ArtikelOpini

Ekspedisi Batin (3): Membangun Dialog Hati dengan Semesta

Malam ketiga Ramadan, ajakan untuk makin menyelami jiwa kian mendalam saja. Dalam kesenyapan itu, hati umat Islam diajak merenung lebih dalam lagi, melampaui sekedar rutinitas yang berulang.

Ada undangan gaib dalam tiap detak dan hiruk pikuk kehidupan yang sementara ini, mengajak jiwa untuk menyelami makna tersembunyi di balik ibadah puasa. Berpuasa wajib di bulan ini, bukan sekadar periode menahan lapar dan dahaga saja, namun juga sebuah ekspedisi spiritual yang sarat akan makna. Di mana jiwa diajak untuk memenangkan pertarungan melawan nafsu dan ego yang berkecamuk.

Berpuasa Ramadan adalah sebuah metafora perjalanan. Di mana setiap individu berlayar di lautan luas diri sendiri, menghadapi badai nafsu yang mengamuk, dan menyusuri pulau-pulau ego yang berusaha menghalangi pandangan terhadap cahaya Ilahi. Ia merupakan momen di mana langit dan bumi berbisik ke dalam sanubari. Mengajarkan kita tentang kesederhanaan, kesabaran, dan ketulusan.

Perjalanan spiritual selama Ramadan memberi seruan untuk berjalan di atas jembatan tipis antara dunia materi dan esensi spiritual yang hakiki. Bisa dirasakan, di saat lidah terkunci dari perkataan sia-sia, mata ditutup dari pandangan maksiat, dan telinga diberi pembatas dari gosip dan kata-kata yang merendahkan, jiwa berada dalam kondisi paling murni, terbebas dari racun-racun duniawi yang selama ini membelenggu.

Dalam kerendahan hati saat berbuka dan kekhusyukan di sepertiga malam terakhir, terdapat dialog antara hamba dan Khaliq yang terlukis dengan indah. Doa dan dzikir mengalir seperti air yang mengalir ke akar tanah kering, menyuburkan iman yang mungkin telah lama layu. Di sinilah, Ramadan menjadi kesempatan untuk membersihkan jiwa dari karat-karat dosa. Dan, menempa diri dengan disiplin ilahi yang melampaui sekadar kepatuhan fisik.

Ego, yang seperti penguasa tirani dalam diri, diajak untuk berdamai. Tidak dengan cara menghancurkannya, melainkan dengan memahami dan mengendalikannya. Puasa mengajarkan bahwa kepuasan sejati tidak ditemukan dalam pemuasan segera dari keinginan daging, melainkan dalam ketenangan dan kepuasan yang diperoleh dari kemenangan atas keinginan tersebut. Ini adalah perjuangan konstan antara kebutuhan jasmani yang mendesak dan kehendak spiritual yang lebih halus dan abadi.

Melalui Ramadan, dipahami bahwa hakekat kemenangan spiritual tidak terletak pada penaklukan, melainkan pada pembebasan. Pembebasan dari belenggu yang menahan jiwa untuk meraih kebebasan sejati, yaitu kebebasan dari hawa nafsu dan keegoisan yang menyesatkan.

Ini adalah perjalanan untuk menemukan esensi yang paling dalam dari eksistensi. Di mana setiap tarikan nafas bukan hanya tanda kehidupan, melainkan pujian bagi yang Maha Hidup.

Dengan setiap hari yang dilewati, dengan setiap malam yang dihabiskan dalam ibadah, dengan setiap momen kebersamaan yang dibagi, jiwa menjadi lebih luwes. Lebih terbuka.

Luwes dan terbuka untuk memahami pelajaran-pelajaran yang ditawarkan oleh alam semesta ini. Di mana Ramadan mengajarkan kita bahwa dalam kesunyian, dalam pengurangan, terdapat kekayaan dan kelimpahan yang tak terhingga. Bahwa dalam penahanan, ada kekuatan yang besar.

Ramadan, dengan segala keindahannya, adalah pengingat akan ketidakabadian dunia ini dan pentingnya mengejar kemajuan spiritual. Itu mengajarkan tentang keseimbangan, tentang bagaimana menjaga api iman tetap menyala di tengah hujan kehidupan yang tak terelakkan. Ini bukan hanya tentang menang atas diri sendiri, melainkan juga tentang menemukan kedamaian dalam kemenangan tersebut. Kedamaian yang berasal dari pengetahuan bahwa setiap langkah, setiap pilihan, mendekatkan kita pada esensi yang lebih dalam dari keberadaan itu sendiri.

Dalam diam, Ramadan mengajarkan untuk mendengarkan. Bukan sekadar mendengarkan kata-kata yang terucap atau suara-suara yang mengisi ruang, melainkan mendengarkan bisikan hati, suara kecil dalam yang seringkali tenggelam oleh hiruk pikuk dunia. Ini adalah waktu untuk mendengarkan cerita-cerita yang dituturkan oleh alam, cerita tentang kesabaran, ketekunan, dan kegigihan.

Setiap detik, bulan suci ini mengajak untuk berkontemplasi. Menilai kembali apa yang benar-benar penting dalam hidup. Ramadan mendidik tentang arti kebersamaan, bukan hanya dengan sesama manusia tetapi juga dengan seluruh ciptaan-Nya. Menyadari bahwa setiap makhluk berbagi nafas yang sama, berada di bawah langit yang sama, berjalan di atas tanah yang sama, serta mampu menumbuhkan rasa empati dan kebersamaan yang mendalam.

Di akhir perjalanan Ramadan nanti, jiwa diharapkan tidak hanya lebih kuat dalam menghadapi godaan dan tantangan. Namun juga lebih lembut, lebih peka terhadap keindahan dan keajaiban kehidupan. Kemenangan spiritual yang diraih bukanlah akhir, melainkan titik awal baru dalam perjalanan kehidupan, di mana setiap hari adalah kesempatan untuk mempraktikkan pelajaran yang telah dipelajari.

Puasa Ramadan, dengan segala tantangan dan keindahannya, juga memberi pesan tentang keterkaitan antara kefanaan dan keabadian, antara diri dan Yang Maha Kuasa, antara jiwa dan semesta. Ini mengingatkan bahwa kepuasan terdalam dan kebahagiaan sejati ditemukan dalam penyerahan diri kepada kehendak Ilahi, dalam mencintai tanpa syarat, dalam berbagi tanpa mengharapkan balasan.

Saat hari mulai terang dan pagi hari menyapa di ufuk, batin langsung berharap, jiwa-jiwa yang telah berpuasa merasakan transformasi, merasakan kelembutan dan cahaya yang telah mereka tanam dan rawat.

Kemenangan spiritual yang dirayakan bukan hanya dalam seruan takbir yang bergema, melainkan dalam kesunyian hati yang telah menemukan jalannya kembali ke rumah, ke sumber cinta dan kedamaian yang abadi.

Karenanya, Ramadan bukan sekedar peristiwa tahunan dalam kalender, tapi sebuah pelajaran yang terus menerus mengajarkan tentang arti menjadi manusia sejati. Tentang bagaimana mengatasi nafsu dan ego demi mencapai kemajuan spiritual.

Ramadan adalah cermin yang menunjukkan kepada kita kemungkinan-kemungkinan baru. Memungkinkan jiwa untuk melihat dan mengalami dunia dengan mata hati yang terbuka lebar. Merayakan keindahan hidup dalam setiap tarikan nafas yang dihembuskan di setiap detik dan detik berikutnya. (*)

Khoirul Anwar*

* Penulis adalah wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button