Rais Syuriah PCNU Kota Malang: Anak Yatim Memiliki Kesempatan Menjadi Pemimpin Besar seperti Rasulullah SAW

MALANG – (12/7/2026) Kepedulian terhadap anak yatim tidak hanya bernilai sosial, tetapi juga merupakan ajaran yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Pesan tersebut disampaikan Rais Syuriah PCNU Kota Malang, Prof. Dr. Kasuwi Saiban, dalam Festival Muharram dan Santunan Anak Yatim yang diselenggarakan NU CARE-LAZISNU PCNU Kota Malang di Aula Lantai 3 Kantor PCNU Kota Malang, Ahad (12/7/2026).
Mewakili jajaran Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, Prof. Kasuwi mengawali sambutannya dengan menyampaikan apresiasi kepada Wali Kota Malang beserta seluruh tamu undangan, panitia, donatur, relawan, dan seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Wali Kota Malang yang telah berkenan hadir, kepada seluruh panitia, para donatur, serta semua pihak yang telah menjadi bagian dari kegiatan penuh berkah ini. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan yang telah diberikan,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Prof. Kasuwi memberikan motivasi kepada ratusan anak yatim yang hadir agar tidak pernah merasa rendah diri dengan keadaan yang mereka alami. Menurutnya, sejarah telah membuktikan bahwa seorang anak yatim dapat tumbuh menjadi sosok yang mampu membawa perubahan besar bagi umat manusia.
Ia mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW merupakan seorang yatim sejak usia belia. Meski kehilangan ayah sebelum dilahirkan dan ibu saat masih kecil, Rasulullah justru tumbuh menjadi manusia terbaik yang memimpin umat, membangun peradaban, serta menghadirkan nilai-nilai keadilan, kasih sayang, dan kemanusiaan.
“Jangan pernah berkecil hati karena menjadi anak yatim. Rasulullah SAW adalah teladan terbesar kita. Beliau adalah anak yatim yang kemudian menjadi pemimpin umat Islam, pemimpin negara, dan membawa perubahan besar bagi dunia. Itu menunjukkan bahwa setiap anak yatim memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pribadi yang mulia dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat,” tutur Prof. Kasuwi.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus memperkuat kepedulian terhadap anak yatim sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam. Menurutnya, memuliakan anak yatim bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi merupakan ibadah yang dijanjikan balasan istimewa oleh Allah SWT.
Prof. Kasuwi kemudian mengutip sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari:
“Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini.” Lalu Rasulullah SAW mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah dengan sedikit merenggangkannya. (HR. Bukhari).
Ia menjelaskan bahwa isyarat tersebut menunjukkan begitu dekatnya kedudukan orang yang memelihara dan menyayangi anak yatim dengan Rasulullah SAW di surga kelak.
Mengutip penjelasan ulama besar Ibnu Hajar al-Asqalani, Prof. Kasuwi menerangkan bahwa perbedaan derajat antara Rasulullah SAW dan orang yang memelihara anak yatim diibaratkan seperti jarak antara jari telunjuk dan jari tengah—berdekatan, namun tetap menunjukkan kemuliaan Rasulullah sebagai manusia pilihan Allah.
“Hadis ini menjadi motivasi bagi kita semua agar tidak pernah lelah menyantuni, mendidik, dan membimbing anak-anak yatim. Kepedulian kepada mereka adalah investasi amal yang luar biasa di sisi Allah SWT,” jelasnya.
Menurut Prof. Kasuwi, kegiatan Festival Muharram yang digagas NU CARE-LAZISNU PCNU Kota Malang menjadi bukti bahwa nilai kasih sayang dan kepedulian sosial terus hidup di tengah masyarakat. Ia berharap gerakan santunan anak yatim tidak berhenti pada momentum Muharram, tetapi menjadi budaya bersama yang terus dijaga sepanjang tahun.
“Semoga anak-anak yatim yang hadir hari ini tumbuh menjadi generasi yang saleh, cerdas, berakhlak mulia, dan kelak menjadi pemimpin-pemimpin yang membawa manfaat bagi umat, sebagaimana Rasulullah SAW telah memberikan teladan terbaik bagi seluruh manusia,” pungkasnya. [al]




