EventWarta

Ziarah Alim Ulama, PCNU Kota Malang Ajak Nahdliyin Rawat Warisan Perjuangan Muassis NU

MALANG – (18/10/2026)  Jasa para ulama dalam membangun Nahdlatul Ulama di Kota Malang menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan keagamaan dan kemasyarakatan yang perlu terus dikenang oleh generasi penerus. Melalui keteladanan, pengabdian, dan perjuangan mereka, NU tumbuh menjadi ruang khidmat bagi umat sekaligus berkontribusi dalam perjalanan bangsa Indonesia. Semangat meneruskan warisan perjuangan tersebut menjadi pesan penting dalam kegiatan Ziarah Alim Ulama Kota Malang yang diselenggarakan dalam rangkaian peringatan Kick Off Hari Santri Nasional 2026.

Kegiatan ziarah ini menjadi momentum bagi warga Nahdliyin untuk mengenang jasa para kiai dan muassis Nahdlatul Ulama yang telah meletakkan fondasi perjuangan organisasi. Ziarah dijadwalkan diawali dari Pondok Pesantren Al-Hikam, Suflat, Kedungkandang, kemudian berlanjut ke sejumlah lokasi hingga kawasan Kasin, Kota Malang.

Ziarah tidak sekadar menjadi tradisi untuk mendoakan para ulama yang telah wafat, tetapi juga ruang refleksi untuk memahami kembali nilai-nilai perjuangan yang mereka wariskan. Keteladanan para ulama dalam mengembangkan pendidikan, membimbing masyarakat, memperkuat persaudaraan, dan menjaga kehidupan keagamaan menjadi bagian dari warisan yang perlu dirawat oleh generasi Nahdliyin.

Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Malang, Dr. KH. Isroqunnajah, M.Ag., mengajak warga Nahdliyin menjadikan peringatan Hari Santri Nasional sebagai momentum untuk mengenang perjuangan ulama dan santri sekaligus memperkuat pengabdian kepada umat dan bangsa.

Pesan tersebut sejalan dengan semangat ziarah alim ulama, yakni menempatkan sejarah bukan hanya sebagai kenangan masa lalu, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk menjalankan khidmat pada masa kini. Menurut Gus Is, sapaan akrab KH. Isroqunnajah, jasa para kiai dan muassis NU perlu terus dikenang karena perjuangan mereka telah memberikan kontribusi besar bagi perkembangan organisasi, kehidupan umat, dan perjalanan bangsa Indonesia.

Perjuangan ulama dan santri juga tidak dapat dipisahkan dari sejarah kemerdekaan Indonesia. Resolusi Jihad yang dicetuskan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945 menjadi salah satu tonggak penting yang menggerakkan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan. Semangat tersebut memperlihatkan bahwa pengabdian keagamaan dan tanggung jawab kebangsaan berjalan beriringan dalam sejarah perjuangan NU.

Nilai perjuangan itu relevan untuk terus dihidupkan, termasuk di lingkungan NU Kota Malang. Para ulama terdahulu telah memberikan teladan melalui pengabdian yang tidak hanya berorientasi pada kepentingan pribadi, tetapi juga pada pendidikan, pembinaan umat, penguatan solidaritas sosial, dan kemaslahatan masyarakat.

Dalam konteks peringatan Hari Santri Nasional 2026, ziarah alim ulama menjadi pengingat bahwa keberlanjutan NU bergantung pada kesediaan generasi penerus untuk merawat nilai dan meneruskan perjuangan para pendahulu. Tradisi ini menghubungkan warga Nahdliyin dengan sejarah para ulama yang telah mencurahkan tenaga, pemikiran, dan pengabdiannya bagi umat.

Mengenang jasa para ulama berarti berusaha meneladani nilai-nilai yang mereka ajarkan. Semangat keilmuan perlu diteruskan melalui penguatan pendidikan; kepedulian terhadap masyarakat diwujudkan dalam kegiatan sosial; sedangkan persaudaraan dirawat melalui kerja sama dan solidaritas di tengah kehidupan bermasyarakat.

Pesan tersebut juga menegaskan pentingnya kekompakan komunal yang menjadi salah satu kekuatan Nahdlatul Ulama. Hubungan yang erat antara kiai, pengurus, kader, dan masyarakat merupakan modal untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah serta membangun kehidupan umat yang lebih baik.

Karena itu, ziarah tidak berhenti pada kunjungan ke makam para alim ulama. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan menumbuhkan kesadaran bahwa perjuangan para pendahulu perlu dilanjutkan melalui tindakan nyata yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat masa kini.

Peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang digelar PCNU Kota Malang menjadi ruang untuk mempertemukan penghormatan terhadap sejarah dengan penguatan tanggung jawab generasi sekarang. Jika para ulama dan santri terdahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan serta membangun fondasi kehidupan umat, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk melanjutkannya melalui pendidikan, dakwah, pemberdayaan masyarakat, dan pengabdian sosial.

Melalui kegiatan ziarah alim ulama, warga Nahdliyin diajak merawat ingatan kolektif tentang perjuangan para pendahulu sekaligus memperkuat komitmen untuk meneruskan khidmat mereka. Warisan ulama tidak cukup dikenang dalam doa dan seremoni, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap, karya, dan kontribusi yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Dengan demikian, ziarah alim ulama menjadi bagian dari ikhtiar PCNU Kota Malang untuk meneguhkan kembali nilai perjuangan, mempererat persaudaraan, dan menghidupkan semangat pengabdian. Mengenang para ulama pada akhirnya berarti menjaga agar perjuangan mereka tetap berlanjut dalam upaya membangun umat yang berilmu, berdaya, bersatu, dan berkontribusi bagi bangsa. [al]

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button