ArtikelOpini

Menjadi Manusia

Fenomena beragama yang kehilangan sisi manusiawinya, ternyata mengundang banyak tanya. Di antara banyak manusia beragama yang disebut tidak humanis, maka timbul pertanyaan yang terlihat sepele. Namun perkara menjawabnya tidak pernah mudah. Bagiamana seharusnya kita beragama? Tentu yang dimaksud di sini adalah menjalankan agama tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan.

Pertanyaan tersebut muncul dari seorang ibu (hampir) paruh baya yang membaca tulisan “Pada Siapa Kita Sedang Menghamba”. Sebelum jauh mblarah membahas ini itu, saya ingin mengucapkan terima kasih mendalam. Terima kasih sudah selalu njawil saya untuk lebih semangat menulis. Kembali ke pembahasan semula…

Sebenarnya menjawab pertanyaan tersebut bukan domain saya, belum maqamnya. Namun akan saya coba utarakan pandangan saya, yang tentu saja pemahaman tersebut diperoleh setelah mendengarkan para ‘alim dawuh dan membaca banyak karya beliau-beliau.

Mengawali pandangan tentang beragama yang humanis, saya teringat kisah emaknya Gus Ulil Abshar Abdalla. Dalam suatu kesempatan, beliau mengisahkan bahwa emaknya –Bu Nyai Salamah — adalah seorang perempuan desa yang beragama dengan amat sederhana. Hanya bermodal Tafsir Al Ibriz –karangan KH. Bisri Mustofa Allah Yarham– dan Munjiyat karangan Kiai Soleh Darat –guru ngaji Kartini. Bu Nyai Salamah menjalani hari-harinya dengan menghabiskan pagi sampai dhuhur untuk mengurus pekerjaan domestik dan ngrumati anak-anak non biologis. Jika ada yang bertanya, apakah Bu Nyai tidak menunaikan salat dhuha? Sabar dulu, tahan dulu. Nanti kita akan merenungi jawabannya bersama.
Usai kesibukan sedari pagi, Bu Nyai Salamah biasanya akan beristirahat sampai pukul 2 siang. Setelahnya, beliau akan membaca Tafsir Al Ibriz karangan Abah dari besannya, kadang-kadang juga membaca Munjiyat. Beliau membacanya secara perlahan, meresapi kata demi kata. Mencoba merenungi makna keagamaan yang sesungguhnya. Dalam penuturannya, Gus Ulil menyebutkan bahwa corak beragama Bu Nyai Salamah sama seperti beragama ala emak-emak desa lainnya. Ya salat, ya ngaji semampunya, ya srawung dengan sesama, dan tentu tidak repot mengurusi kualitas spiritual orang lain.

Beragama yang dicontohkan oleh Bu Nyai Salamah tersebut cocok dengan apa yang dikatakan oleh William James. Istilah yang digunakan dalam bukunya dengan judul “The Varieties of Religius Experience” untuk menggambarkan beragama dengan sederhana adalah “experience of individual men in their solitude”. Istilah William inilah yang akan menjawab (barangkali ada) pertanyaan apakah Bu Nyai tidak salat duha, kenapa Gus Ulil tidak menceritakannya, apalagi membandingkannya dengan ritual ibadah orang lain. Bagi Bu Nyai Salamah dan entah berapa juta emak-emak desa lainnya, beragama untuk parameter “salih ritual” adalah perjumpaan sunyi dengan Sang Ilahi. Cukuplah sujud-sujud panjang, dan belasan rakaat salat sunnah menjadi pengalaman syahdu nan puitis yang hanya dipahami oleh beliau dan Sang Pencipta. Selebihnya, salih secara sosial diwujudkan lewat pengabdian pada umat manusia.

Pada Bu Nyai Salamah, para Bu Nyai lainnya, dan segenap emak-emak desa yang beragama dengan amat sederhana, kita bisa belajar soal kualitas iman yang tidak melulu diukur dari seberapa sering kita matroli urusan ibadah orang lain. Pada beliau-beliaulah, kita dapati corak keagamaan yang humanis, juga teduh. Jauh sekali dari agenda pamer kualitas spiritual.

Kisah Emak dari seorang ‘alim yang mbalah kitab Ihya’ Ulumiddin tadi, barangkali bisa menjawab pertanyaan bagaimana seharusnya kita beragama dengan tanpa mengabaikan sisi manusiawinya, secara tersirat. Atau jika secara tersurat, maka kalimat yang tepat untuk menjawab adalah “ya salih ritual, ya salih sosial”.

Silakan saja berkeras pada diri sendiri dengan menarget berapa lembar dari Al-Qur’an yang harus dibaca dalam sehari. Sah-sah saja dan bahkan baik sekali, jika kita istikamah melakoni salat jamaah, rawatib, puasa-puasa sunnah, dan wirid-wirid lainnya. Namun standar salih ritual tersebut jangan sampai kita paksakan ke orang lain. Tiap individu punya cara tersendiri untuk mendekat pada Tuhannya.

Satu hal yang patut kita genggam dengan setia adalah prinsip “tetap menjadi manusia”. Diciptakan sebagai tempatnya salah dan lupa saja, kadang-kadang kita sudah kelabakan. Maka, tak usah serakah dengan mengambil tupoksi malaikat pencatat amal. Apalagi sampai memakai sifat-sifat ketuhanan. Gampangnya, yen salat e awakdewe ajeg, ngajine mempeng, aja ngremehke ibadahe wong liya. opo maneh nyawang wong liya salah, njuk atine ngeroso bener dewe, kemenyek. Ya meski kemenyek ini gratis dan tak perlu kulak, mbok aja dipek dewe.

Hikmah Imroatul Afifah

Pelajar NU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button