Warta

Prof. Kasuwi: Zakat adalah Urusan Umat, Digitalisasi Harus Dipercepat

MALANG – (29/6/2025) Wakil Rais Syuriah PCNU Kota Malang sekaligus Ketua BAZNAS Kota Malang, Prof. Dr. H. Kasuwi Syaiban, MA., menegaskan pentingnya zakat sebagai pilar utama dalam memperkuat fondasi sosial dan ekonomi umat. Hal ini disampaikan dalam sambutannya saat menghadiri Workshop Digitalisasi LAZISNU yang digelar NU Care-LAZISNU Kota Malang bersama FISIP Universitas Brawijaya, Ahad (29/6/2025).

Mengawali sambutannya, Prof. Kasuwi mengutip salah satu ayat penting dalam Al-Qur’an:

“Khudz min amwâlihim shadaqatan tuthahhiruhum wa tuzakkîhim bihâ…”
(Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka). (QS. At-Taubah: 103)

Menurutnya, ayat ini menjadi fondasi spiritual sekaligus moral dalam pengelolaan zakat. Zakat bukan sekadar kewajiban individual, tetapi menjadi instrumen strategis dalam membangun kepercayaan sosial, memperkuat solidaritas, dan memperbaiki distribusi ekonomi umat.

“Zakat ini bukan hanya perkara ibadah ritual, tetapi menyangkut kemaslahatan umat. Nabi Muhammad SAW sendiri lebih dari tiga dekade memfokuskan dakwahnya untuk membangun ekonomi umat agar mandiri, taat, dan bermartabat,” tegas Prof. Kasuwi.

Dalam konteks modern, ia menekankan pentingnya digitalisasi dalam pengelolaan zakat. Ia menyebut bahwa era digital menuntut kecepatan, akurasi, dan efisiensi, serta membuka peluang optimalisasi penghimpunan dan distribusi dana umat secara lebih profesional.

“Kita ini sedang memasuki era percepatan. Tidak bisa lagi menggunakan cara-cara manual. LAZISNU sudah punya aplikasi digital seperti Nukita. Itu harus dimaksimalkan. Kita harus berpikir cepat, cermat, dan berani menangkap peluang, terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat—termasuk kalangan pegawai di Kota Malang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Prof. Kasuwi juga mengingatkan bahwa di tengah persaingan lembaga-lembaga zakat yang semakin kompetitif, kualitas layanan dan branding menjadi sangat krusial. Kepercayaan publik hanya dapat dibangun jika lembaga tampil profesional dan transparan.

“Trust itu kunci. Jangan kalah dengan lembaga lain. Kita ini mengurusi urusan umat. Kalau tidak profesional, maka umat akan pindah ke lembaga lain. Maka, LAZISNU harus terus meningkatkan kualitas program, memperbaiki sistem, dan membangun citra lembaga yang kuat,” ujarnya penuh semangat.

Prof. Kasuwi juga mengapresiasi langkah NU Care-LAZISNU Kota Malang yang terus berinovasi dan menggandeng perguruan tinggi dalam penguatan kelembagaan. Kolaborasi ini menurutnya bukan hanya strategis, tapi menjadi bagian dari ikhtiar bersama membangun ekosistem zakat yang adaptif terhadap tantangan zaman.

“Saya mengapresiasi kolaborasi dengan FISIP Universitas Brawijaya. Ini penguatan sinergi antara akademisi dan praktisi. Harapan saya, kerja sama ini terus berlanjut dan bisa memperluas dampaknya,” katanya.

Menutup sambutannya, Prof. Kasuwi menyoroti pentingnya melibatkan generasi muda dalam gerakan zakat.

“Anak muda harus dilibatkan. Mereka punya potensi besar, energinya tinggi, dan familiar dengan teknologi. Kalau kita ingin LAZISNU ini melesat, maka jangan abaikan peran anak muda,” pungkasnya. (al)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button