ArtikelOpini

Rijāl Muktamar #3: KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) Dari Tebuireng Menjaga Warisan Hadratussyaikh

Oleh: Achmad Diny Hidayatullah*

“Dalam tradisi para muhadditsin, nama besar tidak pernah menjadi jaminan. Yang diperiksa adalah sanadnya, pengabdiannya, dan jejak hidupnya. Begitu pula dalam memilih pemimpin.”

 

Di dalam ilmu rijāl al-adī, kemuliaan nasab dicatat. Tetapi yang menentukan kualitas seorang perawi tetaplah ilmu, amanah, dan pengabdiannya. Kalimat itu terasa tepat untuk membaca sosok KH. Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab dipanggil Gus Kikin.

Beliau lahir dari salah satu keluarga paling berpengaruh dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Dari garis ibu, nasabnya bersambung kepada Nyai KH. Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari. Artinya, Gus Kikin adalah cicit Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Sementara dari jalur ayah, beliau juga berasal dari keluarga ulama besar Tebuireng.

Dalam tradisi pesantren, nasab seperti itu sering disebut sebagai “darah biru NU.”

Namun sejarah NU mengajarkan satu pelajaran penting. Darah biru tidak otomatis melahirkan kepemimpinan. Yang membuat seseorang layak memimpin adalah perjalanan hidupnya.

Dan perjalanan Gus Kikin justru menarik karena ia memilih hidup dalam bayang-bayang para pendahulunya tanpa pernah berusaha melampaui mereka dengan retorika. Ia lebih memilih menunjukkan dirinya melalui kerja, kesederhanaan, dan kesinambungan tradisi Tebuireng.

Menjelang Muktamar ke-35, nama Gus Kikin semakin sering disebut oleh para kiai dan pengurus cabang sebagai salah satu figur yang layak dipertimbangkan. Sikapnya tetap sama: siap dipilih dan siap tidak dipilih, sebab jabatan baginya adalah amanah, bukan tujuan.

Secara naratif beliau menyampaikan, “Saya sudah menyatakan tidak akan mencalonkan diri. Tetapi kemudian muncul gagasan agar saya ditugaskan. Karena ini adalah penugasan dari PWNU dan disampaikan di hadapan PCNU se-Jawa Timur, maka saya siap menerima amanah tersebut.”

 

Menjadi Pewaris Tebuireng Bukan Perkara Mudah

Tebuireng bukan sekadar pesantren. Ia adalah simbol sejarah NU.

Di sinilah Hadratussyaikh mendidik generasi pertama ulama Nusantara. Dari sini lahir KH. Wahid Hasyim, Gus Dur, KH. Yusuf Hasyim, KH. Salahuddin Wahid (Gus Sholah), Gus Irfan (Menteri Haji dan Umrah), dan banyak tokoh bangsa.

Ketika Gus Sholah wafat pada 2020, amanah kepengasuhan Pesantren Tebuireng berpindah kepada Gus Kikin. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar pergantian kepemimpinan, melainkan estafet menjaga salah satu institusi paling berpengaruh dalam sejarah Islam Indonesia.

Memimpin Tebuireng berarti memimpin ribuan santri, puluhan lembaga pendidikan, jaringan alumni yang sangat luas, sekaligus menjaga marwah pesantren yang menjadi rujukan nasional.

Tantangan itu tidak ringan. Namun justru di situlah karakter Gus Kikin terbentuk.

 

Santri yang Ditempa Tradisi Tebuireng

Gus Kikin lahir pada 17 Agustus 1958 dari pasangan KH. Mahfudz Anwar dan Nyai Abidah Ma’shum. Ibunya merupakan cucu Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari melalui jalur Nyai Khoiriyah Hasyim dan KH. Ma’shum Ali, ulama ahli falak sekaligus pengarang kitab Amtsilah Tashrifiyyah yang sangat masyhur di pesantren.

Lingkungan keluarga inilah yang memperkenalkan Gus Kikin kepada dunia kitab kuning, adab pesantren, dan tradisi khidmah sejak usia dini.

Sebagaimana banyak putra kiai lainnya, ia tidak dibesarkan untuk mengejar popularitas.

Ia dibesarkan untuk menjaga amanah. Karena itu, gaya kepemimpinannya hingga hari ini tetap sederhana.

Ia tidak dikenal sebagai tokoh yang gemar membangun citra. Sebaliknya, ia lebih sering tampil sebagai pengasuh yang dekat dengan santri.

 

Dari Pesantren ke Organisasi

Salah satu kekuatan Gus Kikin adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara dunia pesantren dan organisasi.

Sebelum menjadi Ketua PWNU Jawa Timur, ia telah lama aktif dalam berbagai struktur Nahdlatul Ulama dan menjadi bagian dari jaringan ulama Tebuireng yang memiliki hubungan erat dengan berbagai pesantren di Jawa Timur.

Pada Januari 2024, PBNU menunjuknya sebagai Pejabat Ketua PWNU Jawa Timur. Keputusan itu datang pada masa yang cukup sensitif dalam dinamika internal NU. Alih-alih memperkeruh suasana, Gus Kikin memilih pendekatan yang tenang. Ketika ditanya mengenai amanah tersebut, jawabannya singkat: “Kita mengalir saja.”

Beberapa bulan kemudian, melalui Konferwil XVIII, ia terpilih secara definitif sebagai Ketua PWNU Jawa Timur periode 2024–2029.

Tidak berlebihan jika Jawa Timur disebut sebagai episentrum Nahdlatul Ulama.

Sebagian besar pesantren besar NU berada di provinsi ini. Jaringan PCNU sangat kuat.

Jumlah warga Nahdliyin terbesar juga berada di Jawa Timur. Karena itu, menjadi Ketua PWNU Jawa Timur bukan sekadar memimpin satu wilayah.

Sering kali posisi ini dipandang sebagai salah satu laboratorium kepemimpinan nasional NU.

Selama memimpin PWNU Jawa Timur, Gus Kikin menekankan pentingnya konsolidasi organisasi, pelayanan kepada umat, dan muhasabah organisasi agar NU terus melakukan perbaikan tanpa kehilangan jati dirinya.

Pada peringatan Harlah NU di Jawa Timur, ia juga berulang kali mengingatkan bahwa NU tidak boleh hanya sibuk mengurus dirinya sendiri, tetapi harus hadir menyelesaikan persoalan masyarakat, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kemiskinan.

 

Gaya Kepemimpinan: Teduh, Tidak Meledak-ledak

Setiap tokoh memiliki ciri.

Gus Yahya dikenal sebagai pemikir global. Nasaruddin Umar sebagai intelektual dan negarawan. Gus Ipul sebagai organisator. Gus Yusuf Chudlori sebagai kiai penggerak. KH. Zulfa Mustofa sebagai ahli ushul fikih.

Lalu bagaimana dengan Gus Kikin? Kesan yang paling kuat adalah keteduhan. Ia bukan tipe pemimpin yang gemar membangun polarisasi.

Dalam berbagai forum, bahasa yang digunakannya cenderung menyejukkan.

Bahkan ketika namanya mulai didorong menjadi calon Ketua Umum PBNU, ia justru menegaskan bahwa yang lebih penting adalah persatuan NU daripada ambisi pribadi.

Sikap seperti ini sangat khas pesantren. Tidak tergesa-gesa. Tidak reaktif. Tetapi juga tidak pasif.

 

Empat Modal Besar Gus Kikin

Jika dibaca menggunakan pendekatan jar wa ta’dīl, Gus Kikin memiliki beberapa kekuatan yang menonjol.

Pertama, legitimasi historis dan kultural. Sebagai cicit Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari dan pengasuh Tebuireng, ia membawa simbol kesinambungan sejarah NU. Namun legitimasi ini tidak hanya bertumpu pada nasab, melainkan juga pada amanah yang telah dijalankannya di Tebuireng dan PWNU Jawa Timur.

Kedua, kemampuan merangkul berbagai kalangan. Selama memimpin PWNU Jawa Timur, Gus Kikin relatif mampu menjaga komunikasi dengan pesantren-pesantren besar yang memiliki latar belakang dan preferensi berbeda. Di wilayah yang sangat dinamis seperti Jawa Timur, kemampuan menjaga kohesi merupakan modal yang tidak kecil.

Ketiga, pengalaman memimpin lembaga besar. Mengelola Tebuireng sekaligus PWNU Jawa Timur membutuhkan kapasitas manajerial, kemampuan membangun konsensus, dan ketahanan menghadapi dinamika internal.

Keempat, integritas pribadi. Hingga saat ini, nama Gus Kikin tidak dikaitkan dengan perkara hukum atau kontroversi besar yang menyangkut integritas personal. Reputasinya lebih banyak dibangun melalui pengabdian di pesantren, pendidikan, dan organisasi. Berdasarkan informasi yang tersedia hingga kini, tidak terdapat catatan perkara pidana atau pelanggaran hukum yang menonjol terkait dirinya.

 

Beberapa Tantangan yang Perlu Dijawab

Dalam tradisi kritik hadis, penilaian yang adil juga mencatat ruang yang masih perlu diperkuat.

Pertama, artikulasi visi nasional. Gus Kikin dikenal sebagai pemimpin yang tenang dan membumi. Namun apabila diproyeksikan memimpin PBNU, publik tentu akan menantikan pemaparan yang lebih sistematis mengenai agenda NU abad kedua: ekonomi umat, transformasi digital, penguatan kader ulama, hingga diplomasi internasional.

Kedua, kiprah global. Berbeda dengan Gus Yahya atau Prof. Nasaruddin Umar yang memiliki intensitas tinggi dalam forum internasional, profil Gus Kikin lebih banyak berakar pada dunia pesantren dan konsolidasi internal. Bagi sebagian kalangan, hal ini merupakan kekuatan karena menunjukkan kedekatannya dengan basis NU; bagi yang lain, ini menjadi ruang pengembangan apabila kelak memimpin organisasi di tingkat nasional.

Ketiga, persepsi tentang “darah biru”. Nasab kepada Hadratussyaikh merupakan kehormatan besar. Namun di sisi lain, sebagian warga NU juga berharap bahwa kepemimpinan tetap dibangun di atas rekam jejak dan kapasitas, bukan semata garis keturunan. Tantangan Gus Kikin adalah terus menunjukkan bahwa amanah yang diembannya lahir dari khidmah, bukan dari nasab.

 

Jika Muktamirin Memberikan Amanah

Apabila suatu hari para muktamirin memberikan amanah kepada Gus Kikin untuk memimpin PBNU, besar kemungkinan arah kepemimpinannya akan bertumpu pada tiga pilar utama.

Pertama, penguatan pesantren sebagai pusat pendidikan, kaderisasi ulama, dan pembentukan karakter.

Kedua, konsolidasi jam’iyyah, dengan menempatkan persatuan warga NU sebagai prioritas.

Ketiga, pelayanan sosial, sesuai dengan pandangannya bahwa NU harus hadir mendampingi umat, bukan hanya mengurus struktur organisasi.

Model kepemimpinan seperti ini mungkin tidak menghasilkan banyak sensasi. Tetapi bisa jadi justru menghadirkan stabilitas yang dibutuhkan NU pada awal abad keduanya.

 

Pelajaran dari Para Muhadditsin

Para ulama hadis selalu membedakan antara kemuliaan asal-usul dan kemuliaan pengabdian.

Nasab dapat diwariskan. Ilmu harus dipelajari. Amanah harus dijaga. Dan kepercayaan harus dibangun sepanjang hidup.

Itulah cara yang paling tepat membaca Gus Kikin. Ia memang lahir dari keluarga besar pendiri NU.

Namun yang membuat namanya mulai diperhitungkan menjelang Muktamar bukan semata karena ia cicit Hadratussyaikh. Melainkan karena ia telah menjalani jalan panjang sebagai pengasuh Tebuireng, pemimpin PWNU Jawa Timur, dan kiai yang memilih bahasa persatuan ketika organisasi menghadapi dinamika.

Muktamar pada akhirnya bukan tentang siapa yang paling terkenal atau siapa yang memiliki nasab paling mulia. Muktamar adalah ikhtiar mencari sosok yang paling mampu menjaga warisan para muassis sekaligus membawa NU menjawab tantangan zaman. Di antara nama-nama yang beredar, KH. Abdul Hakim Mahfudz menawarkan satu wajah kepemimpinan yang khas: tenang, berakar kuat pada tradisi, dan berusaha menjaga agar rumah besar Nahdlatul Ulama tetap teduh bagi seluruh warganya. Wallāhu a’lam

*Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang

Deskripsi Diri Singkat

  • Nama lengkap: Achmad Diny Hidayatullah
  • Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
  • Khodim Madrasah Diniyah Shirotul Huda, Tlogomas Malang

Achmad Diny Hidayatullah. ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretrais PCNU Kota Malang. Sekretaris SPI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP Shirotul Fuqoha Sepanjang Gondanglegi Malang dan PP Miftahul Huda Gading Malang.

Beberapa tulisan tersebar di beberapa media dan internet. Pernah menjadi Guru di Mts dan MA di Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang. Sempat diberi amanah sebagai Kepala Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (ULP) tahun 2012 – 2017, dan Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi (P3SR), dan sekarang sebagai Sekretaris Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivitas yang menyenangkan adalah sebagai Guru Ngaji. Beberapa buku hasil karyanya seperti Al-Qur’an wa Adz-Dzaka Al-Lughawi (2010), Bunga Rampai Manajemen Kurikulum Bahasa Arab (2018), Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren (2018), Aku, Buku, dan Peradaban: Transformasi Pesantren Melalui Penguatan Literasi (2018), تعليم اللغة العربية على مدخل المهارات الإجرائية في إندونيسيا (2019), Belajar Kehidupan Harmoni Dari Pesantren (2020), Peran dan Kiprah Alumni: Tracer Study UIN Maliki 2020 (2021), Solusi Santri dalam Era Society 5.0 (2021), NU dan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0 dalam buku Kado Muktamar NU ke-34 & Masa Depan Umat (2021), Wealth Management: Konsep dan Model Pengembangan Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (2021), Moderasi Beragama: Model Pembinaan Pendekatan Integratif Kontekstual (2022), Membudayakan Kehidupan Santri Pasca di Pesantren, dalam Militansi Santri dalam Menyongsong Indonesia Emas (2023), Pemanfaatan Aset di Kampus Badan Layanan Umum (2023), Kata, Kita, dan Semesta.(2025). Beberapa tulisannya juga dimuat diberbagai media dan jurnal. Menyukai Bahasa Arab karena memberikan energi, passion, dan sebagai modal akhirat. Penulis bisa dihubungi di: no hp: 08563598978, email: diny@uin-malang.ac.id atau https://t.me/AchmadDinyH 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button