal yang dalam hemat saya memiliki kesamaan yaitu fungsionarisnya mayoritas kalangan profesional (guru, dosen, praktisi, dan aparatur sipil) dan pengusaha.

Di Lowokwaru, misalnya, warga-jama’ah NU mayoritas sibuk bekerja. Anak muda lebih banyak belajar melalui media sosial daripada majelis taklim. Tradisi dan identitas keagamaan bertemu dengan arus globalisasi, individualisme, bahkan krisis makna. Oleh sebab itu, NU Kota Malang tidak cukup hanya mengelola struktur. NU harus membangun gerakan.

Langkah pertama dimulai dari sesuatu yang paling mendasar, yaitu, kaderisasi. Membangun peta jalan jam’iyyah harus bertumpu pada lahirnya tiga sosok sekaligus: ulama intelektual, intelektual pesantren, dan organisator yang matang. Karena tantangan hari ini tidak lagi sebatas persoalan ubudiyyah, tetapi juga menyentuh isu kecerdasan buatan, ekonomi digital, media sosial, lingkungan hidup, hingga kesehatan mental generasi muda. Artinya, warga NU, terutama kader-kader mudanya, tidak cukup hanya pandai membaca kitab. Mereka juga harus mampu membaca zaman.

Namun NU sadar, kekuatan organisasi tidak pernah benar-benar berada di kantor cabang. Kekuatan sejati NU selalu lahir dari bawah. Saya melihat, ada di MWC NU. Karena itu, salah satu gagasan paling menarik dalam peta jalan ini adalah menjadikan MWC NU sebagai pusat khidmat. Bukan sekadar tempat rapat rutin atau pengajian tahlil, tetapi pusat pelayanan umat. Saya membayangkan setiap MWC NU memiliki data jamaah, layanan sosial, unit ekonomi, kader muda aktif, serta ruang kreativitas bagi generasi baru. Kantor-kantor NU, terutama di MWC, tidak lagi hidup hanya saat musyawarah atau momentum politik, tetapi menjadi episentrum perubahan sosial di tingkat akar rumput.

Gagasan ini terasa sangat relevan dengan karakter Kota Malang yang heterogen.  Di kawasan tertentu, ranting berbasis pesantren dengan kultur keagamaan yang kuat masih menjadi benteng tradisi. Di kawasan perumahan dan pusat kota, muncul ranting urban dengan jamaah keluarga muda yang lebih fleksibel. Di sekitar kampus, NU bertemu dengan mahasiswa, diskusi intelektual, dan pertarungan gagasan yang berlangsung nyaris setiap hari. Sementara di wilayah pinggiran, ranting tetap menjadi ruang solidaritas sosial dan pemberdayaan ekonomi warga.

Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa NU Kota Malang tidak lagi memandang ranting secara administratif semata, tetapi secara sosiologis. Dan, itu penting. Sebab masyarakat hari ini tidak bisa lagi didekati dengan satu pola yang sama. Namun, NU Kota Malang juga memahami bahwa masa depan tidak hanya dibangun dengan pengajian dan kaderisasi. Ekonomi menjadi agenda yang tak bisa ditunda.

Dalam peta jalan itu, NU didorong untuk melakukan berbagai upaya maksimal untuk kemaslahatan ummah. Salah satu internal pengurus sering menyebut, ishlahiyyatul ummah, himayatul ummah, dan taqwiyyatul ummah. Intinya, NU tidak boleh hanya besar secara massa, tetapi lemah secara ekonomi. Begitu pula dalam ruang digital.

Semua itu kemudian bermuara pada satu kesadaran besar: organisasi sebesar NU tidak cukup hanya kuat tradisi. Ia juga harus kuat sistem. Digitalisasi administrasi, database jamaah, audit program, transparansi, dan regenerasi kepemimpinan menjadi fondasi baru yang sedang disiapkan. Sebab organisasi yang ingin hidup panjang harus mampu menggabungkan kearifan tradisi dengan profesionalisme modern.

Pada akhirnya, rumusan tentang peta jalan khidmat NU Kota Malang bukan sekadar isapan jempol. Ia adalah cermin kegelisahan sekaligus keberanian. Kegelisahan karena zaman terus berubah. Dan, keberanian karena NU memilih untuk tidak sekadar bertahan, tetapi memimpin perubahan. Tak ada pilihan lain!

** Pengurus Lakpesdam NU Kota Malang dan Dosen Universitas Negeri Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button