Artikel

Ekspedisi Batin (13): Meng-install Allah di Hati

Menjelang Lebaran, bengkel-bengkel kendaraan mulai ramai. Baik yang roda dua atau empat. Semuanya ramai. Alhamdulillah, berkah! Itu tampak saat penulis masuk ke sebuah bengkel di Malang. Deretan mobil antri. Untuk diperbaiki, tune up, dan meng-install ulang mesin agar kembali sehat dan fresh setelah lelah jalan.

Montir bilang, sebelum instal ulang, semua yang berhubungan dengan energi dimatikan. Posisi nol. Mobil berada pada titik seperti off semua. Energi kendaraan itu adalah listrik.

“Puasa dulu lha Mas. Wong kate operasi ae kon poso disek (Orang akan operasi saja diharuskan puasa dulu). Biar bersih semua,” celetuk Pak Dar, salah satu montir bengkel itu.

Katanya, setiap kendaraan yang akan di-reset (install ulang) disesuaikan dengan merk kendaraannya. Tapi apapun merk kendaraannya, selalu ada coding yang sama yang dimasukkan.

Memahami kendaraan itu seperti memahami hakekat diri seorang muslim. Almaghfurullah Kiai Asrori Al Ishaqi, Kedinding, Surabaya, pernah dawuh, setiap kita menjalani hidup di pelataran kehidupan yang luas dan tak terbatas, ada lorong-lorong di yang mengantarkan setiap ruh pada pencarian hakikatnya.

Bagi yang beriman, perjalanan tersebut berpusat pada satu titik yang abadi: menempatkan Allah SWT sebagai inti dari segala gerak dan niat. “Menungso kuwi ono neng maqam “di” (Manusia itu maqamnya ‘di’),” pesan Kiai Rori dalam sebuah kesempatan khususyiyah jamaah thariqah yang diiktluti penulis semasa beliau masih gesang.

Semua itu akan dirasakan manusia ketika ia senantiasa berikhtiar menempatkan Allah setiap saat dalam hidupnya. Sebagaimana pohon yang akarnya menghunjam ke dalam tanah, mencari sumber kehidupan yang tak pernah kering.

Wa huwa ma’akum aina maa kuntum, wallohu bimaa ta’maluuna bashiir. “Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu berada, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadid 57:4)

Ayat itu merupakan peta batin yang mengarahkan pada keberadaan-Nya yang maha dekat, dalam setiap denyut nadi kehidupan. Berusaha mengingatkan agar hati manusia senantiasa meletakkan Allah di dalamnya.

Ibarat bengkel tadi, bulan Ramadan ini tempat mereparasi dan meng-install ulang diri. Di dalamnya membawa pelajaran tentang ketekunan dan kesetiaan dalam merajut kehadiran Allah dalam sanubari. Seperti tetes embun yang jatuh perlahan, menyerap ke dalam relung bumi, Ramadan mengajarkan tentang peluh kesabaran yang meresap ke dalam hati, membangkitkan benih iman yang terpendam.

Saat puasa ini seperti masa untuk menggali sumur keikhlasan dalam diri. Lalu, membiarkan air kebajikan mengalir dan membasahi ladang jiwa yang kering.

Meng-intall dan memelihara Allah di hati merupakan seni hati yang memerlukan ketekunan. Seperti kebun yang perlu dirawat, hati memerlukan pemangkasan dari rumpun egoisme, penyiraman dengan air kesungguhan, dan pemupukan dengan pengetahuan yang mencerahkan. Hati haruslah menjadi tanah yang subur, siap menghunjamkan akar kebenaran hingga ke kedalaman jiwa.

Dalam perjalanan itu, pengenalan diri menjadi kunci, memahami kekuatan dan batasan diri, menemukan dan mengobati penyakit batin yang menghalangi sinar-Nya. Karenanya setiap insan harus menjadi tabib bagi jiwanya sendiri, kemudian menganalisis dan merawat, dengan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai kompas dan obat.

Menempatkan Allah dalam setiap tindakan bukanlah sekadar pekerjaan lahiriah. Namun juga pengakuan bahwa di balik tirai peristiwa, ada tangan-tangan kekuasaan yang mengendalikan. Tangan-tangan itu adalah milik Allah.

Setiap kejadian, senang ataupun susah, merupakan bagian dari naskah ilahi. Kemudian dijadikan pelajaran yang harus diresapi dan dilalui.

Dengan menghadirkan Allah dalam setiap sudut hati, perubahan tak hanya terjadi pada persepsi individu terhadap alam semesta, tapi juga pada cara alam semesta memandangnya kembali. Insan yang hatinya bercahaya dengan iman akan memancarkan kehangatan tersebut dalam segala perbuatannya, menarik kebaikan dan kebenaran seperti magnet yang kuat.

Maka saat install Allah di hati kita komplet dan sukses, berarti pribadi itu juga sukses menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan. Dan, untuk menyukseskan proses instal itu membutuhkan lebih dari sekadar niat. Semua itu memerlukan aksi nyata dan terus-menerus, sebuah proses dinamis yang membutuhkan pengulangan dan pemurnian di setiap langkah.

Seperti seorang pengrajin yang terus mengasah karyanya, seorang muslim perlu terus memoles hatinya, agar cahaya keimanan terus bersinar, tidak redup oleh godaan atau ujian zaman. Saat itu tampak dalam pribadi muslim, itu sebagai tanda bahwa install Allah di hati sukses dilakukan.

Semoga Ramadan ini kita semua sukses meng-instal Allah di hati.
Sehingga harmoni hidup masuk ke dalam jiwa. Lalu kita menjadi pribadi yang mempu melihat dunia dengan mata hati yang penuh kasih dan pengertian. Pribadi yang mampu menumpahkan setiap tindakan, kata, dan niat berpadu dengan kebijaksanaan Ilahi. Aamiin ya rabbal ‘aalamiin. (*)

* Penulis adalah Khoirul Anwar, wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button