Artikel

Ekspedisi Batin (2): Melaut di Samudera Kesunyian Ramadan

Hari pertama Ramadan pasar-pasar masih sepi. Pagi hingga siang. Namun sore hari pinggir-pinggir jalan ramai. Ngabuburit menjadi alasan. Mencari takjil di deretan para pedagang dadakan di sepanjang jalan utama beberapa kota, termasuk Kota Malang. Mereka hadir tahunan, selama Ramadan.

Jauh di dimensi batin, di tengah hiruk pikuk dunia yang tak pernah lelah berbicara, Ramadan hadir sebagai suatu panggilan lembut menuju kesunyian. Kesunyian yang bukan hanya tentang ketiadaan suara. Pula tentang menemukan suara hati yang paling dalam.

Dalam pelukan syahrul Mubarak ini, umat Islam diajak untuk berlayar menyusuri lautan jiwa. Menyingkap tabir-tabir yang menyelimuti hati. Membiarkan sinar Ilahi menyusup masuk ke dalam celah-celah kehidupan yang paling rahasia dan sunyi dalam
diri.

Kesunyian di bulan Ramadan bukan sekadar ketenangan dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari, melainkan sebuah proses mendalam yang memungkinkan pribadi untuk merenung dan menelisik lebih jauh tentang eksistensi pribadi. Seperti seorang pelukis yang melempar kuas dan tinta ke hamparan canvas kosong, muslim dihadapkan pada ruang tak berbatas untuk menciptakan kembali narasi diri dengan tinta keimanan dan ketakwaan.

Puasa, dalam esensinya, adalah seni menahan diri; bukan cuma dari makan dan minum, tetapi juga dari segala bentuk kebisingan dunia yang bisa mengalihkan dari tujuan sejati. Dalam kesenyapan, bisikan nafsu yang berangsur-angsur luntur, digantikan oleh bisikan hati yang lebih tenang dan lebih mendalam.

Metafora ini menggambarkan bagaimana Ramadan mengajarkan umat Islam untuk mendengarkan dengan lebih baik. Tidak hanya kepada Allah, tetapi juga kepada diri sendiri dan orang lain.

Bulan suci ini memberi kesempatan untuk berhenti sejenak. mlMenilai ulang prioritas dan nilai-nilai yang kita anut. Dan sesungguhnya dalam diam, manusia dapat mendengar pertanyaan-pertanyaan penting yang seringkali tertelan oleh kebisingan kehidupan sehari-hari. Apa esensi dari keberadaan kita? Bagaimana kita dapat mendekatkan diri kepada pencipta dan sesama ciptaan-Nya?

Dalam kesunyian, jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mulai terungkap. Membawa kita pada pencerahan yang berujung pada kedamaian batin.

Ketika diri menyelami kesunyian, sesungguhnya telah belajar untuk membedakan antara keinginan yang sifatnya sementara dan kebutuhan jiwa yang mendalam. Proses ini ibarat duduk di tepi danau, menyaksikan permukaan air yang tenang, refleksi dari langit di atasnya menyatu dengan kejernihan dalam. Di sinilah puasa mengajak untuk membersihkan danau hati dari segala keruh, sehingga bisa mencerminkan keindahan dan kedamaian yang hakiki.

Kesunyian Ramadan juga mengingatkan bahwa dalam kesendirian, sejatinya tidak pernah benar-benar sendiri. Langit senantiasa menyaksikan perjuangan batin, dan alam semesta berbisik kembali dengan kata-kata tanpa suara, mengingatkan tentang keterhubungan diri dengan segala sesuatu, termasuk dengan Allah. Ada suatu kekuatan yang menyelimuti kesunyian, kekuatan yang mendorong untuk mencari makna yang lebih dalam lagi pada ibadah dan interaksi kita.

Dengan menghayati kesunyian, manudia menjadi lebih peka terhadap nuansa kehidupan yang sering terlewatkan. Mulai melihat keindahan dalam kesederhanaan, kekuatan dalam kelemahan, dan cahaya dalam kegelapan. Kesunyian menjadi ruang di mana manusia dapat berdialog dengan diri sendiri. Mengakui ketakutan dan kekurangan, serta merayakan kekuatan dan pencapaian hidup.

Ramadan, dengan kesunyian yang ia tawarkan, menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan dimensi spiritualitas yang lebih dalam. Ia mengajarkan tentang kekuatan introspeksi dan refleksi, tentang bagaimana keheningan bisa menjadi guru yang paling berharga dalam perjalanan mencari makna hidup.

Di saat berpuasa, kita tidak hanya menahan diri dari keinginan duniawi, tapi juga diajarkan untuk mengisi kesunyian itu dengan kegiatan yang memperkaya jiwa, seperti berdoa, berdzikir, dan membaca Al-Quran. Aktivitas-aktivitas ini mengisi kekosongan dengan cahaya spiritual, mengubah kesunyian menjadi sebuah simfoni kehidupan yang kaya dan bermakna.

Kesunyian di bulan Ramadan adalah undangan untuk memasuki kebun batin kita sendiri. Menata ulang setiap sudutnya dengan kesadaran dan ketenangan. Setiap hari menjadi kesempatan untuk menyiram bunga-bunga spiritual dengan air kesabaran dan cinta, memupuknya dengan keikhlasan, hingga akhirnya kebun itu bersemi dengan bunga-bunga kedamaian yang akan memenuhi setiap sudut kehidupan.

Dalam dunia yang semakin materialistis, Ramadan juga menawarkan perspektif yang berbeda tentang kekayaan. Kekayaan sejati tidak terukur dari harta yang kita miliki, melainkan dari ketenangan hati yang bisa diraih. Kesunyian Ramadan mengajarkan bahwa dalam ketenangan dan kesederhanaan, terdapat kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Ia mengingatkan bahwa untuk mencapai kedamaian, manusia tidak perlu mencari di luar, melainkan cukup dengan menyelam jauh kedalaman hati sendiri.

Ketika bulan suci ini berakhir, kesunyian yang kita alami selama Ramadan tidak seharusnya juga berakhir. Sebaliknya, ia harus menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, suatu kebiasaan yang terus dipelihara dan dikembangkan. Kesunyian harus menjadi sahabat, bukan musuh; suatu ruang suci di mana bisa kembali untuk merenung dan memperbaharui diri, kapan pun kehidupan mulai terasa berat dan melelahkan.

Ramadan, dengan kesunyian dan kesederhanaannya, mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati dan kedamaian batin bukanlah tentang memiliki lebih banyak, melainkan tentang menjadi lebih. Lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, lebih bersyukur atas nikmat yang telah diberikan, dan lebih dekat dengan Sang Pencipta. Bulan ini mengajarkan kita untuk melihat dunia tidak hanya melalui mata, tapi juga melalui hati.

Dengan membiarkan diri kita tenggelam dalam kesunyian Ramadan, muslimin diajak untuk melampaui batas-batas fisik dan material, mencapai sebuah dimensi spiritual yang lebih dalam. Dimensi di mana kita tidak hanya menemukan kedamaian batin, tetapi juga kebersamaan, kasih sayang, dan solidaritas dengan sesama. Dalam kesunyian, kita diajak untuk menemukan kekuatan dalam kelembutan, keberanian dalam kerentanan, dan kedamaian dalam kesederhanaan.

Kesunyian di bulan Ramadan adalah hadiah yang berharga. Sebuah kesempatan emas untuk menemukan kembali esensi dari keberadaan. Ia mengajak untuk mendekap erat kedamaian yang kita cari, menyelami kedalaman jiwa, dan menemukan ketenangan yang abadi.

Dalam kesunyian, kita tidak hanya menemukan diri sendiri, tetapi juga kesempatan untuk terhubung kembali dengan Sang Pencipta dan alam semesta. Itulah hakekat puasa Ramadan: menemukan ketentraman dalam kesunyian, kedamaian dalam refleksi, dan cahaya dalam kegelapan. (*)

Khoirul Anwar*

* Penulis adalah wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button