Oleh: Achmad Diny Hidayatullah*

“Dalam tradisi para muhadditsin, nama besar tidak pernah menjadi jaminan. Yang diperiksa adalah sanadnya, pengabdiannya, dan jejak hidupnya. Begitu pula dalam memilih pemimpin.”
Di antara nama-nama yang mulai diperbincangkan menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama ke-35, Gus Rozin memiliki karakter yang berbeda. Ia bukan tokoh yang lahir dari birokrasi negara seperti Prof. Nasaruddin Umar. Bukan pula organisator dan pejabat seperti Gus Ipul. Ia juga bukan semata-mata ahli ushul fikih sebagaimana KH. Zulfa Mustofa.
Gus Rozin adalah perpaduan yang menarik: anak kiai besar, dibimbing langsung oleh Rais ‘Aam PBNU, pengasuh pesantren, intelektual, organisator NU, sekaligus manajer pendidikan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kiprahnya semakin menonjol. Setelah memimpin Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU selama dua periode dan menjadi salah satu penggagas dan tokoh penting Gerakan Ayo Mondok, ia dipercaya menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah periode 2024–2029, salah satu wilayah NU terbesar dan paling strategis di Indonesia.
Pertanyaannya kemudian sederhana. Apakah perjalanan panjang itu cukup menjadi bekal memimpin PBNU pada abad keduanya?
Sebagaimana tradisi jarḥ wa ta’dīl, mari kita mengenalnya terlebih dahulu.
Putra Angkat Mbah Sahal: Mewarisi Ilmu, Bukan Sekadar Nama
Ada nama yang tidak mungkin dilepaskan dari perjalanan Gus Rozin.
Secara genetika beliau adalah putra kandung dari KH. Moch. Djamaluddin Ahmad (pengasuh Pesantren Bumi Damai Al-Muhibbin Bahrul Ulum Tambakberas). Namun semenjak kecil beliau diasuh oleh KH. MA. Sahal Mahfudh bersama Bu Nyai Hj. Nafisah Sahal.
Sebagai putra Rais ‘Aam PBNU (1999–2014), Gus Rozin tumbuh di lingkungan Pesantren Maslakul Huda Kajen, Pati, sebuah pesantren yang sejak lama menjadi laboratorium pemikiran Islam Nusantara. Di rumah itulah ia menyaksikan bagaimana Mbah Sahal tidak hanya mengajar kitab, tetapi juga membangun koperasi, rumah sakit, pendidikan, ekonomi umat, hingga merumuskan konsep Fiqh Sosial yang kemudian menjadi salah satu warisan intelektual terbesar NU modern.
Banyak orang mewarisi nama besar.
Tidak banyak yang berhasil mewarisi cara berpikir.
Pada diri Gus Rozin, pengaruh Mbah Sahal tampak bukan pada gaya bicara, melainkan pada cara melihat organisasi.
Baginya, pesantren bukan hanya tempat mengaji.
Pesantren adalah pusat pemberdayaan masyarakat.
Santri yang Tidak Berhenti Belajar
Perjalanan intelektual Gus Rozin juga menarik.
Ia menempuh pendidikan dasar hingga aliyah di Perguruan Islam Mathali’ul Falah (PIM) Kajen, salah satu lembaga pendidikan paling bergengsi di lingkungan pesantren NU. Setelah itu, ia melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Fathul Ulum Kwagean, Kediri, yang dikenal kuat dalam tradisi fikih dan kitab kuning.
Namun perjalanan ilmunya tidak berhenti di pesantren.
Ia kemudian melanjutkan studi di Jakarta dan meraih Master of Education (M.Ed.) di Monash University, Australia, dengan fokus pada manajemen pendidikan. Pada 2023, ia menyelesaikan studi doktoralnya di UIN Walisongo Semarang.
Jejak pendidikan ini memperlihatkan sesuatu yang khas.
Jika Mbah Sahal mempertemukan fikih dengan ekonomi, maka Gus Rozin mencoba mempertemukan tradisi pesantren dengan ilmu manajemen modern.
RMI PBNU dan Gerakan “Ayo Mondok”
Barangkali inilah kontribusi Gus Rozin yang paling mudah dikenali publik.
Ketika dipercaya memimpin Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU (2015–2021), ia melihat satu tantangan besar.
Pesantren semakin banyak.
Tetapi citra pesantren di mata masyarakat belum selalu dipahami secara utuh.
Dari sinilah lahir gerakan “Ayo Mondok”.
Gerakan ini bukan sekadar kampanye.
Ia adalah ikhtiar mengembalikan kepercayaan masyarakat kepada pesantren sebagai pusat pendidikan karakter, akhlak, dan keilmuan Islam.
Di bawah kepemimpinannya, RMI tidak hanya memperkuat jaringan pesantren, tetapi juga mendorong peningkatan mutu, tata kelola, dan kolaborasi antarlembaga pendidikan. Gerakan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu ikon dakwah pendidikan NU di tingkat nasional.
Boleh jadi, tidak semua orang mengenal nama Gus Rozin.
Tetapi sangat banyak orang yang pernah mendengar slogan “Ayo Mondok.”
Dan itulah salah satu bentuk kepemimpinan yang efektif.
Kadang gagasannya lebih terkenal daripada orangnya.
Organisator yang Tumbuh Bertahap
Ada tokoh yang langsung muncul di pucuk organisasi.
Gus Rozin bukan tipe itu.
Ia tumbuh setahap demi setahap.
Mulai dari PP IPNU, kemudian PP GP Ansor, lalu menjadi Wakil Ketua LP Ma’arif PBNU, Ketua RMI PWNU Jawa Tengah, Ketua RMI PBNU, Katib Syuriyah PBNU, hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah.
Jejak ini menunjukkan satu hal.
Ia memahami NU bukan hanya dari ruang rapat PBNU.
Tetapi dari bawah.
Dari pelajar.
Dari pemuda.
Dari pesantren.
Dari lembaga pendidikan.
Dari struktur wilayah.
Dalam organisasi sebesar NU, pengalaman berjenjang seperti ini merupakan modal yang tidak kecil.
Ketua PWNU Jawa Tengah: Memimpin Jantung Nahdlatul Ulama
Menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah bukan sekadar memimpin satu wilayah.
Jawa Tengah sering disebut sebagai jantung Nahdlatul Ulama.
Jumlah pesantrennya sangat besar.
Basis Nahdliyinnya sangat kuat.
Banyak keputusan penting PBNU juga berakar dari dinamika Jawa Tengah.
Terpilihnya Gus Rozin sebagai Ketua PWNU Jateng pada Konferwil XVI 2024 menunjukkan bahwa ia memperoleh kepercayaan luas dari para kiai dan pengurus di wilayah yang sangat strategis ini. Setelah dilantik, ia menegaskan komitmennya untuk memperkuat konsolidasi organisasi, kaderisasi, dan pelayanan umat sejalan dengan arah kebijakan PBNU.
Dalam berbagai kesempatan, Gus Rozin juga menekankan bahwa NU harus hadir dalam pendidikan, pelayanan sosial, penanggulangan bencana, dan penguatan nilai kebangsaan. Pada Harlah NU ke-100 di Jawa Tengah, misalnya, ia menegaskan bahwa NU harus terus menjadi rumah pelayanan masyarakat, terutama pada saat-saat krisis.
Empat Kekuatan Gus Rozin
Dibaca melalui pendekatan rijāl al-ḥadīṡ, setidaknya ada empat modal besar yang dimiliki Gus Rozin.
Pertama, sanad keilmuan yang sangat kuat.
Ia dibentuk langsung oleh KH. MA. Sahal Mahfudh, salah satu pemikir terbesar NU modern.
Kedua, pengalaman organisasi yang lengkap.
Dari IPNU, Ansor, LP Ma’arif, RMI, Katib Syuriyah PBNU, hingga Ketua PWNU Jawa Tengah.
Sedikit tokoh NU yang memiliki lintasan organisasi selengkap itu.
Ketiga, visi pendidikan.
Gerakan Ayo Mondok menunjukkan bahwa ia bukan hanya mengelola organisasi, tetapi juga mampu melahirkan gagasan yang berdampak luas bagi dunia pesantren.
Keempat, kemampuan memadukan tradisi dan manajemen modern.
Latar belakang pendidikan di Monash University dan pengalaman akademik memberikan perspektif yang relatif berbeda dibanding banyak kiai pesantren.
Tantangan yang Perlu Dijawab
Dalam tradisi jarḥ wa ta’dīl, pujian tanpa catatan bukanlah objektivitas.
Ada beberapa tantangan yang juga layak menjadi perhatian.
Pertama, pengalaman nasional di level eksekutif PBNU.
Walaupun pernah memimpin RMI PBNU dan kini menjadi Ketua PWNU Jawa Tengah, publik tentu akan menunggu bagaimana gagasan beliau diterjemahkan ke dalam tata kelola PBNU secara keseluruhan.
Kedua, eksposur internasional.
Dibandingkan Gus Yahya atau Prof. Nasaruddin Umar, kiprah global Gus Rozin memang belum terlalu menonjol.
Padahal NU abad kedua semakin aktif memainkan peran dalam diplomasi keagamaan dunia.
Ketiga, artikulasi visi ekonomi dan teknologi.
Gerakan pendidikan telah menjadi kekuatan beliau.
Namun muktamirin juga akan menantikan bagaimana gagasan beliau mengenai transformasi digital NU, kemandirian ekonomi warga, dan penguatan ekosistem pesantren di era kecerdasan buatan.
Jika Muktamirin Memberikan Amanah
Apabila suatu hari Gus Rozin dipercaya memimpin PBNU, besar kemungkinan wajah kepemimpinannya akan menempatkan pesantren sebagai pusat transformasi sosial.
Penguatan pendidikan.
Kaderisasi ulama.
Modernisasi tata kelola pesantren.
Kolaborasi antara pesantren, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Semua itu tampaknya akan menjadi prioritas.
Pengaruh pemikiran Mbah Sahal juga memungkinkan pendekatan yang lebih kuat pada pemberdayaan ekonomi umat, bukan hanya penguatan kelembagaan.
Namun tantangan terbesar tetap sama.
Bagaimana membawa pengalaman memimpin Jawa Tengah menjadi kepemimpinan nasional yang mampu merangkul keragaman NU dari Aceh hingga Papua.
Pelajaran dari Para Muhadditsin
Para ulama hadis mengajarkan bahwa seorang perawi tidak dinilai hanya dari siapa ayahnya.
Ia dinilai dari bagaimana ia menjaga amanah ilmu.
Pelajaran itu sangat relevan ketika membaca Gus Rozin.
Ya, ia adalah putra KH. MA. Sahal Mahfudh.
Namun perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa ia berusaha membangun identitasnya sendiri: sebagai penggerak pendidikan pesantren, organisator NU, pelopor Ayo Mondok, dan kini pemimpin PWNU Jawa Tengah.
Mungkin inilah yang membuat namanya mulai diperhitungkan menjelang Muktamar.
Bukan semata karena nasabnya.
Melainkan karena rekam jejak khidmahnya.
Pada akhirnya, sebagaimana tradisi NU yang diwariskan para muassis, Muktamar bukanlah perlombaan mencari tokoh yang paling terkenal, melainkan ikhtiar menemukan sosok yang paling siap mengemban amanah. Dan bila perjalanan hidup menjadi salah satu ukuran, maka KH. Abdul Ghaffar Rozin telah menunjukkan bahwa kepemimpinan yang lahir dari pesantren, diperkaya ilmu modern, dan ditempa dalam khidmah organisasi tetap memiliki tempat penting dalam menapaki abad kedua Nahdlatul Ulama. Wallāhu a’lam.
*Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang/Wakil Sekretaris PCNU kota Malang

Deskripsi Diri Singkat
- Nama lengkap: Achmad Diny Hidayatullah
- Dosen Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
- Khodim Madrasah Diniyah Shirotul Huda, Tlogomas Malang
Achmad Diny Hidayatullah. ASN UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Wakil Sekretrais PCNU Kota Malang. Sekretaris SPI UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP Shirotul Fuqoha Sepanjang Gondanglegi Malang dan PP Miftahul Huda Gading Malang.
Beberapa tulisan tersebar di beberapa media dan internet. Pernah menjadi Guru di Mts dan MA di Pesantren Nurul Ulum Kebonsari Malang. Sempat diberi amanah sebagai Kepala Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (ULP) tahun 2012 – 2017, dan Kepala Pusat Pengelolaan dan Pengembangan Sistem Remunerasi (P3SR), dan sekarang sebagai Sekretaris Satuan Pemeriksaan Internal (SPI) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Aktivitas yang menyenangkan adalah sebagai Guru Ngaji. Beberapa buku hasil karyanya seperti Al-Qur’an wa Adz-Dzaka Al-Lughawi (2010), Bunga Rampai Manajemen Kurikulum Bahasa Arab (2018), Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren (2018), Aku, Buku, dan Peradaban: Transformasi Pesantren Melalui Penguatan Literasi (2018), تعليم اللغة العربية على مدخل المهارات الإجرائية في إندونيسيا (2019), Belajar Kehidupan Harmoni Dari Pesantren (2020), Peran dan Kiprah Alumni: Tracer Study UIN Maliki 2020 (2021), Solusi Santri dalam Era Society 5.0 (2021), NU dan Pendidikan Pesantren di Era Society 5.0 dalam buku Kado Muktamar NU ke-34 & Masa Depan Umat (2021), Wealth Management: Konsep dan Model Pengembangan Perguruan Tinggi Badan Layanan Umum (2021), Moderasi Beragama: Model Pembinaan Pendekatan Integratif Kontekstual (2022), Membudayakan Kehidupan Santri Pasca di Pesantren, dalam Militansi Santri dalam Menyongsong Indonesia Emas (2023), Pemanfaatan Aset di Kampus Badan Layanan Umum (2023), Kata, Kita, dan Semesta.(2025). Beberapa tulisannya juga dimuat diberbagai media dan jurnal. Menyukai Bahasa Arab karena memberikan energi, passion, dan sebagai modal akhirat. Penulis bisa dihubungi di: no hp: 08563598978, email: diny@uin-malang.ac.id atau https://t.me/AchmadDinyH

