ArtikelOpini

MENJAGA NU: Antara Khidmah, Kekuasaan, dan Amanah Umat

H. Fatchullah, SH
Mustasyar PCNU Kota Malang 

EPISODE III – SETELAH MUKTAMAR, NU HARUS BAGAIMANA?

Muktamar pada akhirnya akan selesai.

Para kandidat akan kembali ke rumah masing-masing.

Peserta akan meninggalkan arena.

Spanduk akan diturunkan.

Sorak-sorai akan berhenti.

Tetapi NU harus tetap hidup.

Karena itu, siapa pun yang kelak menerima amanah kepemimpinan NU tidak boleh merayakan hasil Muktamar sebagai kemenangan pribadi.

Pihak yang belum terpilih bukan musuh.

Pendukung bukan kelompok yang harus dibayar dengan jabatan.

Dan jabatan bukan hadiah untuk membalas jasa politik.

Pemimpin NU harus mempersatukan, bukan membalas.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mestinya menjadi cermin bagi siapa pun yang ingin memimpin.

Sebelum menghitung berapa banyak dukungan yang diperoleh, hitunglah berapa banyak amanah yang akan dipikul.

Sebelum berpikir siapa yang harus diberi posisi, pikirkan siapa yang harus dilayani.

Sebelum merayakan kemenangan, pikirkan bagaimana menyembuhkan kemungkinan luka akibat kontestasi.

Sebab pemimpin yang berhasil bukan hanya pemimpin yang mampu memenangkan pemilihan.

Pemimpin yang berhasil adalah yang mampu memenangkan kembali hati mereka yang berbeda pilihan.

NU harus tetap menjadi rumah yang teduh bagi semua.

Rumah para ulama.

Rumah pesantren.

Rumah jamaah.

Rumah pendidikan.

Rumah pengabdian.

Dan dalam konteks Indonesia, rumah yang ikut menjaga moral kehidupan kebangsaan.

Kita boleh berbeda pilihan.

Boleh berbeda pandangan.

Boleh mengkritik.

Tetapi kecintaan kepada NU tidak boleh tawar-menawar.

Jangan sampai NU kuat secara struktur tetapi rapuh secara moral.

Jangan sampai besar secara politik tetapi kehilangan kedalaman spiritual.

Jangan sampai dekat dengan kekuasaan tetapi jauh dari jamaah.

Jangan sampai megah di pusat tetapi sepi di akar rumput.

NU harus besar tanpa kehilangan jiwa.

Akar sejarahnya panjang. Pesantrennya kokoh. Ulamanya masih menjadi rujukan. Jamaahnya sangat besar. Semua itu adalah modal sosial yang tidak ternilai.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk mencari keridaan Kami, sungguh akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.”

(QS. al-‘Ankabut: 69)

Maka pesan kita sederhana.

Jadikan NU sebagai jalan pengabdian, bukan kendaraan kekuasaan.

Jadikan jamaah sebagai amanah yang dilayani, bukan massa yang dimanfaatkan.

Jadikan jabatan sebagai sarana memperluas khidmah, bukan tujuan pragmatis.

Dan kepada siapa pun yang menerima amanah kepemimpinan NU:

Menanglah tanpa membeli.

Memimpinlah tanpa membalas.

Berjuanglah tanpa membenci.

Berkhidmahlah tanpa pamrih.

Sebab keberhasilan sebuah Muktamar bukanlah ketika seseorang berhasil menduduki jabatan.

Keberhasilannya adalah ketika marwah jam’iyah tetap terjaga, ulama tetap dimuliakan, jamaah tetap terayomi, ukhuwah tetap terpelihara, pesantren semakin kuat, dan NU semakin memberi manfaat bagi agama, bangsa, dan negara.

Kita mungkin hanya sebentar berada di rumah besar NU ini.

Tetapi jangan karena kita tinggal sebentar, rumah yang diwariskan para muassis kepada kita justru kita rusak untuk generasi sesudah kita.

Menjaga NU berarti menjaga amanah.

Menjaga amanah berarti menjaga umat.

Menjaga umat berarti menjaga agama dan masa depan bangsa.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Periksa Juga
Close
Back to top button