Nasional

Pangeran Khalid: Terorisme dan Faktor Pendukungnya


Jakarta (numuda.com) – Pangeran Kerajaan Arab Saudi Khalid bin Abdul Aziz bicara soal terorisme. Menurutnya, ada beberapa klasifikasi terorisme yang ditulisnya dalam bukunya. Buku tersebut berisi tentang keamanan intelektual, yang dia tulis pada 1430 H atau tahun 2009.

“Saya menulis tentang golongan-golongan teroris secara jelasnya dan bagaimana kita bisa menghadapi pemikiran dan keadaan mereka itu,” kata Khalid saat berpidato di hadapan Presiden Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/5/2017).

Di buku itu, Khalid memberikan definisi yang jelas tentang orang-orang yang ekstrim dengan pemikiran yang ekstrim. “Dan bagaimana cara mengahalau pemikiran mereka itu. Dan bagaimana para teroris dan ekstrimis itu mengancam pemikiran untuk kemanan intelektual dan keamanan nasional,” katanya.

Dikatakan Khalid, orang yang rela meledakkan dirinya atau menjadi ekstekutor dalam suatu gerakan yang menyesatkan, mereka itu semua adalah para teroris.

“Teroris yang terdiri dari 6 partisipan, yang pertama adalah intelektual teroris, yang kedua planner teroris. Yang ketiga pemberi dana, yang keempat provokator teroris, yang kelima para loyalis dan pendukung teroris, dan yang keenam para eksekutor teroris,” jelasnya.

Para teroris itu, lanjut Khalid, melakukan kesalahan kriminal serta asasinasi dengan peralatan dan didukung oleh kelima elemen yang disebutkan tadi.

“Sebetulnya bahaya pemikiran terorisme di zaman modern ini menjadi satu industri yang mereka lakukan untuk kemaslahatan dan kepentingan mereka,” katanya.

Khalid mengatakan, salah seorang ilmuan mengatakan bahwa penyebab ekstrimis dan terorisme yang terpenting adalah kebodohan dan tidak adanya pengetahuan yang lengkap tentang agama. Mereka itu terdiri dari keenam golongan yang dikatakan Khalid tersebut.

“Telah ditulis oleh seorang intelektual, ada segitiga yang mengerikan yaitu segitiga kebodohan dan kemiskinan dan penyakit. Inilah segitiga yang menjadi rintangan bagi rakyat kita, tapi merupakan suatu landasan yang besar bagi menyebarkan terorisme dan ekstrimisme,” katanya.

Menurut Khalid, cara membasmi pemikiran ekstrim tersebut menjadi tantangan khusus yang harus dihadapi oleh masyarakat dan ormas di negara-negara dengan berbagai intelektualitas.

“Inilah yang harus dihadapi oleh masyarakat dan ormas-ormas kita dan negara-negara kita dengan berbagai intelektualnya, dan pemikirannya, dan ulama-ulama nya serta menjadi upaya sekuat tenaga untuk membendung dan membasmi pemikiran yang menyesatkan ini,” katanya.

Khalid pun mengatakan, kebodohan tentang agama dan menyebarkan budaya fundamentalis akan menimbulkan pemikiran yang ekstrim.

“Tapi kebodohan tentang agama dan menyebarnya budaya-budaya keagamaan yang fundamentalis juga akan mengakibatkan suatu pemikiran yang membawa kepada ekstrimisme dan akan menjadi suatu sarang utama bagi berdirinya suatu terorisme dan merusak di permukaan bumi, baik secara intelektual, maupun akal manusia,” katanya.

Terorisme Incar Orang yang Tak Paham Agama

Khalid mengatakan terorisme menyasar orang yang tak paham soal agama. Banyak kaum muslimin sendiri yang tidak memahami islam. Orang tersebut yang mencerminkan citra Islam sebagai teroris.

“Kaum muslimin sendiri yang jauh dari agamanya. Mereka yang merusak agamanya sendiri. Karena terorisme berfokus pada ketidakpahamannya terhadap agama, dan ketidakpahaman kepada ayat yang mengatakan bahwa kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan di permukaan bumi untuk memerintahkan yang baik dan memerangi yang mungkar,” kata Khalid.

Khalid menjelaskan, memerintahkan yang baik dan melarang yang mungkar ini tidak sembarangan, dan tidak sembarangan orang bisa melaksanakannya karena ada ilmunya. Kata Khalid, ulama-ulama mengatakan bahwa dalam memerintah dan melarang harus dengan ilmu yang arif dan dengan akhlak dan keluwesan.

“Kemudian Rasulullah SAW mengatakan aku diutus bukanlah sebagai fundamentalis. Aku diutus sebagi guru yang luwes, guru yang memberikan kabar gembira. Hal ini diucapkan oleh beliau tiga kali,” tambahnya.

Khalid juga mengatakan, dirinya selalu membahas soal terorisme. Pasalnya, ceramah agama seperti itu tidak bisa ditunda-tunda lagi karena merupakan masalah keamanan nasional dengan semua konsekuensi yang harus dihadapi. Tujuannya agar rakyat dapat hidup dengan aman dan tenang.

“Karena masalah ini adalah masalah besar yang mengancam dan merusak kesucian agama Islam sendiri. Dikatakan sesungguhnya bahwa agama di sisi Allah adalah agama Islam,” katanya.

Khalid yang merupakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Sosial Pangeran Sultan Kerajaan Arab Saudi ini mengatakan dirinya datang ke Indonesia untuk mencari generasi muda harapan bangsa, yang mengoreksi tentang pemahaman-pemahaman yang menyimpang tentang Islam.

“Pemuda yang bisa menjelaskan bagaimana membasmi pemikiran-pemikiran yang salah. Pemuda yang akan menjadi duta bagi bangsanya sendiri, yang menjadi pemegang tekad bagi pembangunan negaranya. Pemuda-pemuda yang merupakan percontohan dalam bekerja,” ujarnya.

“Pemuda yang menguasai ilmu pengetahuan secara utuh. Pemuda yang bisa memberi percontohan akidah secara baik. Mereka adalah pelopor dalam bebudi pekerti dan berakhlak. Mereka menyebarkan kebudayaan yang bermanfaat, melaksanakan ibadahnya dengan baik, dan berinteraksi secara baik dengan masyarakat,” katanya.

Sumber: www.detik.com

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button