Artikel

Ekspedisi Batin (7): Syukur Mode Sawang Sinawang

Setiap insan punya problematikanya sendiri. Tak ada manusia yang tidak punya masalah. Kadarnya pun begitu; besar kecil tergantung memaknainya.

Ibarat kebutuhan angin di ban kendaraan. Ada kebutuhan angin ban dump truk, ban mobil keluarga, ban motor, atau ban sepeda. Semuanya butuh angin, tpi kadarnya sesuai bannya.

Maka ketika ban motor melihat ban dump truk, tentu ban motor akan menyampaikan bahwa ban dump truck sangat enak karena punya cadangan angin banyak sehingga tidak perlu pusing dengan angin. Namun ban dump truck pun bilang kalau ban motor enak karena tidak banyak butuh angin. Cukup pakai pompa kecil sdh bisa jalan dipakai.

Ban motor pun bisa nyanyi. Ia susah kalau kekurangan angin. Hanya bisa dituntun mencari bengkel yang ada kompresor angin. Kalau ban sepeda itu enak, cukup pakai pompa genjot; beres!

Ban sepeda pun bergumam. “Enak apanya, tuh ban mobil yang enak. Punya serep. Kehabisan angin tinggal ganti.”

Silih berganti. Tak ada yang sempurna. Dalam setiap segmen kehidupan apapun selama masoh berada di segmen kefanaan dunia, semua berada pada frame yang sawang sinawang. Saling melihat enak dan tidak enak satu sama lain.

Dalam seharian Ramadan hari keenam kemarin, peristiwa sawang sinawang ini penulis alami. Saat silaturahim dan bertegur sapa ke beberapa teman. MasyaAllah!

  • Makna Syukur di Lorong Ramadan

Dalam keheningan subuh yang merekah, pagi ketujuh Ramadan menyapa. Mengundang jiwa untuk menapaki lorong waktu yang menghubungkan dunia fana dengan keabadian. Ia bukan sekadar peristiwa astronomis yang menandai pergantian bulan pada kalender Hijriyah, melainkan sebuah perjalanan ruhani yang mendalam, di mana setiap detiknya adalah undangan untuk merenung dan bersyukur. Termasuk merenung peristiwa-peristiwa hari sebelumnya.

Puasa, di tengah gempuran gelombang kehidupan yang tak pernah henti, adalah sajadah panjang yg terbentang. Mengajak manusia untuk berlutut, tidak semata pada kekuatan yang Maha Kuasa, tetapi juga pada keberadaan diri sendiri, dengan segala keterbatasan dan kemampuannya. Di sini adalah momen introspeksi, di mana setiap tarikan nafas bukan sekadar pertukaran oksigen, melainkan tafakur akan kehidupan yang begitu berharga.

Pelajaran Ramadan mengajarkan bahwa hidup ini, dengan segala kilau dan kepalsuannya, pada hakikatnya merupakan perjalanan mencari makna yang sesungguhnya. Seperti air yang tenang, puasa membantu menenangkan pikiran, memurnikan hati, menjernihkan niat, dan mengasah kepekaan terhadap sesama. Dalam diamnya lapar dan haus, terkandung hikmah bahwa bkn kepuasan fisik semata yang mendatangkan kebahagiaan, pula kekayaan spiritual yang bersemi dari kebersahajaan dan kepuasan hati.

Melalui puasa, kehidupan bagai lukisan yang mendapat sentuhan warna baru; warna yang lebih dalam dan penuh arti. Setiap individu diajak untuk melihat dunia bukan dari kacamata nafsu dan keinginan, tetapi melalui lensa empati dan kedermawanan. Ini bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, melainkan menundukkan keinginan-keinginan duniawi yang seringkali membutakan hati dan pikiran dari keindahan yang sesungguhnya.

Puasa di bulan Ramadan adalah metafora dari perjalanan hidup di mana manusia diajak untuk melangkah di jalan yang terang benderang dengan cahaya kebijaksanaan dan kebersahajaan. Ia seperti oase di tengah padang pasir kehidupan yang gersang, menawarkan kesempatan untuk mengisi ulang sumur-sumur spiritual yang telah lama kering. Dalam diam dan ketenangan puasa, manusia diberi kesempatan untuk mendengar bisikan-bisikan halus yang seringkali tenggelam dalam kebisingan rutinitas sehari-hari.

Kesadaran akan arti penting syukur pun muncul, tidak sebagai kata-kata yang dipajang di lembaran buku atau dinding, melainkan sebagai pengalaman nyata yang terasa dalam setiap denyut nadi dan desir nafas. Bersyukur dalam konteks puasa Ramadan bukanlah sebuah konsep abstrak, tetapi sebuah kebutuhan eksistensial. Sebuah perjalanan yang mengantarkan pada pengenalan akan diri sendiri dan alam semesta.

Ramadan, dengan segala ketentuan dan ritualnya, adalah guru yang tanpa lelah mengajarkan tentang arti kehidupan sejati, yang tidak terletak pada kelimpahan materi, melainkan pada kekayaan batin. Ia mengajarkan bahwa dalam kesederhanaan terdapat kecukupan, dalam pengendalian diri terdapat kebebasan, dan dalam keheningan terdapat suara yang paling lantang.

Dengan mengikuti irama puasa, setiap individu dipanggil untuk berpartisipasi dalam simfoni kehidupan yang lebih besar, di mana setiap note dan rest memberikan kontribusi terhadap harmoni yang mengagumkan. Puasa, dalam semua keheningan dan pengorbanannya, adalah nyanyian jiwa yang paling indah, lagu yang menggema melalui lembah dan bukit kehidupan, mengajarkan tentang kekuatan, keindahan, dan terutama, tentang kebesaran syukur yang sejati.

  • Syukur dalam Sawang Sinawang

Di bawah langit Ramadan yang luas, terbentang jembatan antara yang kasat mata dan yang tersembunyi, mengantarkan pada pemahaman bahwa dalam setiap detik berpuasa terdapat pelajaran tentang keterhubungan segala hal. Setiap saat tanpa makan dan minum, lebih dari sekedar latihan fisik, adalah pengajaran tentang ketahanan dan ketabahan hati, mengingatkan bahwa kepuasan sejati bukan diperoleh dari kelimpahan, melainkan dari penghargaan terhadap apa yang telah ada.

Selama Ramadan, alam semesta seakan bernyanyi, memainkan simfoni yang syahdu. Serasa mengajarkan bahwa setiap makhluk, setiap elemen alam, berpuasa pada waktunya, menunjukkan keteraturan dan kesabaran dalam siklus kehidupan yang tak pernah berhenti. Pohon, sungai, bahkan udara, semua mengikuti ritme puasa mereka sendiri. Dalam diam mengajarkan tentang kesederhanaan, tentang kebutuhan untuk kembali kepada esensi, kepada apa yang penting.

Makna filosofis dan agamis dari puasa ini tidak terlepas dari kesadaran ini. Baahwa manusia adalah bagian dari kesatuan yang lebih luas, dan kebahagiaan sejati tercapai bukan melalui pemenuhan keinginan tanpa batas, tetapi melalui harmoni dan keseimbangan dengan seluruh ciptaan. Ini adalah waktu untuk merenungi kembali peran kita di dunia. Utk memahami bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, memiliki dampak yang meluas, bergema melalui labirin waktu dan ruang.

Dalam lentera malam, tergambar bayangan-bayangan dari kehidupan yang telah dilalui. Menawarkan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Untuk mengampuni dan meminta ampunan. Dan, untuk membangun kembali hubungan yang telah retak. Ini adalah saat di mana langit terbuka, menerima doa dan pengakuan, menyembuhkan luka-luka batin yang telah lama terpendam.

Puasa mengajarkan kesederhanaan, tidak hanya dalam konsumsi makanan, tapi juga dalam pikiran dan perbuatan. Ia adalah waktu untuk menanggalkan segala beban dan hiasan duniawi yang tidak perlu, mengundang jiwa untuk bertemu dengan esensinya yang paling murni. Ramadan adalah cermin yang memantulkan gambaran diri sebenarnya, tanpa topeng dan perhiasan, memungkinkan untuk introspeksi dan transformasi diri.

Oleh karena itu, puasa Ramadan bukan sekadar kewajiban yang harus dijalani, melainkan sebuah perjalanan rohani yang kaya, penuh dengan pelajaran dan hikmah yang mendalam. Ia adalah undangan untuk hidup dalam syukur yang tak hanya terucapkan, melainkan juga termanifestasikan dalam setiap aspek kehidupan.

Puasa mengingatkan bahwa dalam kesederhanaan, kekurangan, dan keheningan, terdapat kekayaan jiwa yang tak terukur. Selalu bersyukur dalam keadaan apapun. Karena sesungguhnya yang ada di depan kita itu dalam mode sawang sinawang. (*)

* Penulis adalah Khoirul Anwar, wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU.

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button