Oleh: Achmad Diny Hidayatullah*

“Dalam tradisi para muhadditsin, nama besar tidak pernah menjadi jaminan. Yang diperiksa adalah sanadnya, pengabdiannya, dan jejak hidupnya. Begitu pula dalam memilih pemimpin.”
Menjelang setiap Muktamar Nahdlatul Ulama, selalu ada satu fenomena yang menarik.
Semakin dekat hari pemilihan, semakin banyak nama bermunculan. Sebagian datang membawa dukungan pesantren. Sebagian lagi memiliki pengalaman birokrasi yang panjang. Ada yang kuat di organisasi, ada pula yang besar di panggung publik.
Namun di tengah lalu-lalang nama itu, hampir selalu ada satu sosok yang menjadi pusat percakapan: KH Yahya Cholil Staquf, atau yang lebih akrab dipanggil Gus Yahya.
Ada yang mendukungnya dengan penuh keyakinan. Ada yang mengkritiknya dengan argumentasi yang tidak kalah kuat. Ada pula yang memilih menunggu perkembangan hingga detik-detik terakhir Muktamar.
Menariknya, hampir tidak ada yang benar-benar mengabaikan namanya.
Fenomena itu menunjukkan satu hal: Gus Yahya telah menjadi salah satu figur paling berpengaruh dalam lanskap NU kontemporer.
Dalam tradisi rijāl al-ḥadīṡ, keadaan seperti ini justru menarik untuk dikaji. Semakin besar pengaruh seorang perawi, semakin teliti pula para ulama membaca perjalanan hidupnya. Mereka tidak cukup mengenal nama. Mereka ingin mengetahui guru-gurunya, sanad ilmunya, akhlaknya, perjalanan hidupnya, hingga bagaimana masyarakat memberikan kesaksian tentang dirinya.
Semangat itulah yang layak kita bawa ketika membaca Gus Yahya.
Bukan untuk memuji. Bukan pula untuk menjatuhkan. Melainkan untuk mengenal.
Rembang: Tempat Para Tokoh Dibentuk
Sulit memahami Gus Yahya tanpa kembali ke Rembang.
Daerah pesisir utara Jawa itu bukan hanya melahirkan seorang tokoh. Ia melahirkan sebuah tradisi keilmuan.
Gus Yahya lahir pada 16 Februari 1966 dari keluarga yang sejak lama menjadi bagian penting sejarah NU. Ayahnya, KH Muhammad Cholil Bisri, merupakan ulama yang lama berkecimpung dalam kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Pamannya adalah KH Mustofa Bisri atau Gus Mus, salah seorang ulama dan budayawan yang paling dihormati di Indonesia. Kakeknya, KH Bisri Musthofa, dikenal sebagai mufasir besar dengan karya monumental Tafsir al-Ibriz.
Artinya, Gus Yahya lahir bukan sekadar membawa nama keluarga besar.
Ia lahir di tengah tradisi membaca, berdiskusi, menghormati ilmu, sekaligus belajar langsung bagaimana organisasi NU bekerja dari dekat.
Namun tradisi pesantren selalu mengajarkan satu hal. Nasab memang dapat membuka pintu. Tetapi yang mempertahankan kehormatan adalah amal dan ilmu.
Karena itu, perjalanan Gus Yahya tidak berhenti pada nama besar keluarga.
Ia menempuh pendidikan pesantren di Krapyak Yogyakarta, salah satu pusat keilmuan Islam yang dikenal melahirkan banyak ulama dan intelektual. Di sana ia berinteraksi dengan tradisi keilmuan yang terbuka, mendalami kitab-kitab klasik, sekaligus belajar berdialog dengan berbagai pandangan.
Bekal itu kemudian diperkaya melalui pengalaman akademik di Universitas Gadjah Mada. Meskipun tidak menyelesaikan pendidikan formalnya hingga akhir, lingkungan intelektual UGM memberi warna tersendiri terhadap cara berpikir Gus Yahya yang cenderung analitis, komunikatif, dan terbuka terhadap isu-isu global.
Perpaduan antara pesantren dan ruang intelektual modern inilah yang kelak membentuk karakter kepemimpinannya.
Murid Politik Gus Dur
Tidak semua orang beruntung menjadi murid langsung Gus Dur. Gus Yahya termasuk salah satunya.
Hubungan keduanya bukan sekadar hubungan organisatoris. Lebih dari itu, Gus Yahya banyak belajar bagaimana membaca realitas sosial, mengelola perbedaan, dan memandang Islam sebagai rahmat bagi seluruh manusia.
Ketika Gus Dur menjadi Presiden Republik Indonesia, Gus Yahya dipercaya menjadi juru bicara presiden.
Jabatan itu mungkin tampak administratif. Padahal tidak.
Menjadi juru bicara Gus Dur berarti harus mampu menerjemahkan pikiran seorang tokoh yang terkenal kompleks, spontan, dan sering kali melampaui zamannya. Di situlah kemampuan komunikasi Gus Yahya mulai ditempa.
Pengalaman tersebut juga memperluas jejaring nasional maupun internasionalnya.
Kelak, kemampuan itulah yang menjadi salah satu ciri khas kepemimpinannya.
NU Tidak Lagi Hanya Berbicara untuk Indonesia
Jika ada satu hal yang membedakan Gus Yahya dengan banyak tokoh NU sebelumnya, mungkin jawabannya adalah skala panggung yang ia masuki.
Ia tidak hanya berbicara di forum-forum pesantren. Ia juga hadir dalam berbagai forum internasional, berdialog dengan pemimpin agama dunia, diplomat, akademisi, hingga lembaga internasional.
Melalui gagasan Humanitarian Islam (Islam untuk Kemanusiaan), Gus Yahya berusaha menawarkan wajah Islam Indonesia sebagai inspirasi bagi dunia yang sedang menghadapi krisis identitas, ekstremisme, dan konflik kemanusiaan. Gagasan ini berfokus pada pengabdian dan pelayanan agama Islam untuk seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang agama, ras, atau bangsa.
Bagi pendukungnya, langkah ini merupakan lompatan besar. NU tidak lagi hanya menjadi organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi mulai diperhitungkan sebagai aktor moral dalam percaturan global.
Diplomasi agama menjadi salah satu ciri kepemimpinan Gus Yahya.
Ia aktif membangun komunikasi lintas agama, lintas negara, dan lintas peradaban. Tidak banyak kiai NU yang memiliki pengalaman internasional seluas itu.
Empat Kekuatan Gus Yahya
Ada beberapa alasan mengapa nama Gus Yahya selalu memiliki daya tawar kuat menjelang Muktamar.
Pertama, legitimasi organisasi. Sebagai Ketua Umum PBNU, ia memahami secara detail mekanisme organisasi, karakter PWNU, PCNU, bahkan sampai ke Rating, serta dinamika internal NU di seluruh Indonesia.
Kedua, jejaring internasional. Pengalaman diplomasi global membuatnya memiliki akses yang luas kepada berbagai lembaga internasional.
Ketiga, kapasitas intelektual. Gus Yahya bukan hanya organisator. Ia juga seorang pemikir yang produktif menulis dan menyampaikan gagasan mengenai Islam, demokrasi, kebangsaan, hingga perdamaian dunia.
Keempat, kemampuan komunikasi. Baik di forum pesantren maupun forum internasional, ia dikenal mampu menyampaikan gagasan secara sistematis dan argumentatif.
Kritik yang Tidak Pernah Jauh
Namun tradisi jarḥ wa ta’dīl mengajarkan bahwa profil seorang tokoh tidak lengkap tanpa mencatat berbagai kritik yang menyertainya.
Salah satu yang paling sering menjadi perdebatan adalah kunjungannya ke Israel pada tahun 2018 serta kedekatannya dengan beberapa tokoh atau cendekiawan yang diindikasi kuat sebagai pendukung Israel.
Pendukungnya memandang kunjungan tersebut sebagai bagian dari diplomasi kemanusiaan dan upaya membuka ruang dialog dalam konflik Palestina–Israel.
Sebaliknya, pengkritiknya menilai langkah itu berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah sensitivitas publik Indonesia terhadap isu Palestina. Perdebatan itu masih sering muncul hingga hari ini.
Di luar itu, kepemimpinan PBNU periode 2022–2026 juga tidak lepas dari kritik. Sebagian warga NU menilai PBNU terlalu kuat melakukan sentralisasi kebijakan. Ada pula yang menganggap komunikasi dengan sebagian pengurus di pusat serta di daerah tidak selalu berjalan mulus. Beberapa dinamika internal organisasi bahkan sempat menjadi konsumsi publik.
Namun harus diakui pula bahwa organisasi sebesar NU memang hampir mustahil terbebas dari kritik. Semakin besar organisasi, semakin beragam pula aspirasi yang harus dikelola.
Jika Muktamirin Memberinya Amanah Kembali
Seandainya Gus Yahya kembali memperoleh amanah pada Muktamar ke-35, apa yang mungkin menjadi kekuatan utamanya?
Kemungkinan besar ia akan melanjutkan agenda internasionalisasi NU, penguatan diplomasi keagamaan, Penguatan tata kelola, pemberdayaan kelembagaan, serta memperkuat posisi NU dalam isu-isu global.
Namun tantangannya juga tidak ringan. Ia perlu memastikan bahwa agenda internasional tersebut tetap diimbangi dengan penguatan pelayanan kepada pesantren, pengurus cabang, majelis taklim, dan warga Nahdliyin di tingkat akar rumput.
NU dibangun dari bawah. Karena itu, denyut kehidupan ranting dan cabang akan selalu menjadi ukuran keberhasilan kepemimpinan nasional.
Pelajaran dari Para Muhadditsin
Dalam kitab-kitab rijāl al-ḥadīṡ, seorang perawi besar hampir tidak pernah dinilai hanya dengan satu kalimat.
Ada yang memujinya. Ada yang mengkritiknya. Ada pula yang memberikan catatan tertentu.
Semua dicatat. Semua dibaca. Semua dipertimbangkan.
Begitulah seharusnya warga Nahdliyin mengenal para calon pemimpinnya.
Gus Yahya bukan hanya seorang ketua umum. Ia adalah anak pesantren, pewaris tradisi Rembang, murid politik Gus Dur, diplomat keagamaan, sekaligus tokoh yang mengundang banyak perdebatan.
Di situlah letak menariknya. Tokoh besar hampir selalu memiliki pendukung dan pengkritik.
Yang membedakan tradisi ulama dengan budaya media sosial adalah cara menyikapinya. Media sosial yang sangat diatur oleh algoritma sering kali memaksa kita memilih antara memuja atau membenci.
Sementara para muhadditsin memilih jalan yang lebih tenang. Mereka mengumpulkan data. Membaca perjalanan hidup. Mendengar banyak kesaksian. Lalu menyimpulkan dengan penuh kehati-hatian.
Barangkali, itulah pelajaran paling penting yang dapat kita bawa menuju Muktamar ke-35. Memilih pemimpin bukanlah soal siapa yang paling sering dipuji atau paling keras dikritik, melainkan siapa yang rekam jejak, kapasitas, integritas, dan kemaslahatannya paling layak untuk memimpin jam’iyyah pada fase sejarah berikutnya.
Sebab, sebagaimana pesan para ulama hadis, keadilan dalam menilai seseorang merupakan bagian dari amanah ilmu. Dan bagi warga Nahdlatul Ulama, amanah itu bukan sekadar tradisi akademik, melainkan adab yang harus dijaga ketika menentukan arah rumah besar bernama NU. Wallāhu a’lam.
*Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang

Deskripsi Diri Singkat
- Nama lengkap: Achmad Diny Hidayatullah
- Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
- Khodim Madrasah Diniyah Shirotul Huda, Tlogomas Malang
Achmad Diny Hidayatullah. ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretrais PCNU Kota Malang. Sekretaris SPI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP Shirotul Fuqoha Sepanjang Gondanglegi Malang dan PP Miftahul Huda Gading Malang.
Beberapa tulisan tersebar di beberapa media dan internet. Pernah menjadi Guru di Mts dan MA di Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang. Sempat diberi amanah sebagai Kepala Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (ULP) tahun 2012 – 2017, dan Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi (P3SR), dan sekarang sebagai Sekretaris Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivitas yang menyenangkan adalah sebagai Guru Ngaji. Beberapa buku hasil karyanya seperti Al-Qur’an wa Adz-Dzaka Al-Lughawi (2010), Bunga Rampai Manajemen Kurikulum Bahasa Arab (2018), Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren (2018), Aku, Buku, dan Peradaban: Transformasi Pesantren Melalui Penguatan Literasi (2018), تعليم اللغة العربية على مدخل المهارات الإجرائية في إندونيسيا (2019), Belajar Kehidupan Harmoni Dari Pesantren (2020), Peran dan Kiprah Alumni: Tracer Study UIN Maliki 2020 (2021), Solusi Santri dalam Era Society 5.0 (2021), NU dan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0 dalam buku Kado Muktamar NU ke-34 & Masa Depan Umat (2021), Wealth Management: Konsep dan Model Pengembangan Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (2021), Moderasi Beragama: Model Pembinaan Pendekatan Integratif Kontekstual (2022), Membudayakan Kehidupan Santri Pasca di Pesantren, dalam Militansi Santri dalam Menyongsong Indonesia Emas (2023), Pemanfaatan Aset di Kampus Badan Layanan Umum (2023), Kata, Kita, dan Semesta.(2025). Beberapa tulisannya juga dimuat diberbagai media dan jurnal. Menyukai Bahasa Arab karena memberikan energi, passion, dan sebagai modal akhirat. Penulis bisa dihubungi di: no hp: 08563598978, email: diny@uin-malang.ac.id atau https://t.me/AchmadDinyH




