HeadlineJam'iyyahMauizhah

KH. Tholchah Hasan: Contohlah Kehidupan KH. Masjkur

Tim Pengusul KH. Masjkur sebagai Pahlawan Basional berfoto bersama Prof. KH. Tholchah Hasan

[pcnumalangkota.or.id] – Prof. KH. Tholchah Hasan mengungkapkan bahwa hidup itu tidak boleh habis digunakan untuk kepentingan diri sendiri dan keluarga saja. Karena mengurusi kepentingan sendiri itu tidak akan pernah ada habisnya.

“Harus ada banyak waktu kita yang digunakan untuk kepentingan orang banyak. Karena umur kita yang terbatas, maka jejak-jejak peninggalan kita yang akan memperpanjang umur kita tersebut,” katanya saat dikunjungi Tim Pengusulan KH. Masjkur sebagai Pahlawan Nasional di kediamannya, Singosari, Malang, Rabu (20/6).

KH. Tholchah mencontohkan tentang kisah perjuangan KH. Masjkur yang berjasa sangat besar bagi bangsa dan negara ini. Disamping sebagai panglima perang Laskar Sabilillah, KH. Masjkur yang juga pernah menjabat beberapa kali sebagai Menteri Agama RI meninggalkan berbagai warisan yang bermanfaat samapai sekarang ini.

“Masjid Sabilillah beserta dengan lembaga turunan dan kegiatannya, menjelma bukan hanya sebagai pusat peribadatan, akan tetapi sebagai contoh pusat peradaban Islam. Kampus UNISMA, Rumah Sakit Islam UNISMA, dan berbagai amal lainnya, adalah bukti nyata bahwa KH. Masjkur adalah pejuang yang menurut Alquran naktubu maa qoddamu wa atsarohum. Peninggalan dan rekam jejaknya menjadi catatan amal jariah yang pahalanya terus mengalir kepada Beliau,” ujar mantan Katua Badan Wakaf Indonesia ini .

KH. Masjkur sudah sangat layak dianugerahi negara sebagai pahlawan nasional. “Kita bertugas membantu negara untuk memberikan haknya KH. Masjkur sebagai pahlawan nasional. Karena terkadang ada seseorang yang sebenarnya berhak sebagai pahlawan, akan tetapi karena tidak ada yang mengusulkan, maka hak itu tidak diberikan. Disamping sebagai tim pengusul KH. Masjkur yang lebih penting adalah spirit perjuangan Beliau tetap kita lanjutkan dalam kehidupan sekarang ini ,” beber Mantan Menteri Agama di era Gus Dur ini.

Prof. KH. Kasuwi sebagai ketua Tim Pengusul Gelar Pahlawan KH. Masjkur, yang memimpin anggota tim untuk silaturahmi ke KH. Tholchah menyatakan bahwa Idul Fitri ini adalah momentum yang tepat untuk sowan sekaligus melaporkan perkembangan kerja tim. Ia menceritakan bahwa secara progres sudah selesai di tingkat tim, sekarang tinggal keputusan di level pemerintah.

“Alhamdulillah, pengusulan KH. Masjkur sebagai pahlawan nasional secara proses sudah selesai. Persyaratan administrasi sudah lengkap dan diterima oleh Kementerian Sosial. Sekarang tinggal proses di Pemerintah. Proses penyusunan pengusulan sebagai persyaratan administrasi terasa mudah dan lancar. Allah memberikan pertolongannya, sehingga tidak ada banyak kendala berarti.,” kata Prof. Kasuwi.

Prof. Kasuwi menambahkan, momen pengusulan ini sangat tepat. Di era milenial sekarang ini dan bangsa Indonesia membutuhkan teladan seorang santri yang bisa memberikan kontribusi besar pada bangsa dan agama. “KH. Masjkur adalah sosok Ulama yang paripurna. Disamping mengusasi agama dengan baik, juga jiwa sosial dan nasionalisnya sangat tinggi. Negara perlu berterima kasih atas jasa-jasa Beliau. Penganugerahn sebagai pahlawan nasional adalah sesuatu yang sangat layak untuk mengenang jasa perjuangan KH. Masjkur,” papar ketua Senat Universitas Merdeka Malang ini.

Bagi bangsa Indonesia, terutama Malang Raya, sangat beruntung memiliki tokoh sekelas KH. Masjkur. Keberadaan tokoh yang berjuang digaris terdepan peristiwa 10 November 1945 ini turut serta secara aktif memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia. “KH. Masjkur ini sangat hebat. Sebagai santrinya Hadrotussyaikh KH Hasyim Asy’ari, Beliau sukses menyandingkan antara nasionalisme dengan agama. Sehingga Laskar Sabilillah yang dipimpinnya berjuang melawan Belanda di garis depan. Bagi KH. Masjkur membela tanah air adalah bagian dari menjaga keimanan,” ungkap Prof. Kasuwi.

Antara nasionalisme dan melaksanakan perintah agama harus bersanding dengan baik.  Seperti yang diteladankan KH. Masjkur ini, harus bisa diteruskan oleh generasi masa kini dan yang akan datang. “Tugas kita adalah meneruskan dan mengisi kemerdekaan ini. Tentu saja dengan cara yang sesuai dengan norma dan kemampuan kita,” tegasnya.

Sebelum ke kediaman KH. Tholchah, Tim Pengusul KH. Masjkur sebagai pahlawan nasional juga ziyarah ke makam KH. Masjkur yang juga seareal dengan KH. Thohir Bungkuk. Pembacaan tahlil dan doa dipimpin oleh Prof. KH. Kasuwi Saiban. Beberapa anggota tim yang juga menemani Beliau, di antaranya Ketua yayasan Sabilillah Bidang Lembaga Sosial Ekonomi, Prof. Mas’ud Said, Dosen UM yang juga penulis buku KH. Masjkur, Najib Jauhari, serta anggota tim pengsusl lain seperti Heru Pratikno, Achmad Diny Hidayatullah, serta Raudlotul Fikri.

KH. Masjkur, lahir di Malang, Jawa Timur, 30 Desember 1904 dan wafat 19 Desember1994. Beliau adalah Menteri Agama Indonesia pada tahun 1947-1949 dan tahun 1953-1955. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI tahun 1956-1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1968. Keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan menonjol di zaman pendudukan Jepang, sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. KH. Masjkur juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (PETA) yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI di seluruh Jawa. Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Laskar Sabilillah.

 

 

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button