WartaArtikelOpini

Tiga Wajah di Spanduk NU, dan Nama-nama yang Jarang Disebut

Oleh: Abdur Rahim (Sekretaris Lakpesdam NU Kota Malang 2022-2027)

Seusai rutinan bulanan di kantor NU, dua kiai menghampiri saya. Satu dari jajaran Syuriyah, satunya lagi dari Tanfidziyah. Pertanyaan mereka membuat forum kecil kami mendadak sunyi.

“Mulai kapan pendiri NU hanya tiga orang?” tanya yang pertama. Kiai yang lain menimpali, “Bukannya pendirinya banyak masyayikh lain, gih? Saya juga pernah dengar, nama KH Bisri Syansuri tidak termasuk muassis NU.”

Saya menunggu ada yang menjawab. Tidak ada. Sebagian mungkin sungkan, sebagian lain memang belum tahu. Akhirnya saya bicara, tetapi jawaban saya hari itu belum memuaskan. Tulisan ini adalah upaya melunasinya.

Dua kiai itu, saya kira, tidak sedang menggugat siapa-siapa. Beliau berdua hanya bertanya hal yang semestinya mudah dijawab oleh organisasi yang usianya sudah lebih dari seabad.

Mari mulai dari yang paling kasatmata. Di backdrop, spanduk, hingga pamflet Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), tiga wajah bersorban hampir selalu tampil bersama: Hadratusysyekh KH M. Hasyim Asy’ari, KH A. Wahab Hasbullah, dan KH Bisri Syansuri. Orang menyebutnya trisula NU dari Jombang. Ada pula yang menyebut triumvirat NU dari Jombang. Saya tidak tahu persis kapan gambar ini mulai baku, tetapi lebih dari satu dekade terakhir ada di mana-mana, dan harus diakui, teduh dipandang.

Soal Mbah Bisri dulu, sebab itu yang ditanyakan. Rujukan sejarah NU mencatat beliau terlibat dalam proses pendirian NU. Setahu saya, Mbah Bisri pernah menjadi kepala kantor NU di Surabaya: saya lupa pastinya di Markas Besar Oelama (MBO) di Waru atau Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (HBNO) di Bubutan. Selain itu, lewat keteguhan fikihnya, Mbah Bisri ikut menopang NU dan kelak memimpinnya sebagai Rais Aam. Jadi, saya bisa memahami bahwa yang digugat bukan statusnya, namun gambar yang hanya menyisakan ruang untuk tiga orang, seolah-olah sejarah selesai di situ.

Padahal sejarahnya jauh lebih ramai. NU lahir pada 16 Rajab 1344 H, bertepatan dengan 31 Januari 1926, di Surabaya. Pemicunya kegelisahan para kiai atas nasib praktik bermazhab di Hijaz, yang melahirkan Komite Hijaz. Namun akarnya lebih tua. Para kiai sudah belajar berorganisasi lewat Taswirul Afkar, Nahdlatul Wathan, Nahdlatut Tujjar, dan Takmirul Masajid.

Menjelang pendirian, Syaikhona Kholil Bangkalan memberi restu lewat isyarat tongkat dan tasbih yang diantarkan KH As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo. KH Ridwan Abdullah merancang lambang bola dunia berlilit tali. KH Mas Alwi Abdul Aziz dikenal sebagai pengusul nama Nahdlatul Ulama. Haji Hasan Gipo tercatat sebagai Ketua Tanfidziyah pertama. Dari Malang ada KH Nachrowi Thohir, dan dari penjuru Jawa dan Madura datang para kiai penggerak jamaah di kampung masing-masing.

Tentu tidak semua nama itu punya peran yang sama. Ada yang duduk sebagai muassis, ada yang memberi restu, ada yang bekerja di balik layar. Namun tanpa mereka, NU tidak berdiri. Pendiri NU, dengan kata lain, bukan segitiga, melainkan jaringan. Jaringan seperti itu bekerja lewat hal-hal yang jarang masuk bingkai foto: perjalanan antarkota, rapat di rumah kiai, dan pekerjaan teknis yang tidak dipotret siapa pun.

Mengapa ini penting? Sebab gambar punya daya didik yang bekerja diam-diam. Tebuireng, Tambakberas, dan Denanyar hanya terpaut beberapa kilometer di satu kabupaten. Menghormati Jombang tentu tidak salah. Masalah muncul ketika potret itu dijadikan satu-satunya standar. Santri di Situbondo, Malang, Lasem, Cirebon, Kediri, atau Bangkalan bisa tumbuh dengan kesan bahwa daerahnya hanya figuran dalam kisah besar yang dimainkan orang lain.

Lebih jauh, saya khawatir kesan itu merembes ke cara kita memilih pemimpin: yang dianggap pantas memimpin NU adalah mereka yang dekat dengan lingkar tertentu, bukan yang paling mampu. Kekhawatiran ini belum saya uji dengan data, tetapi cukup beralasan untuk dibicarakan sebelum menjadi kebiasaan.

Sebagian orang akan berkata, simbol memang harus sederhana. Betul. Spanduk tidak bisa memuat tiga puluh wajah. Saya sendiri tidak keberatan dengan fotonya. Saya keberatan pada keterangan yang tidak pernah menyertainya. Sederhana tidak sama dengan keliru. Ringkasan boleh dipasang di spanduk, tetapi buku pelajaran, situs resmi, dan pidato pengurus semestinya memuat cerita yang utuh. Kalau yang tampil di mana-mana hanya versi ringkas, lama-lama orang mengira itulah seluruh cerita.

NU sejak awal lebih mirip federasi pesantren daripada organisasi komando. Kekuatannya ada pada simpul-simpul lokal: pesantren, kiai kampung, dan jamaah yang menjaganya. Ambil contoh soal jaringan kiai kampung ini, saya menemukan cerita menarik saat terjadinya Agresi Militer II tahun periode 1948-1949 dimana KH Masjkoer sebagai pimpinan tertinggi Barisan Sabilillah menggerakkan kiai kampung-NU sebagai penggerak perlawanan. Kalau nama simpul itu dilupakan, jangan heran bila lama-lama ia merasa tidak punya urusan dengan pusat.

Lalu apa yang bisa dilakukan? Saya mengusulkan tiga hal.

Pertama, PBNU melengkapi materi resminya. Di samping gambar tiga tokoh, sertakan narasi singkat tentang kiai-kiai lain beserta perannya, misalnya lewat laman resmi dan buku saku sejarah NU. Satu paragraf per tokoh pun sudah cukup membuka mata.

Kedua, pengurus wilayah dan cabang menulis sejarah perintisnya sendiri. Situbondo punya Kiai As’ad, Bangkalan punya Syaikhona Kholil, Malang punya Kiai Nachrowi Thohir dan KH Masjkoer. Kisah mereka layak dibukukan, diajarkan di madrasah, dan dibacakan pada peringatan harlah, bukan sekadar diziarahi. Tentu, berkah pula disebut dan dikirim tawassul. Tulisan sederhana yang jujur lebih berguna daripada buku tebal yang tak pernah dibaca.

Ketiga, dan ini yang paling mendasar, kaderisasi harus berpijak pada kapasitas, bukan kedekatan dengan lingkar tertentu. Sejarah yang utuh membantu di sini. Orang yang tahu bahwa NU dibangun bersama-sama akan lebih sulit menerima bahwa kepemimpinan hanya milik satu poros.

Tidak ada yang dikurangi dari kebesaran Mbah Hasyim, Mbah Wahab, dan Mbah Bisri. Menghormati beliau-beliau justru berarti menjaga warisan yang mereka bangun: organisasi yang berdiri di atas banyak pundak.

Seandainya dua kiai itu bertanya lagi, jawaban saya kini lebih pendek. Pendiri NU tidak tiga. Jumlahnya jauh lebih banyak, dan sebagian namanya masih menunggu dikenang di kampungnya sendiri. Wallahu a’lam.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button