ArtikelOpini

Rijāl Muktamar #6: KH. Zulfa Mustofa Ketika Seorang Ahli Ushul Fikih Dipanggil Mengemban Amanah

Oleh: Achmad Diny Hidayatullah*

“Dalam tradisi para muhadditsin, nama besar tidak pernah menjadi jaminan. Yang diperiksa adalah sanadnya, pengabdiannya, dan jejak hidupnya. Begitu pula dalam memilih pemimpin.”

Yang membedakan seorang alim dengan seorang yang sekadar pandai bukan banyaknya kitab yang dibaca, melainkan bagaimana ilmu itu membentuk kebijaksanaan dan pengamalannya.

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, publik mulai mengenal sejumlah nama yang selama ini lebih banyak bekerja dalam senyap. Mereka tidak selalu menjadi pembicara utama di televisi. Tidak pula rajin membangun popularitas di media sosial. Namun di ruang-ruang Bahtsul Masail, forum keagamaan, dan majelis-majelis ilmu, nama mereka justru memiliki bobot yang besar.

Salah satu di antaranya adalah KH. Zulfa Mustofa.

Bagi sebagian warga NU, nama beliau mungkin belum sepopuler Gus Yahya, Gus Ipul, atau Prof. Nasaruddin Umar. Akan tetapi, bagi kalangan kiai, akademisi, santri, dan para pegiat Bahtsul Masail, KH. Zulfa dikenal sebagai sosok yang memiliki kedalaman ilmu, ketajaman analisis ushul fikih, dan keluasan penguasaan khazanah turats.

Menariknya lagi, dalam dinamika menjelang Muktamar ke-35, nama beliau mulai disebut sebagai salah satu figur yang layak dipertimbangkan. Ketika ditanya mengenai kemungkinan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU, jawabannya khas seorang santri: bukan ambisi pribadi, tetapi siap menerima apabila benar-benar menjadi amanah dari PWNU dan PCNU.

Kalimat itu sederhana.

Namun di dalam tradisi pesantren, kalimat seperti itu mempunyai makna yang dalam.

Lahir dari Keluarga Ulama, Tumbuh dalam Tradisi Sanad

  1. Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977 dari keluarga ulama yang memiliki akar kuat di Jawa dan Banten. Ayahnya adalah KH. Muqarrabin, seorang ulama asal Pekalongan, sementara garis ibunya berasal dari keluarga ulama Banten. Dari jalur ibu, beliau merupakan putra dari Nyai Hj. Marhumah Latifah (asal Tangerang), putri dari Nyai Hj. Maimunah yang juga ibunda KH. Ma’ruf Amin. Berarti beliau adalah keponakan KH. Ma’ruf Amin, mantan Rais Aam PBNU yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden RI. Sejumlah riwayat keluarga juga menyebutkan bahwa beliau berada dalam garis keturunan ulama besar Nusantara, Syekh Nawawi al-Bantani, meskipun rincian silsilahnya tidak banyak dipublikasikan secara resmi.

Namun sebagaimana sering dikatakan para masyayikh, “nasab yang mulia adalah kehormatan, tetapi ilmu dan akhlaklah yang menjaga kemuliaan itu.”

Dan di sinilah perjalanan KH. Zulfa menjadi menarik.

Beliau tidak mengandalkan nama keluarga. Beliau memilih menempuh jalan panjang khas seorang santri.

Santri Mbah Sahal yang Membawa Cara Berpikir Ushul Fikih

Bila ada satu nama yang paling membentuk cara berpikir KH. Zulfa Mustofa, maka nama itu adalah KH. MA. Sahal Mahfudh.

Bagi warga NU, Mbah Sahal bukan sekadar Rais ‘Aam PBNU. Beliau adalah pembaru metodologi fikih pesantren.

Melalui konsep Fiqh Sosial, Mbah Sahal mengajarkan bahwa kitab kuning tidak cukup dibaca secara tekstual, tetapi harus mampu menjawab perubahan masyarakat.

Di bawah bimbingan beliau, KH. Zulfa belajar bahwa ushul fikih bukan sekadar teori hukum.

Ushul fikih adalah cara berpikir. Cara membaca maqashid. Cara memahami maslahat. Cara menimbang antara nash dan realitas.

Karena itu, ketika mengajar ataupun mengikuti Bahtsul Masail, beliau lebih sering mengajak peserta memahami logika istinbath daripada sekadar menghafalkan pendapat ulama.

Karakter seperti ini membuatnya dihormati oleh banyak kalangan pesantren.

Ahli Ushul Fikih yang Juga Mencintai Sastra Arab

Ada sisi lain yang jarang diketahui publik.

  1. Zulfa Mustofa dikenal sebagai pecinta ilmu ‘Arudh—ilmu tentang metrum (ukuran irama yang ditentukan oleh jumlah, panjang pendek, dan tekanan suku kata dalam setiap baris) syair Arab yang menjadi salah satu disiplin paling rumit dalam tradisi klasik.

Tidak banyak ulama Indonesia yang benar-benar menguasai bidang ini.

Karena ilmu ‘arudh menuntut ketelitian bahasa, rasa sastra, sekaligus kemampuan membaca karya-karya klasik secara mendalam.

Kecintaannya terhadap syair membuat ceramah-ceramah beliau sering diselingi kutipan nadzam klasik plus beliau sendiri yang menciptakan nadzaman untuk tema dan pembahasan tertentu.

Beliau tidak sekadar mengutip. Tetapi menjelaskan mengapa ulama dahulu memilih diksi tertentu, bagaimana irama syair membantu proses menghafal, dan bagaimana sastra menjadi bagian dari pendidikan akhlak.

Bagi kalangan santri, gaya seperti ini menghadirkan suasana yang berbeda.

Ngaji terasa hidup. Kitab terasa dekat. Tradisi terasa indah.

Kiai yang Lebih Sering Berbicara di Forum Ilmiah

Ada tokoh yang terkenal karena kampanye politik. Ada yang terkenal karena media sosial.

  1. Zulfa Mustofa justru lebih dikenal karena forum ilmiah baik di pesantren maupun kampus.

Beliau aktif mengisi halaqah, Bahtsul Masail, pengajian kitab, hingga diskusi keilmuan.

Di lingkungan PBNU, beliau dipercaya sebagai Wakil Ketua Umum bidang keagamaan. Posisi strategis yang mempertemukannya dengan berbagai persoalan keagamaan umat dan dinamika organisasi. Sebelumnya, dalam dinamika internal PBNU, beliau juga pernah menerima amanah sebagai pejabat ketua umum dalam masa transisi organisasi.

Menariknya, meskipun menduduki jabatan tinggi, beliau tetap mempertahankan gaya seorang santri.

Tidak banyak retorika. Tidak banyak slogan. Lebih banyak argumentasi.

Karena itu, cukup relevan beliau dijuluki sebagai “kiai kitab kuning di ruang organisasi modern.”

Mengapa Namanya Mulai Diperhitungkan?

Mungkin inilah pertanyaan yang paling banyak muncul menjelang Muktamar.

Mengapa KH. Zulfa Mustofa tiba-tiba masuk dalam percakapan mengenai Ketua Umum PBNU?

Jawabannya bukan karena beliau membentuk tim sukses. Bukan pula karena melakukan safari politik.

Justru sebaliknya.

Nama beliau mulai disebut oleh berbagai kalangan karena dianggap memiliki kombinasi yang relatif langka: ulama pesantren; ahli ushul fikih; memahami tata kelola organisasi PBNU; diterima di banyak kelompok; serta relatif minim konflik terbuka.

Ketika ditanya media mengenai kemungkinan maju, beliau menjawab dengan sangat tenang bahwa dirinya tidak memiliki ambisi pribadi, tetapi tidak akan menolak jika benar-benar menjadi amanah dari cabang dan wilayah.

Kalimat itu memperlihatkan satu karakter penting.

Beliau tetap ingin dipilih. Bukan mencalonkan diri.

Empat Kekuatan KH. Zulfa Mustofa

Jika dibaca menggunakan pendekatan jar wa ta’dīl, setidaknya terdapat empat modal besar yang dimiliki beliau.

Pertama, otoritas keilmuan. Di antara nama-nama yang beredar menjelang Muktamar, KH. Zulfa termasuk figur dengan reputasi akademik keislaman yang sangat kuat.

Beliau dikenal luas dalam bidang ushul fikih, qawa’id fiqhiyyah, dan metodologi istinbath hukum. Ini merupakan modal yang sangat penting bagi organisasi yang identitas utamanya adalah jam’iyyah ulama.

Kedua, sanad keilmuan pesantren. Beliau merupakan santri langsung KH. MA. Sahal Mahfudh. Dalam tradisi NU, sanad bukan sekadar hubungan guru dan murid.

Sanad adalah transmisi cara berpikir, adab, dan kebijaksanaan. Jejak pemikiran Mbah Sahal tampak dalam cara beliau membaca hubungan antara teks, maqashid, dan realitas sosial.

Ketiga, kemampuan menjembatani Syuriyah dan Tanfidziyah. Jarang ada tokoh yang sama-sama dihormati oleh kalangan ahli fikih sekaligus dipercaya mengelola organisasi. KH. Zulfa memiliki pengalaman di keduanya.

Keempat, integritas pribadi. Hingga kini, nama beliau relatif bersih dari perkara hukum maupun konflik politik yang menonjol. Reputasinya lebih banyak dibangun melalui dunia pendidikan, pengajian, dan organisasi.

Tantangan yang Juga Perlu Dijawab

Namun para muhadditsin mengajarkan satu hal penting. Tidak ada manusia yang hanya memiliki sisi terang. Karena itu beberapa tantangan juga perlu dicatat.

Pertama, popularitas nasional. Di luar kalangan pesantren dan struktur NU, nama KH. Zulfa belum sepopuler beberapa kandidat lain. Padahal Ketua Umum PBNU hari ini tidak hanya berbicara kepada warga NU. Ia juga menjadi wajah Islam Indonesia di tingkat nasional dan internasional.

Kedua, pengalaman diplomasi global. NU abad kedua semakin aktif dalam isu perdamaian dunia, kemanusiaan, perubahan iklim, hingga diplomasi lintas agama. Publik tentu akan menunggu bagaimana gagasan dan kiprah beliau mengenai peran global NU.

Ketiga, artikulasi visi organisasi. Kedalaman ilmu merupakan modal besar. Namun muktamirin juga membutuhkan penjelasan yang konkret mengenai arah PBNU lima tahun ke depan: digitalisasi organisasi, penguatan ekonomi warga, pengkaderan ulama, pengembangan pesantren, serta kemandirian jam’iyyah. Di sinilah ruang yang masih dapat terus diperkaya.

Jika Muktamirin Memberikan Amanah

Seandainya KH. Zulfa Mustofa memperoleh amanah memimpin PBNU, kemungkinan besar wajah kepemimpinannya akan sangat dipengaruhi oleh tradisi Fiqh Sosial yang diwariskan Mbah Sahal.

PBNU mungkin akan semakin menonjolkan penguatan Bahtsul Masail dengan fatwa-fatwa yang berpihak pada kaum yang lemah, peningkatan kualitas kader ulama, pengembangan metodologi fikih yang responsif terhadap persoalan kontemporer, serta mempererat hubungan antara pesantren dan perguruan tinggi.

Beliau juga berpotensi memperkuat posisi Syuriyah sebagai pusat otoritas keilmuan tanpa mengurangi dinamika Tanfidziyah sebagai pelaksana organisasi.

Tentu saja, tantangan zaman tetap tidak ringan. NU memasuki abad kedua dengan persoalan yang jauh lebih kompleks dibanding masa-masa sebelumnya: kecerdasan buatan, disrupsi digital, perubahan geopolitik, ekonomi hijau, hingga krisis otoritas keagamaan di ruang media sosial.

Karena itu, siapa pun yang memimpin PBNU harus mampu menjaga keseimbangan antara kedalaman turats dan kemampuan membaca masa depan.

Pelajaran dari Para Muhadditsin

Para ulama hadis tidak pernah hanya bertanya, “Berapa banyak muridnya?”

Mereka juga bertanya, “Bagaimana pemahamannya? Bagaimana amanahnya? Bagaimana adabnya?”

Dengan ukuran itulah KH. Zulfa Mustofa layak dibaca. Beliau bukan figur yang dibesarkan oleh popularitas. Beliau lebih banyak tumbuh melalui kitab-kitab ushul fikih, majelis-majelis ilmu, serta forum-forum ilmiah yang mungkin tidak selalu diliput media.

Namun sejarah NU menunjukkan bahwa organisasi ini berkali-kali dipimpin oleh tokoh-tokoh yang justru lahir dari kedalaman ilmu, bukan dari riuhnya panggung.

Apakah KH. Zulfa Mustofa akan menjadi pilihan para muktamirin? Jawabannya tentu berada di tangan para pemegang hak suara.

Akan tetapi, satu hal yang layak dicatat adalah bahwa kehadiran beliau dalam bursa Muktamar mengingatkan kita pada jati diri Nahdlatul Ulama sendiri: sebuah jam’iyyah yang lahir dari pesantren, dibangun oleh ilmu, dijaga oleh sanad, dan dipimpin oleh mereka yang memahami bahwa jabatan bukan tujuan, melainkan amanah.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, figur seperti KH. Zulfa Mustofa menghadirkan satu pesan sederhana tetapi mendalam: bahwa NU tetap membutuhkan pemimpin yang mampu membaca kitab kuning dengan kedalaman yang sama seperti membaca tantangan abad ke-21. Itulah warisan para ulama, dan mungkin itulah pula yang sedang dicari oleh Muktamar ke-35. Wallāhu a’lam.

 

*Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang

Deskripsi Diri Singkat

  • Nama lengkap: Achmad Diny Hidayatullah
  • Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
  • Khodim Madrasah Diniyah Shirotul Huda, Tlogomas Malang

Achmad Diny Hidayatullah. ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretrais PCNU Kota Malang. Sekretaris SPI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP Shirotul Fuqoha Sepanjang Gondanglegi Malang dan PP Miftahul Huda Gading Malang.

Beberapa tulisan tersebar di beberapa media dan internet. Pernah menjadi Guru di Mts dan MA di Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang. Sempat diberi amanah sebagai Kepala Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (ULP) tahun 2012 – 2017, dan Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi (P3SR), dan sekarang sebagai Sekretaris Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivitas yang menyenangkan adalah sebagai Guru Ngaji. Beberapa buku hasil karyanya seperti Al-Qur’an wa Adz-Dzaka Al-Lughawi (2010), Bunga Rampai Manajemen Kurikulum Bahasa Arab (2018), Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren (2018), Aku, Buku, dan Peradaban: Transformasi Pesantren Melalui Penguatan Literasi (2018), تعليم اللغة العربية على مدخل المهارات الإجرائية في إندونيسيا (2019), Belajar Kehidupan Harmoni Dari Pesantren (2020), Peran dan Kiprah Alumni: Tracer Study UIN Maliki 2020 (2021), Solusi Santri dalam Era Society 5.0 (2021), NU dan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0 dalam buku Kado Muktamar NU ke-34 & Masa Depan Umat (2021), Wealth Management: Konsep dan Model Pengembangan Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (2021), Moderasi Beragama: Model Pembinaan Pendekatan Integratif Kontekstual (2022), Membudayakan Kehidupan Santri Pasca di Pesantren, dalam Militansi Santri dalam Menyongsong Indonesia Emas (2023), Pemanfaatan Aset di Kampus Badan Layanan Umum (2023), Kata, Kita, dan Semesta.(2025). Beberapa tulisannya juga dimuat diberbagai media dan jurnal. Menyukai Bahasa Arab karena memberikan energi, passion, dan sebagai modal akhirat. Penulis bisa dihubungi di: no hp: 08563598978, email: diny@uin-malang.ac.id atau https://t.me/AchmadDinyH 

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Periksa Juga
Close
Back to top button