Warta

Mujahadah Kubro Satu Abad NU Jadi Ujian Manajemen Jamaah Terbesar di Jawa Timur

MALANG – (6/2/2026) Gelaran Mujahadah Kubro sebagai puncak peringatan Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) di Stadion Gajayana, Malang, dipastikan menjadi salah satu peristiwa keagamaan terbesar di Jawa Timur pada 2026. Hingga dua hari menjelang pelaksanaan, jumlah jamaah yang terdaftar telah menembus angka 104 ribu orang, mencerminkan antusiasme luar biasa warga Nahdliyin dari berbagai daerah.

Lonjakan kehadiran ini menempatkan panitia dan aparat pada tantangan serius: bagaimana mengelola kerumunan ratusan ribu orang secara aman, tertib, dan tetap khidmat. Data yang dihimpun PWNU Jawa Timur menunjukkan jamaah datang dengan lebih dari seribu armada bus serta ribuan kendaraan pribadi, yang seluruhnya diatur dalam sistem zonasi berlapis.

Sekretaris PWNU Jawa Timur, DR HM Faqih, menjelaskan bahwa skema pengaturan jamaah dirancang sejak awal agar pergerakan massa tidak terkonsentrasi di satu titik. Sembilan zona kedatangan disiapkan, masing-masing dengan penanggung jawab dari PWNU dan koordinator rombongan di tingkat lokal.

“Ini bukan sekadar acara besar, tetapi operasi pelayanan jamaah skala massif. Semua pergerakan kami tata agar tidak terjadi penumpukan dan tetap terkendali,” ujarnya.

Kapasitas Stadion Gajayana sendiri menjadi perhatian utama. Secara teknis, tribun stadion hanya mampu menampung sekitar 35 ribu orang. Karena itu, panitia menerapkan konsep ibadah terdistribusi, dengan memaksimalkan area luar stadion hingga radius beberapa kilometer.

Ketua Panitia Harlah Satu Abad NU PWNU Jawa Timur, Prof. Masykuri Bakri, menyebut videotron menjadi solusi utama agar jamaah di luar stadion tetap dapat mengikuti Mujahadah Kubro secara khusyuk.

“Jamaah tidak harus berada di dalam stadion. Dengan videotron di berbagai titik, mereka tetap bisa mengikuti rangkaian mujahadah dengan tertib,” jelasnya.

Dari sisi pengamanan, PWNU Jawa Timur mendapatkan dukungan penuh dari Polda Jatim, Kodam, serta Dinas Perhubungan. Sinergi ini mencakup pengamanan kegiatan, rekayasa lalu lintas, hingga pengaturan arus masuk dan keluar jamaah selama dua hari pelaksanaan.

Mujahadah Kubro sendiri merupakan puncak dari rangkaian panjang peringatan Satu Abad NU yang telah digelar sejak Januari 2026. Sejumlah agenda intelektual, spiritual, budaya, hingga ekonomi dilaksanakan di berbagai daerah, mulai dari sarasehan pesantren, ziarah muassis NU, hadrah, pameran seni, hingga festival ekonomi warga.

Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, DR Hakim Jayli, menegaskan bahwa rangkaian kegiatan tersebut mencerminkan wajah NU yang menyatu dengan kehidupan masyarakat.

“Harlah ini bukan hanya seremonial, tetapi penguatan ekonomi warga, pemberdayaan UMKM, dan penyiapan generasi muda NU agar adaptif dengan zaman,” ujarnya.

Salah satu agenda yang menyita perhatian adalah Festival NUConomic dan GenZINU yang digelar di Kampung Coklat, Blitar. Kegiatan ini memadukan pameran ekonomi warga, pendampingan UMKM, hingga kompetisi digital berbasis kecerdasan buatan bagi generasi muda NU.

Koordinator Festival GenZINU, Prof. HM Noor Harisudin, menilai pendekatan ini penting untuk menjaga kesinambungan tradisi dan inovasi di tubuh NU.

“Pesantren dan tradisi tetap dirawat, tetapi generasi muda juga harus siap dengan tantangan teknologi digital. Keduanya tidak perlu dipertentangkan,” jelasnya.

Dengan jumlah jamaah yang terus bertambah, Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Malang tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga cerminan kapasitas organisasi NU dalam mengelola agenda besar secara sistematis. Lebih dari sekadar peringatan usia, peristiwa ini menjadi etalase kekuatan sosial, budaya, dan manajerial Nahdlatul Ulama di abad keduanya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button