ArtikelOpini

Rijāl Muktamar #4: Gus Yusuf Chudlori Dari Tegalrejo Menuju Muktamar: Menantikan Pimpinan PBNU yang Lebih Segar

Oleh: Achmad Diny Hidayatullah*

“Dalam tradisi para muhadditsin, nama besar tidak pernah menjadi jaminan. Yang diperiksa adalah sanadnya, pengabdiannya, dan jejak hidupnya. Begitu pula dalam memilih pemimpin.”

 

Para muhadditsin tidak pernah bertanya: siapa yang paling populer? Mereka bertanya: siapa gurunya, bagaimana sanad ilmunya, bagaimana akhlaknya, dan apa yang telah ia persembahkan untuk umat. Barangkali, cara berpikir seperti itulah yang perlu kita hidupkan kembali menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35.

Beberapa bulan terakhir, satu nama yang sebelumnya lebih akrab di lingkungan pesantren Jawa Tengah tiba-tiba menjadi pembicaraan nasional. Bukan karena ia mendeklarasikan diri. Bukan pula karena membangun panggung politik. Justru sebaliknya. Puluhan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) di Jawa Tengah datang kepadanya, menyampaikan harapan agar ia bersedia maju sebagai calon Ketua Umum PBNU.

Nama itu adalah KH Yusuf Chudlori, atau yang lebih akrab dipanggil Gus Yusuf.

Fenomena ini menarik. Dalam politik modern, seseorang biasanya lebih dahulu membentuk tim sukses, menyusun strategi komunikasi, dan mengumpulkan dukungan.

Di dunia pesantren, terkadang justru terjadi kebalikannya. Amanah datang lebih dahulu.

Profil orangnya muncul, baru berpikir belakangan. Lebih kurang peristiwa itulah yang dialami Gus Yusuf.

Ketika menerima dukungan dari beberapa PCNU Jawa Tengah pada pertengahan 2026, respons pertamanya bukan pidato kemenangan. Ia justru berbicara tentang amanah, musyawarah, dan persatuan NU. Sikap itu memperlihatkan karakter khas pesantren: jabatan bukan sesuatu yang dikejar, melainkan sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan apabila datang sebagai amanah.

Tegalrejo: Pesantren yang Melahirkan Banyak Kiai

Sulit berbicara tentang Gus Yusuf tanpa mengenal Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

Bagi warga NU, API Tegalrejo bukan sekadar pesantren besar. Ia adalah salah satu simpul penting jaringan pendidikan Islam tradisional di Jawa. Ribuan santri datang dari berbagai daerah. Puluhan ribu alumninya mengasuh pesantren, madrasah, majelis taklim, hingga menjadi penggerak NU di tingkat desa.

Pesantren ini didirikan oleh KH Chudlori, salah satu ulama kharismatik Jawa Tengah yang dikenal istiqamah menjaga tradisi salaf.

Di lingkungan seperti itulah Gus Yusuf tumbuh. Ia tidak dibesarkan oleh ruang birokrasi. Ia juga tidak ditempa oleh dunia politik. Sekolah utamanya adalah pesantren.

Hari-harinya dipenuhi dengan pengajian kitab, musyawarah, mendampingi santri, membangun pendidikan, serta melayani masyarakat.

Dalam tradisi pesantren, pengalaman seperti ini sering kali lebih berharga daripada gelar akademik.

Karena pesantren bukan hanya mengajarkan ilmu. Pesantren membentuk watak.

Dan watak seorang pemimpin sering kali lahir dari kebiasaan melayani, bukan dari kebiasaan dilayani.

Mewarisi Nama Besar, Membangun Jalan Sendiri

Menjadi putra seorang kiai besar bukan perkara mudah. Nama besar bisa menjadi modal. Tetapi sekaligus menjadi beban.

Setiap langkah akan dibandingkan. Setiap keputusan akan dinilai.

Gus Yusuf tampaknya memahami hal itu. Karena itulah, selama bertahun-tahun ia tidak muncul secara mencolok.

Ia tidak dikenal sebagai tokoh yang gemar tampil di media semacam dai kondang. Jarang memberikan komentar yang provokatif. Tidak pula membangun citra melalui kontroversi.

Sebaliknya, ia lebih banyak menghabiskan waktu mengembangkan pesantren, mendampingi santri, membina alumni, serta menguatkan jaringan pendidikan.

Karakter seperti ini mungkin tidak selalu menarik perhatian media. Tetapi justru sering dihargai di kalangan para masyayikh.

Dalam kultur NU, kiai yang tenang sering kali memiliki pengaruh yang jauh lebih besar daripada tokoh yang ’ramai’ diberitakan.

NU Sebagai Rumah Besar, Bukan Arena Pertandingan

Perjalanan Gus Yusuf di Nahdlatul Ulama juga berkembang secara bertahap.

Ia aktif dalam berbagai aktivitas organisasi, membangun komunikasi lintas pesantren, dan dikenal memiliki hubungan baik dengan banyak kiai di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Salah satu kekuatan utamanya adalah kemampuannya menjaga hubungan. Ia tidak dikenal sebagai figur yang mudah membangun konflik.

Sebaliknya, ia sering berada pada posisi menjembatani berbagai pandangan. Di tengah dinamika internal NU yang semakin kompleks, kemampuan seperti ini menjadi modal yang tidak kecil.

Karena memimpin PBNU bukan hanya soal membuat keputusan. Lebih sulit lagi adalah menjaga agar keputusan itu tetap diterima sebagai hasil musyawarah keluarga besar Nahdlatul Ulama.

Ketika Amanah Datang dari Bawah

Salah satu peristiwa yang membuat nama Gus Yusuf semakin diperhitungkan adalah dukungan terbuka dari beberapa PCNU di Jawa Tengah.

Peristiwa ini memiliki makna simbolik. Bukan semata-mata karena jumlah dukungannya. Melainkan karena arah dukungan tersebut lahir dari struktur organisasi di tingkat cabang.

Dalam sejarah NU, Jawa Tengah selalu menjadi salah satu barometer penting. Wilayah ini memiliki jumlah pesantren yang sangat besar, tradisi keilmuan yang panjang, serta basis Nahdliyin yang sangat kuat.

Ketika banyak PCNU secara bersama-sama menyampaikan harapan agar Gus Yusuf maju, publik tentu melihatnya sebagai sinyal bahwa ada aspirasi perubahan yang tumbuh dari bawah.

Namun Gus Yusuf tidak merespons dengan euforia. Ia justru menyampaikan bahwa seluruh proses harus tetap berada dalam koridor adab organisasi, musyawarah, dan persatuan jam’iyyah.

Sikap seperti ini menunjukkan bahwa ia memahami betul budaya organisasi NU. Muktamar bukan medan permusuhan. Melainkan ruang mencari kemaslahatan.

Empat Kekuatan Gus Yusuf

Jika dibaca melalui pendekatan rijāl al-adī, setidaknya ada beberapa modal besar yang dimiliki Gus Yusuf.

Pertama, akar pesantren yang sangat kuat. Ia lahir, tumbuh, dan mengabdi di lingkungan pesantren besar yang memiliki pengaruh luas di Indonesia.

Kedua, diterima oleh banyak kalangan kiai. Hubungannya dengan berbagai pesantren relatif cair. Ia dikenal tidak membangun sekat-sekat kelompok yang tajam.

Ketiga, karakter kepemimpinan yang teduh. Dalam banyak kesempatan, Gus Yusuf lebih memilih bahasa persatuan daripada kompetisi. Sikap ini cukup penting di tengah meningkatnya polarisasi dalam berbagai organisasi.

Keempat, legitimasi moral. Dukungan yang datang kepadanya lebih banyak lahir dari aspirasi para pengurus cabang dan jaringan pesantren daripada kampanye pribadi. Hal ini memberikan kesan bahwa pencalonannya tumbuh dari amanah kolektif, bukan semata-mata ambisi individual.

Tantangan yang Perlu Dijawab

Namun, sebagaimana diajarkan para muhadditsin, profil seorang tokoh tidak cukup hanya berisi pujian.

Ada beberapa tantangan yang juga perlu dibaca secara jujur.

Pertama, pengalaman nasional. Berbeda dengan Gus Yahya, Nasaruddin Umar, atau Gus Ipul yang telah lama mengelola organisasi tingkat nasional dan birokrasi negara, pengalaman Gus Yusuf lebih banyak berada pada dunia pesantren dan struktur NU di tingkat wilayah.

Jika kelak memimpin PBNU, ia perlu menunjukkan bahwa kepemimpinan pesantren dapat diterjemahkan menjadi kepemimpinan organisasi nasional dengan kompleksitas yang jauh lebih besar.

Kedua, eksposur internasional. NU abad kedua semakin aktif memainkan peran global. Diplomasi lintas agama, isu kemanusiaan, perubahan iklim, hingga perdamaian dunia menjadi agenda penting PBNU. Publik tentu akan menantikan bagaimana gagasan Gus Yusuf terhadap isu-isu tersebut.

Ketiga, artikulasi visi. Dukungan moral dari pesantren merupakan modal yang besar. Namun modal itu perlu dilengkapi dengan penjelasan yang lebih sistematis mengenai arah NU lima tahun ke depan: bagaimana memperkuat ekonomi warga, mempercepat kaderisasi ulama muda, memanfaatkan teknologi digital, sekaligus menjaga otoritas keilmuan pesantren.

Tantangan-tantangan ini bukanlah kekurangan. Justru inilah ruang yang harus dijawab oleh setiap calon pemimpin.

Jika Muktamirin Memberinya Amanah

Apabila suatu hari Gus Yusuf memperoleh amanah memimpin PBNU, kemungkinan besar warna kepemimpinannya akan sangat dipengaruhi oleh kultur pesantren.

PBNU mungkin akan bergerak lebih dekat dengan basis-basis tradisionalnya. Penguatan pesantren, kaderisasi ulama, pendidikan diniyah, serta pemberdayaan jaringan alumni kemungkinan menjadi prioritas utama.

Karakter kepemimpinannya yang tidak konfrontatif juga berpotensi memperkuat rekonsiliasi berbagai kelompok di internal NU. Namun, pada saat yang sama, NU abad kedua juga membutuhkan kemampuan membaca perubahan dunia.

Di sinilah tantangan terbesar bagi siapa pun yang kelak terpilih. Bagaimana menjaga kitab kuning tetap hidup di era kecerdasan buatan.

Bagaimana mempertahankan otoritas ulama di tengah banjir informasi digital.

Bagaimana membuat pesantren tetap menjadi pusat peradaban, bukan sekadar lembaga pendidikan.

Pelajaran dari Para Muhadditsin

Dalam kitab-kitab rijāl al-adī, para ulama sering kali memberikan penilaian yang sangat indah. Mereka tidak mengatakan, “Ia sempurna.” Mereka juga tidak mengatakan, “Ia tidak layak.”

Mereka hanya menyampaikan apa yang mereka ketahui secara jujur. Mereka menyebutkan sanad ilmu melalui para tokoh atau rijal-nya.

Mereka mencatat pengabdiannya. Mereka mengingatkan catatan yang perlu diperhatikan. Kemudian mereka menyerahkan penilaian kepada generasi sesudahnya.

Barangkali itulah cara terbaik membaca Gus Yusuf Chudlori. Ia bukan tokoh yang lahir dari panggung yang megah. Ia juga bukan figur yang dibesarkan oleh media. Ia adalah santri sekaligus anak kiai yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk mengajar, membina santri, mengembangkan lembaga pendidikan, dan menjaga jejaring para kiai.

Kini, ketika amanah dari berbagai PCNU mengetuk pintunya, perjalanan itu memasuki babak baru. Apakah ia akan menjadi Ketua Umum PBNU berikutnya? Hanya para muktamirin yang berhak menjawab.

Namun satu hal yang patut dicatat: kehadiran Gus Yusuf dalam percaturan Muktamar menunjukkan bahwa pesantren masih menjadi rahim utama kaderisasi kepemimpinan Nahdlatul Ulama. Dan selama pesantren terus melahirkan kader yang berilmu, beradab, dan siap berkhidmah, NU akan selalu memiliki harapan untuk menapaki abad keduanya dengan langkah yang teduh, kokoh, dan penuh kemaslahatan. Wallāhu a’lam.

 

*Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang

Deskripsi Diri Singkat

  • Nama lengkap: Achmad Diny Hidayatullah
  • Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
  • Khodim Madrasah Diniyah Shirotul Huda, Tlogomas Malang

Achmad Diny Hidayatullah. ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretrais PCNU Kota Malang. Sekretaris SPI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP Shirotul Fuqoha Sepanjang Gondanglegi Malang dan PP Miftahul Huda Gading Malang.

Beberapa tulisan tersebar di beberapa media dan internet. Pernah menjadi Guru di Mts dan MA di Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang. Sempat diberi amanah sebagai Kepala Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (ULP) tahun 2012 – 2017, dan Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi (P3SR), dan sekarang sebagai Sekretaris Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivitas yang menyenangkan adalah sebagai Guru Ngaji. Beberapa buku hasil karyanya seperti Al-Qur’an wa Adz-Dzaka Al-Lughawi (2010), Bunga Rampai Manajemen Kurikulum Bahasa Arab (2018), Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren (2018), Aku, Buku, dan Peradaban: Transformasi Pesantren Melalui Penguatan Literasi (2018), تعليم اللغة العربية على مدخل المهارات الإجرائية في إندونيسيا (2019), Belajar Kehidupan Harmoni Dari Pesantren (2020), Peran dan Kiprah Alumni: Tracer Study UIN Maliki 2020 (2021), Solusi Santri dalam Era Society 5.0 (2021), NU dan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0 dalam buku Kado Muktamar NU ke-34 & Masa Depan Umat (2021), Wealth Management: Konsep dan Model Pengembangan Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (2021), Moderasi Beragama: Model Pembinaan Pendekatan Integratif Kontekstual (2022), Membudayakan Kehidupan Santri Pasca di Pesantren, dalam Militansi Santri dalam Menyongsong Indonesia Emas (2023), Pemanfaatan Aset di Kampus Badan Layanan Umum (2023), Kata, Kita, dan Semesta.(2025). Beberapa tulisannya juga dimuat diberbagai media dan jurnal. Menyukai Bahasa Arab karena memberikan energi, passion, dan sebagai modal akhirat. Penulis bisa dihubungi di: no hp: 08563598978, email: diny@uin-malang.ac.id atau https://t.me/AchmadDinyH 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button