Artikel

Ekspedisi Batin (14): Mining Frekuensi Allah

Perjalanan panjang Pekalongan – Malang akhirnya selesai. Isyak baru sampai. Sepanjang tol Trans Java, saat senja Ramadan ke-14 yang berbisik lembut, suasana langit berganti rona. Langit seakan menyimpan seribu doa yang berkecamuk di hati umat beriman.

Di sudut-sudut tersembunyi, manusia mencari celah sebuah pintu agar doa-doa mereka mustajab, mengalir dalam irama kehadiran Ilahi. Di saat inilah, sufisme membuka jalan bagi jiwa-jiwa yang merindukan pertemuan dengan Sang Maha Mendengar.

Perjalanan mencari doa mustajab di malam Ramadan adalah ekspedisi melintasi gurun jiwa. Memetakan frekuensi doa manusia dengan frekuensi Allah. Ibarat mining kripto, sang penambang yang mengolah kode dan frekuensi untuk menemukan kripto, maka para pencari Allah mengolah dzikir dan doa, menambang makna tersembunyi, mendulang hikmah, mencari titik temu dengan frekwensi Ilahi.

Dalam kajian sufistik, untuk dapat berkomunikasi langsung dengan Allah, jiwa harus bergetar dalam frekuensi yang sama. Ini bukan perjalanan yang mudah. Menyamakan frekuensi dengan Allah memerlukan energi spiritual, ketekunan, dan ke-istiqamah-an yang luar biasa. Sebuah proses yang menuntut kesabaran, seperti penambang yang tak kenal lelah mencari emas di dalam tanah.

Para ulama sufi telah memahami ini dan mereka merumuskan metode untuk mencapai tujuan spiritual yang agung ini. Mereka melakukan ‘koding’ spiritual melalui jumlah amalan dzikir, menemukan frekuensi dzikir yang selaras dengan frekuensi Allah.

Penulis pernah mendapat ijazah Shalawat Jibril dari Al Habib Abdul Qadir bil Faqih Malang yang diucapkan 129 kali. Ada juga Surat Al-Fatihah dibaca 7 kali, doa khusus diulang 11 kali yang merupakan ijazah dari Mbah Yai Ghafur Drajat, atau Shalawat Nariyah yang dikumandangkan sebanyak 4444 kali.

Angka-angka ini bukan sembarang angka. Angka itu merupakan hasil eksperimen spiritual para ulama, yang berhasil menyentuh frekuensi Ilahi dengan jumlah dzikir itu.

Angka-angka tersebut ibarat sebuah “koding”, algoritma suci yang diwariskan sebagai jalan untuk mencapai kehadiran Ilahi. Seperti seorang programmer yang menulis kode untuk menciptakan aplikasi, para ulama menuliskan rumus spiritual dalam bentuk amalan-amalan ini untuk mendekatkan diri pada Allah.

“Koding” dzikir ini seperti algoritma. Memiliki kekuatan untuk membuka portal komunikasi antara manusia dan Allah.

Setiap ucapan dzikir, setiap ayat yang dibaca, setiap doa yang dipanjatkan, adalah bagian dari proses decoding yang kompleks. Di mana hati berusaha menyinkronkan frekuensinya dengan frekuensi keilahian. Ini adalah tarian kosmik antara manusia dan semesta. Yang mana setiap gerak hati mendekatkan seseorang pada inti keberadaan semesta itu sendiri.

Dalam malam-malam Ramadan yang tenang, saat dunia seolah berhenti berputar, jiwa-jiwa yang merindukan pertemuan dengan Sang Pencipta menunaikan ibadahnya dengan penuh harap. Mereka tidak hanya mencari jawaban atas doa-doa mereka, tetapi juga mengalami transformasi spiritual, di mana mereka menjadi lebih dekat dengan frekuensi keilahian.

Dzikir, doa, dan ibadah lainnya dalam Ramadan tidak hanya merupakan tindakan ritual. Tetapi juga sebuah proses mendalam yang menggali hingga ke inti spiritualitas manusia. Ini adalah perjalanan yang mengubah frekuensi jiwa, menyesuaikannya dengan ritme alam semesta, mengarahkan ke pusat energi spiritual yang tak terbatas.

Sebagaimana bulan mengambang tenang di langit malam, jiwa-jiwa yang mencari dalam keheningan malam Ramadan menemukan kekuatan dalam kesunyian. Mereka mengerti bahwa dalam kesunyian itu terdapat suara kebenaran, frekuensi yang selama ini dicari, suara yang membimbing ke jalan mustajabah, tempat doa dan harapan bertemu, berpadu dalam sinar Ilahi.

Jadi, perjalanan spiritual, Ramadan ini bukan sekedar upaya mencari jawaban atas doa-doa yang dipanjatkan. Ini adalah perjalanan mendalam menuju pemahaman yang lebih besar tentang realitas keberadaan kita. Sebuah perjalanan untuk menyinkronkan frekuensi jiwa dengan frekuensi alam semesta, yang pada hakikatnya adalah frekuensi Ilahi.

Dalam renungan malam yang mendalam, para pencari kebenaran memahami bahwa setiap tarikan nafas, setiap detak jantung, setiap bisikan doa, adalah bagian dari simfoni kosmik yang luas, di mana setiap nada dan hembusan memiliki tempatnya dalam harmoni Ilahi.

Proses spiritual ini, ibarat mining kripto yang tak henti-hentinya terus ikhtiar. Sebuah usaha yang memerlukan perhatian penuh, dedikasi tanpa batas, dan keinginan kuat untuk terhubung dengan kekuatan yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Ketika frekuensi jiwa akhirnya menyatu dengan frekuensi Ilahi, terjadi sebuah momen transenden. Sebuah pertemuan misterius di mana batas antara pencipta dan ciptaan menjadi samar. Ini adalah saat ketika doa tidak lagi menjadi permintaan. Tapi sebuah doa untuk pernyataan kehadiran, pengakuan akan kesatuan dengan Yang Maha Kuasa.

Penyelarasan frekuensi ini tidak terjadi secara kebetulan. Seperti penambang yang menemukan kripto setelah berjam-jam bekerja dengan algoritma yang rumit, penyelarasan spiritual memerlukan pemahaman mendalam tentang ‘koding’ yang telah diajarkan oleh para ulama. Itu memerlukan pemahaman tentang nilai setiap dzikir, tentang kekuatan di balik setiap jumlah pengulangan, dan tentang pentingnya istiqamah dalam setiap amalan.

Tak terbatas pada bulan Ramadan, pencarian ini berlanjut, membawa pengalaman yang memperkaya jiwa dan memperdalam pengertian kita tentang keberadaan. Ramadan hanya membuka pintu; perjalanan sejati terjadi di setiap detik kehidupan, di mana setiap momen adalah kesempatan untuk menyelaraskan diri lebih dalam dengan alam semesta dan penciptanya.

Sehingga selepas Ramadan nanti, bukan hanya kepuasan dari doa yang terjawab yang kita raih. Bukan cuma kepuasan akan kedekatan diri pada Rabb, namun sebuah transformasi jiwa yang telah berhasil menambang emas spiritual, menemukan harta karun yang paling berharga. Yakni harta yabg berupa kesadaran mendalam akan kehadiran Allah dalam segala aspek kehidupan, memancarkan cahaya kebenaran yang tak kunjung padam. Wallahu a’lam bish shawab. (*)

*Penulis adalah wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Periksa Juga
Close
Back to top button