Artikel

Ekspedisi Batin (9): Cool Center dan Call Center Hidup

Jagongan (kumpul-kumpul), berbagi udud, kopi hitam, dan gorengan di teras masjid kampung menjadi suasana surga yang indah luar biasa. Apalagi pas Ramadan begini. Pas habis buka puasa dan Maghrib-an. Pas santai menunggu Isyak dan tarawih. Dunia serasa milik para insan jagongan itu.

Sesekali tertawa lepas saat ada yang lucu. Seperti melepas seluruh beban hidup. Menertawakan diri sendiri. Membikin jarak damai antara urusan keruwetan dan kebahagiaan.

Suasana seperti ini terjadi dan tampak salah satunya di sudut teras Masjid Al Barakah Malang, Selasa (19/3/2024) malam. Saat Safari Ramadan rutin keliling masjid-masjid di lima kecamatan program NU Kota Malang.

Pas suasana itu dengan tema acara. “Dari masjid bahagiakan hati, makmurkan bumi”. Dan benar, terwujud. Dengan jagongan sambil ngudud dan ngopi jamaah saja, kebahagiaan hati sudah tercapai. Soal kemakmuran bumi, sudah ada yang ngurus sendiri bersama ahlinya.

Memang, bagi para insan yang menyukai alam tadabbur, di tengah hiruk pikuk kehidupan yang seringkali membara akhir-akhir ini, masjid di bulan Ramadan laksana taman impian nan segar di padang pasir saat siang bolong. Air dan udaranya menyegarkan, menghembuskan kesegaran pada setiap jiwa yang haus akan kedamaian dan kebahagiaan.

Sebuah ekosistem yng tercipta dan serasa menghembuskan angin sepoi-sepoi menenangkan. Yang sanagt mampu meredakan panasnya hati dan pikiran yang terus menerus berkecamuk.

Ramadan adalah saat di mana langit tampak lebih dekat, membisikkan keteduhan pada setiap doa yang terpanjat. Di bulan ini, malam dan siang bergandengan. Saling mengingatkan akan kefanaan dunia dan keabadian akhirat. Seolah semesta ini kompak; berkonspirasi membawa kedamaian, dan mengajarkan kepada kita tentang sabar dan ketenangan.

Ketika dunia sebelum Ramadan adalah cerminan hati yang kacau, Ramadan datang sebagai penenang. Hadir memberi pelajaran bahwa di balik keramaian hidup, ada kesunyian yang menawarkan kebahagiaan dan kedamaian. Karena saat di keramaian terkadag kita sering lupa akan esensi sejati kehidupan, sampai puasa ini hadir mengingatkan dengan kelembutanya.

Dari sisi spiritual, Ramadan adalah bulan keutamaan. Bulan di mana pintu-pintu langit terbuka lebar, dan pintu-pintu neraka tertutup rapat sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Apabila datang bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu”.

Rasulullah menggambarkan bagaimana Ramadan membawa kesempatan bagi setiap jiwa untuk menyucikan diri, menyejukkan hati yang sebelumnya mungkin membara oleh amarah dan kesalahan.

Sayangnya, tidak semua hati merasakan ketenangan dan keademannya itu. Ada yang tetap keras, tidak tersentuh oleh dinginnya belaian bulan suci. Golongan ini ibarat batu di tengah padang pasir yang panas. Tetap keras dan panas, meski di sekelilingnya pasir telah menjadi dingin oleh sinar bulan. Bagi mereka, Ramadan hanya lewat bagai angin lalu. Tidak meninggalkan jejak atau kesan apa-apa.

Bagi para penikmat kebahagiaan Ramadan ini, ekosistem ini bagai panggung humor kehidupan. Panggung di mana orang-orang berlomba-lomba menahan lapar dan dahaga, namun hati mereka berpesta oleh kegembiraan. Ada ironi yang menyenangkan di sana; perut kosong tapi hati penuh, mulut tak bersuara tapi doa menggema.

Semua menunjukkan bahwa dalam kesederhanaan, ada kekayaan yang tak ternilai. Walau hanya ada udud lintingan, kopi pahit setengah gelas, tapi ada kebahagiaan hati yang tak bisa dihitung kalkulator canggih.

Menelisik lebih dalam lagi, kita diajak merenungkan makna sebenarnya dari kehadiran bulan ini. Bukan hanya sebagai periode penahanan diri dari makan dan minum, melainkan waktu untuk merenung, membahagiakan, dan mengademkan hati. Kemudian membiarkan jiwa menyerap esensi keimanan, agar bisa mendengar bisikan-bisikan halus tentang arti kehidupan.

Saat wilayah spiritual masjid menempa kembali jiwa, mengasah hati, dan menata kembali kekacauan hidup menjadi harmoni yang indah, di sanalah embrio kebahagiaan muncul. Ia datang sebagai guru yang bijaksana, mengajarkan kita untuk mendengarkan bisikan angin, merasakan kesejukan air, dan melihat keindahan langit malam yang penuh dengan bintang.

Ramadan adalah tempat menemukan ketenangan dalam kegaduhan, kejernihan dalam keruwetan, dan kelembutan dalam kekerasan. Ibarat air yang mengalir, tak terlihat kuat namun mampu mengikis batu. Secara perlahan namun pasti mengubah keras menjadi halus, panas menjadi adem.

Pusaran itu semua berada di hati. Dan masjid adalah pusatnya. Pusat menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, antara keinginan dan kewajiban, antara diri sendiri dan orang lain. Keseimbangan itulah yang mampu menjadi penyejuk hati, pemurni jiwa, dan pembebas diri dari belenggu keegoisan dan kekerasan hati.

Masjid dan Ramadan bukan hanya menjadi call center akan kebahagiaan, tapi juga sebagai cool center untuk menanam keseimbangan hidup. Jangan lupa bahagia walau itu sangat sederhana. (*)

Khoirul Anwar

* Penulis adalah wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Periksa Juga
Close
Back to top button