Pemberdayaan Pesantren Melalui Pelatihan Pengelolaan Sampah yang Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan
MALANG – (1/7/2025) Pada tahun 2025, Kota Malang menghadapi tantangan signifikan dalam pengelolaan sampah seiring dengan pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi yang meningkat. Volume sampah harian mengalami peningkatan signifikan, sehingga menuntut perubahan pola pengelolaan dan ketersediaan fasilitas pemrosesan sampah yang memadai. Saat ini, Pemerintah Kota Malang telah menunjukkan komitmen kuat dalam penanganan sampah. Selain pembangunan TPST, revitalisasi tujuh Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di berbagai titik kota dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi penumpukan sampah dan meningkatkan kualitas lingkungan.

Di sisi lain, kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah juga masih menjadi tantangan. Meskipun sudah ada Peraturan Daerah Nomor 07 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah, tingkat partisipasi masyarakat dalam memilah dan membuang sampah pada tempatnya masih rendah. Sebagai upaya berkontribusi pada persoalan penanganan sampah tersebut, tim pengabdian masyarakat dosen FISIP Universitas Brawijaya, yang terdiri dari Tri Hendra Wahyudi, sebagai ketua pelaksana, Romel Masykuri dan Fajar Shodiq Ramadlan sebagai anggota, mengadakan kegiatan pelatihan pengelolaan sampah yang menyasar masayarakat Kota Malang. Pada pelatihan kali ini, difokuskan kepada santri dan pengurus pondok pesantren di wilayah Kota Malang.
Program pengabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh tim dosen FISIP Universitas Brawijaya bekerja sama dengan Lakpesdam NU Kota Malang, Pondok Pesantren Al-Hikam, serta lembaga pegiat pengelolaan sampah di Kota Malang, iLitterless Indonesia. Kegiatan ini melibatkan 30 orang peserta, yakni para santri dan pengurus beberapa pondok pesantren yang ada di Kota Malang. Kegiatan dilaksanakan pada hari Selasa, taggal 1 Juli 2025, bertempat di Perpustakaan Pondok Pesantren Al-Hikam, Lowokwaru, Kota Malang.
Tri Hendra, ketua pelaksana kegiatan mengatakan, “bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para santri mengenai pengelolaan sampah berkelanjutan dan bernilai ekonomis. Sehingga, tak hanya meningkatkan kesadaran, namun juga bisa mengimplementasikan sistem pengelolaan sampah yang efektif di lingkungan pondok pesantren masing-masing”.
Dengan pencapaian target tersebut, diharapkan program pengabdian masyarakat ini tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi pondok pesantren yang terlibat, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pengetahuan dan praktik terbaik dalam pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan di Kota Malang.
Sebagai perwakilan pengelola pondok pesantren Al-Hikam, Ustadz Nurcholis menyambut baik kegiatan ini. Menurutnya ini adalah upaya mensinergikan berbagai Lembaga Pendidikan dan pegiat social, dalam rangka menyelesaikan persoalan social di pondok pesantren.
Pelatihan ini dimulai dengan materi dasar tentang pemahaman peserta terhadap persoalan sampah, yang disampaikan oleh Mayedha Adifirsta, selaku co-founder iLitterless Indonesia. Mayedha mengatakan “Permasalahan kita selama ini, adalah belum ada kesadaran untuk mengolah sampah secara mandiri yang setiap hari kita hasilkan. Akhirnya semua menumpuk di tempat pemrosesan akhir (TPA). Ada 60% sampah organic dan 40% sampah anorganik. Sampah ini menghasilkan gas metan, yang merusak lapisan ozone. Sampah juga menghasilkan air beracun yang meresap ke tanah. Sehingga sumber air kita tercemar sampah. Air itulah yang kita gunakan untuk minum. Itulah alasan mendasar sehingga kita perlu memulai upaya mandiri pengelolaan sampah.”
Pada sesi selanjutnya, diisi oleh Zainul Ridwan selaku aktivis iLitterless Indonesia. Zainul, yang juga pernah mengenyam Pendidikan di pondok pesantren ini, melakukan kegiatan simulasi pengelolaan sampah di pesantren. Sesi ini menggunakan metode partisipatif yang melibatkan peran aktif semua peserta pelatihan. Peserta diminta mengidentifikasi jenis sampah di sekitarnya, kemudian menyusun project yang akan dilaksanakan di pondok pesantren masing-masing. Dengan simulasi ini, diharapkan peserta tidak hanya memiliki pengetahuan yang mumpuni soal pengelolaan sampah, melainkan juga memperoleh keterampilan praktis yang bisa diaplikasikan.




