Artikel

Ekspedisi Batin (18): Menyinari Jalan Kesabaran

Dalam liku-liku kehidupan yang berirama, kegagalan dan kesuksesan selalu berjalan beriringan, layaknya benang kusut yang tak mudah terpisahkan. Itu terasa di sepekan terakhir ini, saat nuansa kegagalan dan keberhasilan menampakkan diri lewat pengumuman SBMPTN 2024, serta seleksi di madrasah-madrasah unggulan negeri (MAN) yang tersebar di berbagai daerah.

Yang sukses gembira, yang gagal gundah gulana. Penulis merasakan itu pada beberapa orang yang bercerita tentang dua hal itu. Cerita sedih dan kisah bahagia berganti saat suasana hati beberapa teman menyapa di layar smartphone.

Memang, di hamparan kehidupan yang luas ini, setiap langkah manusia kerap diiringi oleh bayang-bayang kegagalan yang seolah tak terelakkan. Bagai mutiara yang tersembunyi dalam lautan, kegagalan adalah sebuah kebenaran yang mesti dihadapi dengan dada yang lapang. Seperti pelukis art digital Mr D yang mengukir karya QR Art-nya di kanvas, setiap pahatan kegagalan sejatinya merancang pola menuju mahakarya terbesar: kesuksesan.

Allah sendiri memberi kepastiannya dalam Al-Quran. “Jika Allah menolong kamu, maka tak ada yang dapat mengalahkan kamu; tetapi jika Dia meninggalkan kamu, siapakah yang dapat menolong kamu setelah itu? Kepada Allahlah orang-orang yang beriman harus bertawakkal” (Surah Al-‘Imran: 160).

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam setiap upaya dan kegagalan, tawakkal kepada-Nya adalah kunci untuk bangkit. Kegagalan bukanlah akhir. Tapi, kegagalan adalah pembuka jalan bagi datangnya pertolongan dan hikmah.

Momentum Ramadan ini bisa kita pakai sebagai sahabat yang menawarkan peluang untuk introspeksi. Dalam kesunyian malam dan ketenangan jiwa, berpuasa di bulan Ramadan mengajarkan umat manusia tentang kesabaran dan kekuatan hati dalam menghadapi kegagalan. Sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW, “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini mengingatkan bahwa setiap kegagalan dapat dijadikan sarana untuk memurnikan diri dan memperbaharui niat dalam mengejar cita.

Lantas, bagaimana kita menjadikan kegagalan sebagai batu loncatan menuju kesuksesan? Jawabannya terletak pada kemampuan untuk melihat setiap kejatuhan sebagai pelajaran yang mendewasakan. Kegagalan adalah guru yang keras, namun adil. Kegagalan tidak pernah meninggalkan kita tanpa harta berharga berupa pengalaman dan pelajaran yang dapat memandu menuju gerbang kesuksesan yang lebih gemilang.

Dalam labirin kehidupan, seringkali kegagalan dianggap sebagai tembok penghalang yang kokoh, menghalangi pandangan kita terhadap potensi yang dapat berkembang. Namun, jika pribadi ini memandang kegagalan sebagai prisma yang membiaskan cahaya ke dalam spektrum peluang, kita akan mulai mengerti bahwa setiap momen kegagalan adalah undangan untuk tumbuh dan berinovasi. Kegagalan, dalam esensinya, adalah sebuah dialog, bukan monolog; ia berbicara kepada kita tentang kelemahan, kekuatan, dan kemungkinan.

“Jangan biarkan kegagalan menutup matamu terhadap keindahan keberhasilan yang mungkin terjadi,” kata Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Ucapan Cak Nun itu adalah peta batin yang mengarahkan kita untuk melihat sinar harapan di balik lipatan kabut kegagalan.

Mengapa kegagalan seringkali terasa begitu pahit? Karena kita terbiasa dengan budaya yang memuja hasil akhir dan mengabaikan proses yang membawa kita ke sana. Kegagalan mengajarkan kita untuk merenungkan kembali jalan yang telah ditempuh, menilai strategi, dan mengenali nilai dari usaha itu sendiri, bukan hanya puncak pencapaian.

Dalam konteks ini, kegagalan bukanlah musuh yang harus dikalahkan, melainkan guru yang mengundang kita ke meja belajar, untuk memahami pelajaran-pelajaran kehidupan yang terkadang hanya dapat diajarkan melalui kesalahan dan kegagalan. Seperti pemahat yang mengetuk batu, tiap ketukan kegagalan mengikis bagian yang tidak perlu. Llalu secara bertahap membentuk pigura kekuatan dan ketahanan dalam pribadi kita.

Belajar bukan hanya untuk menang. Yang terbaik, belajar lebih penting lagi, untuk menghargai setiap detik perjuangan dan proses yang kita jalani.

Kegagalan memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman, mendorong batas-batas yang selama ini kita anggap sebagai batasan maksimal kita. Dalam setiap kegagalan tersembunyi benih-benih inovasi, karena untuk menemukan jalur baru menuju keberhasilan, kita harus berani mengambil risiko dan gagal. Seperti seorang pelaut yang mengarungi samudera, kita mesti belajar menavigasi badai kegagalan untuk mencapai pantai impian kita.

Bulan Ramadan, dengan segala keunikan dan kekhususannya, menawarkan waktu untuk merenung dan mengambil pelajaran dari kegagalan. Ini adalah saat ketika jiwa diundang untuk menelusuri kembali jejak-jejak langkah yang pernah tergelincir, untuk kemudian menata ulang arah dan langkah dengan bijaksana. Ramadan mengajarkan bahwa setelah kesulitan ada kemudahan, bahwa setelah kegagalan ada pintu keberhasilan yang menanti untuk dibuka. Fa inna ma’al ‘usri yusro, inna ma’al ‘usri yusro.

Refleksi dan pemurnian diri di bulan suci ini adalah manifestasi dari pemahaman bahwa kegagalan adalah langkah awal dalam perjalanan menuju keberhasilan. Melalui sajian waktu untuk introspeksi, Ramadan membantu kita menyadari bahwa kegagalan adalah bagian dari desain yang lebih besar dalam kehidupan.

Ramadan juga .emberi pelajaran yang berharga dan membentuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan resilien. Tetap semangat kawan yang gagal. Dan, tetaplah bersyukur bagi kawan yang berhasil. (*)

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Periksa Juga
Close
Back to top button