Artikel

Ekspedisi Batin (6): Memenangkan Algoritma Kebaikan Ramadan

Di sela Safari Ramadan PCNU Kota Malang, Sabtu tadi malam (16/3/2024), memantau 100-an grup WA menjadi kebiasaan di sela bercengkrama mendengar kebaikan-kebaikan yang disampaikan para kiai dan pejabat. Banyak sekali kebaikan yang disebarkan di grup-grup itu.

Sejenak menghela nafas. Merenungi setiap untaian kata di beberapa kiriman naskah. Sesekali juga mengonsentrasikan saraf telinga agar ucapan-ucapan kebaikan serupa dari penceramah yang hadir bisa terekam dengan baik. Ada Gus Is (ketua PCNU Kota Malang Dr KH Israqunnajah). Ada juga Dr Wahyu Hidayat, Pj wali kota Malang.

Karib yang duduk di sebelah juga nyaris sama. Saat minta dibukakan grup WA, isinya juga banyak untaian kebaikan dalam bentuk kata atau gambar.

Rupanya seruan kebaikan selama Ramadan ini begitu banyaknya. Menjadi algoritma saling bertautan dan bersambungan satu sama lain.

  • Hakekat Ramadan dan Algoritma Kebaikan

Indah. Ya, sangat indah. Ramadan benar-benar membawa kesejukan pada kalbu yang pernah gersang. Ia datang tak cuma mengajak jiwa untuk berpuasa dari hal-hal duniawi, naamun juga mengundang hati untuk memasuki labirin kebaikan, menyelami kedalaman makna yang tersembunyi di balik keheningan dan rasa lapar.

Nuansa ini bagaikan oase di tengah padang pasir kehidupan; menyuguhkan air kebijaksanaan yang mampu meredakan dahaga rohani.

Sekali lagi. Jika terus berusaha merenungi hakekat puasa Ramadan, bukan sekadar menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga tenggelamnya matahari, namun lebih jauh mengenali dan menaklukkan nafsu yang terus berbisik, menggelitik dengan rayuan sesaat. Ibarat pelayar yang mengarungi samudra luas, kita dihadapkan pada gelombang godaan dan badai nafsu yang siap menghantam. Di sini, Ramadan berperan sebagai kapal, algoritma kebaikan yang membimbing kita melintasi lautan kehidupan yang bergolak, menuju pulau ketenangan dan kedamaian.

Karenanya, memenangkan algoritma kebaikan di bulan suci ini menuntut lebih dari sekadar kedisiplinan jasmani; ia meminta untuk menyelaraskan pikiran, kata, dan tindakan dengan frekuensi kebaikan.

Seperti seniman yang melukis di atas kanvas, setiap tindakan selama Ramadan adalah goresan kuas yang membentuk lukisan kehidupan. Setiap pilihan, setiap bisikan hati, setiap keputusan, menjadi bagian dari algoritma yang terus menerus belajar, beradaptasi, dan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai kebaikan.

  • Istiqamah Bangun Algoritma Kebaikan

Ketika hari berganti, bukan sekadar waktu yang berlalu, melainkan resonansi kebaikan yang terus ditebarkan. Seperti bunga yang mekar, mengeluarkan aroma, kebaikan yang dipraktikkan selama Ramadan seharusnya tdak berhenti ketika bulan berakhir.

Ia harus menjadi benih yang terus bertunas, tumbuh dan berakar dalam sanubari, sehingga algoritma hidup kita secara otomatis berada pada frekwensi kebaikan. Ujungnya menjadikan kita individu yang tdk hanya berpuasa dari makan dan minum, tapi juga dari perbuatan dan pikiran negatif.

Menghadapi tantangan kehidupan pasca Ramadan bukanlah sesuatu yang sederhana. Seperti bintang di langit malam, kebaikan seringkali terlihat kecil dan jauh, namun nyatanya ia memiliki daya tarik yang kuat, mampu menerangi kegelapan.

Kita dituntut untuk tetap pada jalur kebaikan. Memenangkan pertarungan melawan godaan yang terus mengintai. Bagaimana caranya? Dengan menjadikan setiap momen sebagai kesempatan untuk berbuat baik, memperkuat niat dalam hati, dan terus mengasah sensitivitas terhadap kebutuhan orang lain serta lingkungan sekitar.

Algoritma kebaikan dalam hidup kita serupa dengan perangkat lunak yang membutuhkan pembaruan secara berkala untuk meningkatkan fungsionalitas dan efisiensi. Maka, introspeksi dan muhasabah adalah pembaruan yang kita perlukan untuk memastikan bahwa algoritma kebaikan kita tidak hanya aktif selama Ramadan. Tapi juga terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan dinamika kehidupan yang tak pernah statis.

Dengan demikian, frekuensi kebaikan akan menjadi nada dominan dalam simfoni kehidupan kita. Lalu, membawa melodinya yang harmonis ke setiap sudut keberadaan kita.

Dalam kontemplasi Ramadan ini, kita belajar bahwa memenangkan algoritma kebaikan bukanlah tujuan yang memiliki garis akhir. Ia adalah perjalanan berkelanjutan. Sebuah proses yang tak pernah berakhir untuk terus meningkatkan diri, menguatkan karakter, dan mendalamkan pemahaman kita tentang esensi hidup.

Ramadan memberi kacamata untuk melihat dunia tidak hanya sebagaimana adanya. Tetapi sebagaimana mestinya, sebuah tempat di mana setiap perbuatan, tidak peduli sekecil apa pun, memiliki resonansi yang menggema di alam semesta.

  • Transformasi Kearifan

Kemenangan algoritma kebaikan adalah saat dapat melihat cermin diri dalam setiap wajah yang kita temui, merasakan kesedihan dan kebahagiaan mereka sebagai milik kita sendiri, dan bertindak dengan empati dan kasih sayang yang mendalam. Ia mengajarkan untuk menjadi pendengar yang baik, pelihat yang peka, dan penolong yang tanpa pamrih.

Keberhasilan ini bukanlah tentang menghitung jumlah kebaikan yang dilakukan, melainkan tentang betapa alami dan tanpa upaya kita mengejawantahkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Setiap detik di bulan Ramadan adalah pelajaran tentang bagaimana algoritma kebaikan dapat diaktualisasi. Tidak hanya dalam isolasi ibadah pribadi, tetapi juga dalam interaksi sosial kita.

Ia mengajarkan kita untuk mengatasi prasangka, menepis ketidaktahuan, dan memelihara pengertian dan toleransi. Di sinilah algoritma kebaikan bertransformasi menjadi kearifan, menjadi bintang penunjuk jalan yang mengarahkan kita ke penghormatan terhadap perbedaan dan keindahan kebersamaan.

Pasca Ramadan, tantangan sejati dimulai: bagaimana menjaga agar algoritma kebaikan ini tidak hanya tetap berfungsi, naun juga berkembang dan menguat. Ibarat taman yang harus terus dirawat, jiwa kita membutuhkan perhatian, pemeliharaan, dan pengayaan terus menerus untuk memastikan bahwa tanaman kebaikan tidak hanya bertahan, tapi juga berbunga dan berbuah.

Kita harus menjadi tukang kebun yang sabar dan penuh kasih. Yang mengerti kapan harus memangkas ranting-ranting kehidupan yg sudah tidak lagi berguna, dan kapan harus menanam benih-benih baru.

Dengan demikian, esensi dari memenangkan algoritma kebaikan di bulan suci Ramadan bukanlah sekadar tentang peningkatan frekuensi kebaikan sementara, tetapi tentang mengukir kebiasaan dan nilai yang akan membimbing kita melalui pasang surut kehidupan. Seperti air mengalir yang terus mengikis batu, kebaikan yang terus menerus akan mengikis kekerasan hati, melunakkan sikap dan membuahkan sikap welas asih yang berkelanjutan.

Ramadan mengajarkan kita bahwa memenangkan algoritma kebaikan adalah tentang menginternalisasi kebaikan sebagai bagian dari esensi diri kita. Sehingga tindakan, kata-kata, dan pikiran kita secara alami dipenuhi dengan kebijaksanaan, empati, dan kasih.

Ini adalah perjalanan yang berkesinambungan. Sebuah proses mendalam untuk menjadikan kebaikan sebagai irama hati, yang tetap bergetar bahkan ketika bulan suci telah berlalu, memastikan bahwa kita tidak hanya berada dalam frekuensi kebaikan selama Ramadan, tetapi di sepanjang sisa hidup. (*)

Khoirul Anwar

* Penulis adalah wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU.

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button