Warta

HM. Yahya Sugeng: Kader NU Harus Berilmu, Berakhlak, Berorganisasi, dan Berkhidmah

MALANG – (18/7/2026) Semangat membangun kader muda Nahdlatul Ulama yang berilmu, berakhlak, berorganisasi, dan berkhidmah menjadi pesan utama yang disampaikan HM. Yahya Sugeng Winarto, M.Pd. Wakil Sekretaris PCNU Kota Malang dalam kegiatan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PAC IPNU) Kecamatan Sukun, Sabtu (18/7/2026), di Pondok Pesantren Nurul Ulum, Kacuk, Kebonsari, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Kegiatan yang diikuti oleh 50 peserta, terdiri atas murid dan santri MA Nurul Ulum Kacuk Sukun, ini menjadi gerbang awal kaderisasi IPNU untuk menanamkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah serta memperkuat semangat pengabdian kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam kesempatan tersebut, HM. Yahya Sugeng Winarto hadir sebagai pemateri Ke-NU-an dengan mengusung tema “Ber-NU: Melanjutkan Perjuangan Ulama, Menguatkan Ahlussunnah wal Jamaah, dan Berkhidmah untuk Umat, Bangsa, serta Negara.” Materi yang disampaikan bertujuan memperkuat pemahaman peserta mengenai sejarah Nahdlatul Ulama, prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah, nilai-nilai dasar warga NU, hingga pentingnya pengabdian dalam organisasi.

Dalam paparannya, beliau menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama merupakan jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang didirikan oleh Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari bersama para masyayikh pada 16 Rajab 1344 H atau 31 Januari 1926 M sebagai ikhtiar menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah sekaligus melanjutkan perjuangan dakwah Rasulullah SAW, para sahabat, para ulama, hingga Wali Songo di Nusantara.

Menurutnya, menjadi warga Nahdlatul Ulama bukan sekadar memiliki identitas organisasi, melainkan sebuah komitmen untuk menjaga ajaran Islam yang moderat, menghormati ulama, memperkuat persaudaraan, serta mengabdikan diri kepada agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
“Setiap kader NU, khususnya kader IPNU, harus memiliki empat pilar utama, yaitu berilmu, berakhlak, berorganisasi, dan berkhidmah. Inilah bekal untuk melanjutkan perjuangan para ulama sekaligus menjawab tantangan zaman,” tegas HM. Yahya Sugeng Winarto.

Beliau juga menguraikan bahwa warga Nahdlatul Ulama berpegang teguh pada prinsip Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah dengan mengamalkan nilai-nilai Tawassuth (moderat), Tawazun (seimbang), Tasamuh (toleran), I’tidal (adil), dan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Nilai-nilai tersebut menjadi pedoman dalam menjalankan kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Selain membahas sejarah dan prinsip dasar NU, peserta Makesta juga dibekali pemahaman mengenai fadilah ber-NU, pentingnya menjaga sanad keilmuan para ulama, serta melestarikan amaliah Nahdliyin seperti tahlil, yasinan, istigasah, maulid, shalawat, dan ziarah kubur sebagai bagian dari tradisi keislaman yang telah diwariskan para ulama.

Cak Geng panggilan akrabnya menegaskan bahwa Makesta merupakan gerbang awal proses kaderisasi di lingkungan IPNU. Oleh karena itu, para peserta diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi terus belajar, aktif berorganisasi, memperkuat akhlak, dan meningkatkan semangat pengabdian kepada masyarakat.
“Makesta bukan sekadar pelatihan, tetapi awal perjalanan menjadi kader Nahdlatul Ulama yang memiliki loyalitas, integritas, dan semangat khidmah. Jadilah kader yang menghormati ulama, mencintai bangsa, menjaga persatuan, serta mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat,” pesannya. (SW)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button