ArtikelOpini

Rijāl Muktamar #5: KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) Cucu Muassis NU yang Bertalenta

Oleh: Achmad Diny Hidayatullah*

“Dalam tradisi para muhadditsin, nama besar tidak pernah menjadi jaminan. Yang diperiksa adalah sanadnya, pengabdiannya, dan jejak hidupnya. Begitu pula dalam memilih pemimpin.”

Di tengah menguatnya dinamika menjelang pemilihan Ketua Umum PBNU, nama KH Abdussalam Shohib, atau yang akrab disapa Gus Salam, semakin sering disebut sebagai salah satu figur yang layak diperhitungkan. Berbeda dengan tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang birokrasi negara atau politik praktis, Gus Salam lebih dikenal sebagai representasi kiai pesantren yang tetap menjaga jarak dari hiruk-pikuk kekuasaan, tetapi tidak pernah jauh dari urusan umat.

Dalam beberapa tahun terakhir, namanya muncul dalam berbagai forum silaturahim kiai, diskusi antar-pesantren, hingga percakapan para pengurus NU di berbagai daerah. Tidak sedikit yang melihatnya sebagai figur yang dapat menjadi titik temu antara generasi masyayikh sepuh dan generasi kepemimpinan NU yang lebih muda.

Apakah penilaian itu berlebihan? Dalam tradisi jar wa ta’dīl, jawabannya bukan iya atau tidak. Jawabannya adalah: mari membaca rekam jejaknya terlebih dahulu.

Denanyar: Tempat Tradisi Itu Dipelihara

Sulit memahami Gus Salam tanpa memahami Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang.

Bagi warga Nahdliyin, Denanyar bukan sekadar nama pesantren. Ia adalah salah satu mata rantai penting dalam sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama.

Di lingkungan inilah tumbuh tradisi keilmuan yang melahirkan banyak ulama, intelektual, dan pemimpin bangsa.

Dari lingkungan inilah pula lahir KH Bisri Syansuri, salah seorang Rais ‘Aam PBNU sekaligus pendiri NU, yang dikenal sebagai ulama fiqih dengan kedalaman ilmu yang luar biasa.

Gus Salam merupakan bagian dari mata rantai keluarga besar tersebut.

Ia adalah cucu dari KH Bisri Syansuri dan masih berada dalam keluarga besar para pendiri NU. Dari jalur nasab inilah ia juga masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Gus Sholah, Gus Ipul, dan sejumlah tokoh NU lainnya.

Namun, sebagaimana sering diingatkan para masyayikh, nasab hanyalah pintu masuk, bukan ukuran utama kepemimpinan.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menjaga warisan itu. Dan di sinilah perjalanan Gus Salam menjadi menarik.

Tumbuh sebagai Kiai, Bukan Sebagai Politisi

Berbeda dengan sebagian tokoh NU yang sejak muda aktif di panggung politik nasional, Gus Salam lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan pesantren.

Aktivitas utamanya adalah mengajar kitab, membina santri, mengembangkan pendidikan, serta menjaga kesinambungan tradisi Denanyar.

Karena itu, masyarakat lebih mengenalnya sebagai pengasuh pesantren daripada tokoh politik.

Dalam banyak forum, gaya penyampaiannya juga mencerminkan karakter tersebut.

Ia tidak dikenal sebagai orator yang berapi-api. Tidak pula sebagai tokoh yang gemar berpolemik.

Pilihan katanya tenang. Argumennya sistematis.

Dan yang paling menonjol adalah kemampuannya menjaga keseimbangan.

Karakter seperti ini sebenarnya cukup khas dalam tradisi pesantren.

Seorang kiai tidak harus selalu menjadi orang yang paling keras suaranya. Sering kali justru yang paling sedikit berbicara adalah yang paling banyak didengar.

NU Sebagai Jalan Khidmah

Di lingkungan Nahdlatul Ulama, Gus Salam bukanlah nama baru. Ia aktif dalam berbagai forum terutama saat mendampingi KH. Marzuki Mustamar di PWNU Jawa Timur. Beliau juga sering aktif di berbagai forum pendidikan hingga jaringan pesantren.

Iia juga dipercaya mengemban amanah di struktur NU, terutama dalam bidang yang berkaitan dengan pendidikan, kaderisasi, dan penguatan kelembagaan. PKPNU se-Jawa Timur pernah berada di bawah komandonya.

Peran ini mungkin tidak selalu tampak di permukaan. Namun di organisasi sebesar NU, justru pekerjaan-pekerjaan seperti inilah yang sering menentukan arah perjalanan organisasi.

Membangun kader. Menghubungkan pesantren.

Menjaga komunikasi antarkiai. Memastikan keputusan organisasi tetap berjalan.

Semua itu membutuhkan kesabaran lebih daripada sekadar kemampuan berpidato.

Kiai yang Membangun Jembatan

Salah satu kekuatan Gus Salam adalah kemampuannya diterima oleh berbagai kelompok.

Ia memiliki hubungan baik dengan banyak pesantren di Jawa Timur maupun Jawa Tengah.

Ia juga relatif dekat dengan berbagai generasi kepemimpinan NU, baik yang muda maupun yang tua.

Kedekatan itu bukan karena posisi. Melainkan karena tradisi silaturahim yang telah lama dibangun.

Dalam kultur pesantren, hubungan personal seperti ini sering kali jauh lebih penting daripada koalisi politik.

Karena NU sejak awal dibangun di atas jaringan kepercayaan (trust). Bukan sekadar jaringan kekuasaan.

Mungkin karena itu pula, ketika dinamika Muktamar mulai menghangat, nama Gus Salam berkali-kali muncul sebagai salah satu figur yang dinilai mampu menjaga keseimbangan internal organisasi.

Tidak Banyak Bicara, Namun Bertalenta

Ada karakter menarik yang sering disebut oleh para koleganya.

Gus Salam dikenal sebagai organisatoris bertalenta yang lebih suka mendengar daripada memotong pembicaraan.

Dalam musyawarah, ia tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Ia lebih memilih membiarkan semua pihak menyampaikan pandangannya terlebih dahulu.

Karakter ini tampak sederhana. Namun justru sangat penting dalam organisasi sebesar NU.

Karena PBNU bukan organisasi yang dipimpin oleh satu orang. Ia dipimpin oleh musyawarah para ulama.

Kemampuan mendengar sering kali menjadi syarat utama seorang pemimpin.

Empat Modal Besar Gus Salam

Dilihat dari perspektif rijāl al-adī, setidaknya ada empat kekuatan utama Gus Salam.

Pertama, sanad pesantren yang sangat kuat. Ia lahir dari keluarga ulama besar pendiri NU dan tumbuh dalam kultur pesantren Denanyar yang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tradisional di Indonesia.

Kedua, integritas personal. Selama ini Gus Salam relatif jauh dari kontroversi politik maupun persoalan hukum. Reputasinya lebih banyak dibangun melalui pendidikan dan pengabdian di lingkungan pesantren.

Ketiga, kemampuan menjembatani berbagai kelompok. Ia dikenal memiliki hubungan yang baik dengan banyak kiai, baik yang berada dalam struktur PBNU maupun di luar struktur.

Keempat, karakter kepemimpinan kolektif. Gaya kepemimpinannya lebih dekat dengan tradisi musyawarah daripada pendekatan yang personalistik. Di tengah organisasi sebesar NU, karakter seperti ini memiliki nilai tersendiri.

Tantangan yang Perlu Dijawab

Namun sebagaimana kaidah jar wa ta’dīl, membaca kelebihan saja tidak cukup. Ada beberapa tantangan yang juga perlu dicermati.

Pertama, eksposur nasional. Dibandingkan beberapa nama lain seperti Gus Yahya, Nasaruddin Umar, atau Gus Ipul, intensitas kehadiran Gus Salam di ruang publik nasional memang relatif lebih terbatas.

Bagi sebagian kalangan, ini justru menjadi kelebihan karena menunjukkan kesederhanaannya. Namun bagi yang lain, hal tersebut berarti ia perlu memperkenalkan gagasan kepemimpinannya secara lebih luas.

Kedua, pengalaman mengelola organisasi nasional. Walaupun sempat aktif di PBNU dan berbagai lembaga, publik tentu akan menantikan bagaimana pengalaman tersebut diterjemahkan menjadi kepemimpinan organisasi dengan jutaan anggota dan ribuan struktur.

Ketiga, artikulasi visi NU abad kedua. Muktamar kali ini tidak hanya memilih Ketua Umum. Ia juga menentukan arah NU menghadapi tantangan baru: digitalisasi, ekonomi umat, perubahan geopolitik, penguatan pesantren, hingga regenerasi ulama muda.

Karena itu, warga Nahdliyin tentu berharap setiap calon, termasuk Gus Salam, menyampaikan gagasan yang semakin konkret mengenai masa depan jam’iyyah.

Jika Muktamirin Memberinya Amanah

Apabila suatu hari Gus Salam memperoleh amanah sebagai Ketua Umum PBNU, besar kemungkinan warna kepemimpinannya akan sangat dipengaruhi oleh kultur pesantren Ploso sebagai almamternya serta pesantren Denanyar sebagai tempat pengabdiannya.

NU mungkin akan semakin menonjolkan penguatan pendidikan, kaderisasi ulama, pengembangan pesantren, dan konsolidasi internal.

Pendekatan komunikatif yang selama ini menjadi cirinya juga berpotensi memperkuat kohesi di antara berbagai kelompok dalam tubuh NU.

Namun tantangan yang akan dihadapinya juga tidak ringan. NU abad kedua tidak hanya dituntut menjaga tradisi.

NU juga harus mampu menjadi aktor penting dalam percaturan nasional dan global, tanpa kehilangan identitasnya sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah.

Di sinilah kepemimpinan akan benar-benar diuji.

Pelajaran dari Para Muhadditsin

Dalam kitab-kitab rijāl al-adī, para ulama sering memberikan penilaian yang menarik.

Mereka tidak hanya mencatat siapa gurunya. Mereka juga melihat bagaimana seseorang menjaga amanah ilmunya. Begitu pula ketika membaca Gus Salam.

Ia bukan tokoh yang dibentuk oleh panggung besar dalam kancah nasional. Ia lebih banyak ditempa oleh kehidupan pesantren.

Ia tidak dikenal karena retorika yang keras. Ia lebih sering dikenal karena ketenangan dan kemampuannya menjaga hubungan antarkiai.

Apakah modal seperti itu cukup untuk memimpin PBNU? Jawabannya tentu berada di tangan para muktamirin.

Namun satu hal yang layak dicatat adalah bahwa kehadiran Gus Salam dalam percaturan Muktamar menunjukkan satu kenyataan penting: pesantren masih menjadi sumber utama kaderisasi kepemimpinan Nahdlatul Ulama.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, NU tetap membutuhkan pemimpin yang mampu berdialog dengan dunia modern tanpa tercerabut dari akar tradisi. Gus Salam menawarkan satu kemungkinan jalan: memadukan keteduhan pesantren, kedalaman sanad keilmuan, dan kepemimpinan yang mengutamakan musyawarah. Apakah jalan itu akan menjadi pilihan para muktamirin, sejarah yang akan menjawabnya. Tugas kita hari ini adalah mengenal para tokoh dengan jujur, adil, dan beradab. Sebagaimana para muhadditsin mengajarkan ketika mereka menilai para perawi hadis. Wallāhu a’lam.

 

 

*Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang

Deskripsi Diri Singkat

  • Nama lengkap: Achmad Diny Hidayatullah
  • Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
  • Khodim Madrasah Diniyah Shirotul Huda, Tlogomas Malang

Achmad Diny Hidayatullah. ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretrais PCNU Kota Malang. Sekretaris SPI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP Shirotul Fuqoha Sepanjang Gondanglegi Malang dan PP Miftahul Huda Gading Malang.

Beberapa tulisan tersebar di beberapa media dan internet. Pernah menjadi Guru di Mts dan MA di Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang. Sempat diberi amanah sebagai Kepala Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (ULP) tahun 2012 – 2017, dan Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi (P3SR), dan sekarang sebagai Sekretaris Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivitas yang menyenangkan adalah sebagai Guru Ngaji. Beberapa buku hasil karyanya seperti Al-Qur’an wa Adz-Dzaka Al-Lughawi (2010), Bunga Rampai Manajemen Kurikulum Bahasa Arab (2018), Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren (2018), Aku, Buku, dan Peradaban: Transformasi Pesantren Melalui Penguatan Literasi (2018), تعليم اللغة العربية على مدخل المهارات الإجرائية في إندونيسيا (2019), Belajar Kehidupan Harmoni Dari Pesantren (2020), Peran dan Kiprah Alumni: Tracer Study UIN Maliki 2020 (2021), Solusi Santri dalam Era Society 5.0 (2021), NU dan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0 dalam buku Kado Muktamar NU ke-34 & Masa Depan Umat (2021), Wealth Management: Konsep dan Model Pengembangan Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (2021), Moderasi Beragama: Model Pembinaan Pendekatan Integratif Kontekstual (2022), Membudayakan Kehidupan Santri Pasca di Pesantren, dalam Militansi Santri dalam Menyongsong Indonesia Emas (2023), Pemanfaatan Aset di Kampus Badan Layanan Umum (2023), Kata, Kita, dan Semesta.(2025). Beberapa tulisannya juga dimuat diberbagai media dan jurnal. Menyukai Bahasa Arab karena memberikan energi, passion, dan sebagai modal akhirat. Penulis bisa dihubungi di: no hp: 08563598978, email: diny@uin-malang.ac.id atau https://t.me/AchmadDinyH 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button