Oleh: Achmad Diny Hidayatullah*

“Dalam tradisi para muhadditsin, nama besar tidak pernah menjadi jaminan. Yang diperiksa adalah sanadnya, pengabdiannya, dan jejak hidupnya. Begitu pula dalam memilih pemimpin.”
Setelah pada seri pertama kita membaca sosok Gus Yahya sebagai kiai dengan orientasi global, kini kita beralih kepada figur lain yang tidak kalah menarik: Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.
Namanya semakin sering disebut menjelang Muktamar NU ke-35. Sebagian melihatnya sebagai ulama yang mampu menjembatani pesantren, negara, dan dunia internasional. Sebagian lain bertanya apakah pengalaman panjang di birokrasi negara dapat diterjemahkan menjadi kepemimpinan jam’iyyah sebesar Nahdlatul Ulama.
Pertanyaan itu layak dijawab dengan data, bukan dengan prasangka.
Dari Bone Menuju Tradisi Keilmuan Nasional
Berbeda dengan sebagian besar tokoh NU yang lahir dari lingkungan pesantren Jawa, Nasaruddin Umar berasal dari Bone, Sulawesi Selatan. Lahir pada 23 Juni 1959, ia tumbuh dalam keluarga religius yang aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama dan GP Ansor di Sulawesi Selatan. Ayahnya dikenal sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap pendidikan agama, meskipun berasal dari latar pendidikan formal yang sederhana.
Jalur hidupnya sejak awal memang lebih dekat kepada dunia akademik.
Ia menempuh pendidikan di IAIN Alauddin Ujung Pandang, melanjutkan magister dan doktor di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, kemudian memperluas horizon intelektualnya melalui program riset dan studi di McGill University (Kanada), Leiden University (Belanda), SOAS University of London, Georgetown University, hingga Sophia University Tokyo. Jejak akademik seperti ini menjadikannya salah satu ulama Indonesia dengan pengalaman internasional yang sangat luas.
Di sinilah letak keunikan Nasaruddin Umar.
Kalau Gus Yahya dibentuk oleh kultur pesantren Rembang yang sangat kuat, maka Nasaruddin Umar dibentuk oleh perpaduan pesantren, perguruan tinggi Islam, dan tradisi akademik internasional.
Ia bukan hanya membaca kitab. Ia juga membaca peradaban.
Mufasir yang Memilih Berdialog
Tidak semua ulama menjadi mufasir. Dan tidak semua mufasir mampu berbicara kepada masyarakat luas.
Nasaruddin Umar termasuk sedikit akademisi Muslim Indonesia yang berhasil menjembatani keduanya.
Sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ia dikenal produktif menghasilkan karya ilmiah, terutama dalam bidang tafsir Al-Qur’an, relasi agama dengan kemanusiaan, dan kajian gender dalam perspektif Islam. Salah satu bukunya, Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an, menjadi rujukan penting dalam diskursus akademik Islam Indonesia, sekaligus memunculkan diskusi kritis dari berbagai kalangan.
Namun, karakter paling menonjol dari Nasaruddin Umar bukan hanya sebagai penulis. Ia adalah seorang dialogis.
Selama bertahun-tahun ia aktif membangun komunikasi lintas agama melalui berbagai forum nasional maupun internasional. Ketika dipercaya menjadi Imam Besar Masjid Istiqlal sejak 2016, ia semakin intensif memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang ramah, terbuka, dan mampu bekerja sama dengan berbagai komunitas agama. Ia juga dikenal sebagai pendiri organisasi dialog antarumat beragama dan aktif dalam forum internasional mengenai perdamaian.
Karena itu, bagi banyak kalangan internasional, nama Nasaruddin Umar identik dengan diplomasi lintas agama dari Indonesia.
Dari Katib Aam hingga Menteri Agama
Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Nasaruddin Umar bukan orang baru.
Ia pernah mengemban amanah sebagai Katib Aam PBNU pada masa kepemimpinan KH Sahal Mahfudh. Posisi ini memiliki arti penting karena secara historis beberapa Ketua Umum PBNU sebelumnya juga pernah melalui jalur yang sama, termasuk Gus Dur, KH Said Aqil Siradj, dan Gus Yahya. Fakta historis inilah yang kemudian membuat namanya kembali diperbincangkan menjelang Muktamar ke-35.
Di luar NU, karier kenegaraannya juga panjang.
Ia pernah menjadi Wakil Menteri Agama (2011–2014), lalu dipercaya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal mulai tahun 2016, Rektor Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta, dan sejak Oktober 2024 menjabat Menteri Agama Republik Indonesia dalam Kabinet Merah Putih. Dalam masa jabatannya, ia mendorong berbagai agenda seperti penguatan ekoteologi, moderasi beragama, pendidikan keagamaan, serta dialog antarumat beragama.
Karier seperti ini memperlihatkan satu pola yang konsisten. Ia lebih sering membangun jembatan daripada pagar.
Empat Modal Besar Nasaruddin Umar
Jika dilihat dari perspektif kepemimpinan organisasi, setidaknya ada empat kekuatan yang menonjol.
Pertama, otoritas keilmuan. Di tengah semakin kompleksnya persoalan keagamaan, memiliki Ketua Umum PBNU yang berstatus guru besar ilmu tafsir tentu menjadi modal intelektual yang sangat berharga.
Kedua, pengalaman birokrasi nasional. Sedikit tokoh NU yang pernah mengelola lembaga negara sekaligus institusi keagamaan sebesar Masjid Istiqlal.
Ketiga, jejaring internasional. Hubungannya dengan berbagai lembaga dunia membuatnya memiliki akses diplomasi yang luas, sesuatu yang semakin penting ketika NU memainkan peran global.
Keempat, gaya kepemimpinan yang teduh. Dalam berbagai kesempatan, Nasaruddin Umar dikenal lebih memilih dialog daripada konfrontasi. Karakter ini membuatnya relatif mudah diterima di berbagai kalangan, baik di lingkungan pesantren, akademisi, maupun pemerintah.
Catatan yang Juga Perlu Dibaca
Dalam tradisi jarḥ wa ta’dīl, mencatat kelebihan tanpa membaca tantangan adalah bentuk ketidakadilan.
Begitu pula ketika membaca Nasaruddin Umar.
Pertama, kedekatan dengan pemerintah. Sebagai Menteri Agama aktif, muncul pertanyaan mengenai bagaimana menjaga independensi jam’iyyah apabila seorang pejabat negara memimpin organisasi sebesar PBNU. Diskursus ini bukan hal baru dalam sejarah NU dan telah menjadi bahan pembicaraan menjelang Muktamar.
Kedua, basis organisasi. Sebagian warga Nahdliyin menilai bahwa pengalaman beliau lebih banyak berkembang di dunia akademik dan birokrasi dibanding konsolidasi struktural NU di tingkat cabang dan ranting. Sebaliknya, ada pula yang melihat pengalaman nasional tersebut justru memperkaya perspektif kepemimpinannya.
Ketiga, beberapa isu etik yang sempat menjadi sorotan publik, seperti rangkap jabatan dengan berbagai pimpinan instansi yang penting-penting. Isu tersebut ramai diperbincangkan, terutama saat ketua Komisi VIII DPR RI menyentil saat Pak Nasar keluar rapat kerja karena ada kunjungan Presiden Singapura ke Masjid Istiqlal. Secara aturan main memang tidak ada masalah, namun tetap menjadi bagian dari perhatian publik mengenai standar etik pejabat negara.
Dalam perspektif rijāl al-ḥadīṡ, semua fakta seperti ini tidak boleh diabaikan, tetapi juga tidak boleh dibesar-besarkan melebihi proporsinya.
Jika Muktamirin Memberinya Amanah
Seandainya para muktamirin mempercayakan kepemimpinan PBNU kepada Nasaruddin Umar, kemungkinan besar NU akan semakin kuat memainkan peran sebagai aktor diplomasi keagamaan dunia.
Pengalaman panjangnya di bidang tafsir, hubungan lintas agama, pendidikan Islam, dan birokrasi nasional akan menjadi modal penting bagi NU memasuki abad kedua.
Namun tantangan yang harus dijawab juga jelas. Bagaimana memastikan bahwa perhatian terhadap isu global tetap seimbang dengan penguatan pesantren, pemberdayaan ekonomi warga, kaderisasi ulama muda, serta konsolidasi organisasi hingga tingkat ranting.
NU tidak hanya hidup di forum internasional. Ia hidup di langgar-langgar kampung, madrasah diniyah, majelis taklim, dan pesantren-pesantren yang menjadi denyut nadi jam’iyyah.
Pelajaran dari Para Muhadditsin
Para muhadditsin mengajarkan bahwa mengenal seseorang tidak cukup melalui satu ceramah, satu video, atau satu pemberitaan. Mereka membaca perjalanan hidupnya sebagai satu kesatuan.
Dengan cara pandang itu, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar tampil sebagai sosok yang memadukan tiga dunia sekaligus: ulama, akademisi, dan negarawan.
Ia memiliki sanad ilmu yang panjang, rekam jejak akademik yang kuat, pengalaman birokrasi yang matang, dan jaringan internasional yang luas. Pada saat yang sama, ia juga menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang wajar tentang relasi negara dan jam’iyyah, penguatan basis organisasi, serta bagaimana menerjemahkan pengalaman kenegaraan menjadi kepemimpinan NU yang membumi.
Di situlah letak pelajaran dari jarḥ wa ta’dīl.
Tujuan akhirnya bukan mencari siapa yang paling sempurna, sebab tidak ada manusia yang bebas dari catatan. Tujuannya adalah mengenal seseorang secara utuh agar penilaian lahir dari ilmu, bukan dari kesan sesaat.
Mungkin itulah adab yang paling relevan menjelang Muktamar ke-35. Warga Nahdliyin tidak dituntut menjadi pendukung atau penentang seorang tokoh, tetapi menjadi pembaca yang jernih terhadap rekam jejak para calon pemimpinnya. Sebab, sebagaimana diajarkan para ulama hadis, keadilan dalam menilai seseorang adalah bagian dari amanah ilmu. Dan bagi Nahdlatul Ulama, amanah ilmu selalu berjalan beriringan dengan amanah adab. Wallāhu a’lam.
*Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang

Deskripsi Diri Singkat
- Nama lengkap: Achmad Diny Hidayatullah
- Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
- Khodim Madrasah Diniyah Shirotul Huda, Tlogomas Malang
Achmad Diny Hidayatullah. ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretrais PCNU Kota Malang. Sekretaris SPI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP Shirotul Fuqoha Sepanjang Gondanglegi Malang dan PP Miftahul Huda Gading Malang.
Beberapa tulisan tersebar di beberapa media dan internet. Pernah menjadi Guru di Mts dan MA di Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang. Sempat diberi amanah sebagai Kepala Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (ULP) tahun 2012 – 2017, dan Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi (P3SR), dan sekarang sebagai Sekretaris Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivitas yang menyenangkan adalah sebagai Guru Ngaji. Beberapa buku hasil karyanya seperti Al-Qur’an wa Adz-Dzaka Al-Lughawi (2010), Bunga Rampai Manajemen Kurikulum Bahasa Arab (2018), Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren (2018), Aku, Buku, dan Peradaban: Transformasi Pesantren Melalui Penguatan Literasi (2018), تعليم اللغة العربية على مدخل المهارات الإجرائية في إندونيسيا (2019), Belajar Kehidupan Harmoni Dari Pesantren (2020), Peran dan Kiprah Alumni: Tracer Study UIN Maliki 2020 (2021), Solusi Santri dalam Era Society 5.0 (2021), NU dan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0 dalam buku Kado Muktamar NU ke-34 & Masa Depan Umat (2021), Wealth Management: Konsep dan Model Pengembangan Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (2021), Moderasi Beragama: Model Pembinaan Pendekatan Integratif Kontekstual (2022), Membudayakan Kehidupan Santri Pasca di Pesantren, dalam Militansi Santri dalam Menyongsong Indonesia Emas (2023), Pemanfaatan Aset di Kampus Badan Layanan Umum (2023), Kata, Kita, dan Semesta.(2025). Beberapa tulisannya juga dimuat diberbagai media dan jurnal. Menyukai Bahasa Arab karena memberikan energi, passion, dan sebagai modal akhirat. Penulis bisa dihubungi di: no hp: 08563598978, email: diny@uin-malang.ac.id atau https://t.me/AchmadDinyH




