EventHeadlineNews

Rendahnya Toleransi di Kota Malang, UB Gandeng Lakpesdam Lakukan Indeksasi

MALANG – (6/9/2023) Rilis UPT Pengembangan Kepribadian Mahasiswa (PKM) UB pada Mei 2022 tahun lalu menyebut peta sebaran toleransi mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) pada taraf mengkhawatirkan. Rilis ini rupanya menuntut tim riset dari UPT PKM UB untuk mengukur religiusitas di kalangan remaja di Kota Malang pada tahun ini dengan menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) hari ini, Rabu (6/9/2023).

FGD ini merupakan tahapan awal dalam perumusan konsep, indikator, dan validasi kuisioner yang akan digunakan untuk indeksasi tingkat religiusitas remaja di Kota Malang.

Millatuz Zakiyah dalam sesi presentasinya menyampaikan bahwa indeksasi ini bertujuan untuk melihat tingkat religiusitas remaja yang didasarkan pada dimensi keyakinan/ideologis, dimensi ritual/praktik keberagamaan, dan dimensi moral.

Milla, begitu sapaan akrabnya, juga menegaskan bahwa hasil dari indeksasi ini akan digunakan sebagai rekomendasi dalam penyusunan kurikulum dan RPS (Rencana Pembelajaran Semester, red.) mata kuliah agama baik di UB maupun di lembaga pendidikan lainnya.

“Ketiga dimensi ini kami adopsi dari teori religiusitas yang pernah dikembangkan oleh Glock dan Stark tahun 1968. Modifikasi kami lakukan agar bisa melihat konteks sekarang atau relevansinya karena yang akan kami lihat adalah remaja (baca: siswa) di Kota Malang,” tandas alumni Muallimat Tambakberas tersebut.

Sementara itu, Abdul Hafidz Ahmad selaku tim Riset dan Kajian Lakpesdam NU Kota Malang menuturkan, indeksasi ini akan menjadi lebih penting jika dalam proses penyusunan kuisionernya mempertimbangkan istilah-istilah yang sesuai dengan usia responden. Termasuk juga memperhatikan tujuan dari masing-masing pertanyaan.

“Jangan sampai item atau istilah dalam pertanyaan yang akan diukur tidak relate dengan alam pikiran mereka. Ini penting diperhatikan,” tegas alumni Fak. Psikologi UMM tersebut.

Hafidz juga menekankan pentingnya menghitung ulang jumlah pertanyaan dan disesuaikan dengan kondisi remaja saat ini. “Tidak mungkin remaja kita minta menjawab pertanyaan yang begitu banyak sementara mereka terbiasa dengan yang cepat-cepat.”

“Tak kalah pentingnya adalah memahami istilah atau konsep yang digunakan oleh semua agama yang ada, agar nanti tidak bias apalagi membingungkan responden,” imbuhnya.

Kegiatan FGD ini dilaksanakan di Lt. 9 Gedung Layanan Bersama UB dengan menghadirkan beberapa akademisi dan tokoh lintas agama.

Penulis

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button