Artikel

Ekspedisi Batin (19): Upgrade Mental, Install Chip Keyakinan

“Siapa bilang Gus kulo mboten nate susah, gagal. Sudah tidak terhitung pun. Dawuhe Abah Guru Sekumpul, yang terpenting itu, apapun yang terjadi, kita harus kuat, tawakkal dan percaya akan takdir Allah. Kekuatan manusia niku ditunjukkan tidak dengan selalu kuat dan tidak pernah jatuh gagal, tetapi kekuatan sejati itu ditampakkan saat kita selalu bangkit setiap kali terjatuh,” ucap Abah Ilyas, salah satu pengusaha batubara yang terbilang sukses di Kalsel.

Dalam pertemuan yang berlangsung hampir satu jam saat transit di Bandara Internasional Juanda, Surabaya, penulis berkesempatan menggali berbagai cerita darinya. Dari sosok pengusaha muslim kelahiran Mojokerto ini, terhimpun pelbagai hikmah. Tentang kekuatan doa dan kesabaran, hingga bangunan kekuatan mental, ketahanan jiwa, tawakkal, dan tentu kerja keras. Serasa tadarus kehidupan pengganti sementara shalat trawih malam itu.

Sepanjang perjalanan pulang perenungan demi perenungan muncul begitu saja di kepala. Kesimpulannya, apapun kejadian dan kondisinya, mental harus kuat. Alasan apa harus kuat, karena ada Yang Maha Kuat yang jadi back up manusia.

Urusan mental ini memang tidak sesederhana diucapkan. Apalgi di tengah liku kehidupan yang penuh misteri kehidupan yang sedang dijalani manusia. Seperti pelukis kehidupan, ketahanan mental menjadi kanvas yang melukis kekuatan jiwa.

Ketahanan mental hadir untuk memahami bahwa setiap jatuh bukanlah akhir hidup. Ia adalah awal dari sebuah perjalanan baru. Ibarat pohon yang tumbang diterpa badai, tunas baru selalu siap bertumbuh. Menghadapi cahaya matahari, lalu memekarkan bunga dan menumbuhkan buahnya.

Spirit Ramadan yang muslim jalani ini merupakan pelajaran itu. Di mana Ramadan mengajarkan untuk menjadi tunas baru. Dan, menemukan kekuatan di balik setiap cobaan.

Bulan ini adalah cermin yang memantulkan nilai-nilai ketabahan. Seperti sahur yang menuntun kita bangun di awal fajar, Ramadan mengajak kita untuk bangkit dari keletihan spiritual. Ia menggugah kesadaran bahwa dalam setiap kesulitan terdapat kemudahan. Fainna ma’al ‘usri yusra. Lalu diulangi lagi, Inna ma’al ‘usri yusra.
Bersama kesulitan pasti ada kemudahan.

Rasulullah juga menegaskan tentang ini. Beliau bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya.”

Hadits ini mengajarkan kita untuk melihat setiap detik kehidupan sebagai pelajaran berharga. Terus berusaha membangun ketahanan jiwa yang tidak tergoyahkan oleh badai.

Yusuf Mansur, motivator Muslim, berkata, “Kekuatan sejati bukanlah tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang bagaimana kita bangkit, belajar dari kegagalan, dan terus melangkah maju dengan kepercayaan kepada Allah.” Kata-kata ini menegaskan bahwa proses bangkit dari kegagalan adalah esensi dari ketahanan mental.

Di bulan Ramadan, setiap detik menjadi pelajaran tentang ketabahan. Dengan berpuasa, manusia melatih diri untuk mengendalikan keinginan dan emosi, menajamkan fokus pada apa yagn esensial dalam kehidupan. Muslim diajarkan utnuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan kata-kata, perbuatan, dan pikiran negatif. Ini adalah latihan ketahanan mental yang mengasah kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh.

Proses pengembangan ketahanan mental ini tidak terjadi dalam semalam. Seperti layang-layang yang membutuhkan angin untuk terbang tinggi, kita memerlukan rintangan untuk naik ke puncak ketabahan. Ramadan menawarkan angin itu, memberi manusia kesempatan untuk melatih dan menguji ketahanan mental. Kemudian, menjadikan setiap tantangan sebagai batu loncatan menuju kekuatan jiwa yng lebih besar.

Ketika malam Ramadan turun, dan kita berdiri dalam doa dan munajat, serasa diajak untuk merefleksikan setiap jatuh dan bangkit dalam kehidupan. Di sanalah kita menemukan kekuatan sejati; bukan pada saat berada di puncak, tetapi ketika berhasil bangkit dari kegagalan dengan kepercayaan dan harapan.

Memasuki 10 hari akhir Ramadan, kita bukan hanya meninggalkan bulan suci ini dengan tubuh yang lebih ringan, tetapi juga dengan jiwa yang lebih kuat. Siap untuk menghadapi dunia dengan ketahanan mental yang telah terasah. Kelak, kita akan menjadi pribadi yang lebih siap untuk bangkit dari setiap jatuh. Melihat setiap cobaan sebagai peluang untuk tumbuh dan berkembang.

Mari kita jadikan ketahanan mental bukan hanya pelajaran Ramadan, tetapi juga pelajaran hidup yang berkelanjutan. Seperti biji yang tertanam dalam tanah, membutuhkan waktu untuk bertunas dan tumbuh, demikian pula ketahanan mental kita perlu waktu untuk berkembang dan matang.

Dengan sabar, kegigihan, dan keyakinan, kita bisa menumbuhkan kekuatan dari dalam. Menerangi perjalanan hidup dengan kebijaksanaan dan ketabahan yang tak lekang oleh waktu. Hidup adalah pilihan, maka pilihan terbaik adalah saat hamba-Nya memilih dan bertemu dengan pilihan Allah untuk hamba itu. (*)

* Penulis adalah Khoirul Anwar, wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button