Resmi Dilantik, PC PERGUNU Kota Malang Siap Perkuat Moderasi Beragama dan Inovasi Pendidikan

MALANG – (16/11/2025) Pengurus cabang PERGUNU Kota Malang resmi dilantik dalam sebuah upacara yang berlangsung meriah di Auditorium MAN 2 Kota Malang, Minggu (16/11). Pelantikan tersebut dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertema “Peran Guru Nahdlatul Ulama dalam Penguatan Moderasi Beragama dan Transformasi Pendidikan di Era Digital.” Acara ini menarik perhatian berbagai kalangan, mulai dari tokoh organisasi, akademisi, hingga praktisi pendidikan.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Ketua Pengurus Pusat PERGUNU, Ketua PERGUNU Jawa Timur, dan Ketua PCNU Kota Malang. Turut hadir pula para rektor, wakil rektor, dan dosen dari sejumlah perguruan tinggi di Malang Raya, seperti UNIKAMA, UNISMA, UNIRA, Universitas Ma Chung, dan STAIMA Al-Hikam. Turut hadir pula kepala MIN 1 dan MIN 2 Kota Malang serta perwakilan dari Penerbit LitNus dan ANSOR Kota Malang tampak dalam jajaran tamu undangan, menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan literasi pendidikan.
Ketua PC PERGUNU Kota Malang, Dr. H. Samsudin, M.Pd, dalam sambutan pembukanya menegaskan bahwa guru Nahdlatul Ulama memegang peran strategis di tengah dinamika sosial-keagamaan dan perkembangan teknologi yang semakin pesat.
Menurutnya, guru NU tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menjaga harmoni sosial melalui nilai-nilai keislaman moderat yang selama ini menjadi ciri khas pendidikan NU.

“Guru harus menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas. Kita menghadapi zaman yang cepat berubah, namun prinsip moderasi tetap harus dikedepankan,” ujarnya.
Sementara itu, KH Israqunnajah, M.Ag, Ketua PCNU Kota Malang, menekankan pentingnya keteladanan guru di tengah maraknya informasi digital yang kerap tidak terverifikasi. Ia menyebut bahwa moderasi beragama perlu dihidupkan melalui perilaku sehari-hari, bukan hanya teori dalam kelas.
“Anak-anak kita hidup di era banjir informasi. Guru adalah filter pertama yang mampu mengarahkan mereka kepada pemahaman agama yang damai dan seimbang,” tegasnya.
Seminar nasional menghadirkan tiga narasumber dengan latar belakang berbeda, memberikan perspektif yang saling melengkapi.
Narasumber pertama, KH Asep Saifuddin Chalim, M.A, memaparkan pentingnya kepemimpinan spiritual dalam menghadapi tantangan pendidikan modern. Ia menegaskan bahwa teknologi tidak dapat menggantikan peran moralitas dan akhlak dalam membentuk karakter peserta didik.
“Teknologi adalah alat. Jati diri guru adalah pembentuk peradaban,” ujarnya.
Narasumber kedua, Prof. Dr. Djunaidi Mistar, menyoroti urgensi literasi digital bagi tenaga pendidik. Ia menjelaskan bahwa transformasi pendidikan tidak bisa dihindari, terutama dengan semakin luasnya penggunaan platform digital dan kecerdasan buatan.
Prof. Djunaidi mendorong guru untuk memperbarui kompetensi pedagogik, tidak hanya dalam mengajar, tetapi juga dalam menyeleksi informasi digital yang valid dan bermanfaat.
“Jika guru tidak menguasai teknologi, ia akan tertinggal dari siswanya sendiri,” katanya.
Narasumber terakhir, Dr. H. A. Hidayatullah, M.Pd, menyampaikan materi tentang strategi penerapan moderasi beragama di lingkungan sekolah. Ia mengingatkan bahwa nilai-nilai toleransi, inklusivitas, dan penghargaan terhadap keberagaman harus diterapkan melalui praktik nyata yang bersentuhan langsung dengan peserta didik.
“Moderasi harus diajarkan dengan kebiasaan, pembiasaan, dan pembudayaan. Bukan cukup hanya menjadi slogan,” jelasnya.
Kehadiran pimpinan perguruan tinggi dari berbagai institusi menunjukkan adanya komitmen untuk memperkuat jejaring pendidikan di Kota Malang. Kerja sama antara PERGUNU, kampus, dan lembaga penerbitan diharapkan dapat menghasilkan inovasi dalam kurikulum, penelitian, dan pelatihan guru yang relevan dengan tantangan era digital.
Penerbit LitNus yang turut hadir juga disebut akan berperan dalam menyediakan literatur pendidikan bermutu yang dapat mendukung program-program pelatihan guru NU di wilayah Malang.
Pelantikan pengurus baru PC PERGUNU Kota Malang ini dipandang sebagai momentum untuk menguatkan konsolidasi organisasi guru NU dalam menjalankan program pendidikan yang inklusif, moderat, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Para peserta seminar berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan untuk meningkatkan kompetensi dan wawasan guru.
Acara ditutup dengan harapan agar PERGUNU Kota Malang dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga moderasi beragama, sekaligus menjadi motor penggerak transformasi pendidikan di era digital.



