Serba-serbi

Mengapa Harus Bermazhab

HASIL SIDANG KOMISI BAHTSUL MASAIL
KONFERCAB KE-14 PCNU KOTA MALANG TAHUN 2016

MENGAPA HARUS BERMADZHAB
Mengkritisi Slogan kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah

Mukaddimah

Akhir – akhir ini kita sering mendengar salah satu dari golongan umat Islam yang memiliki motto atau slogan “Kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah”. Mereka juga mengajak umat untuk kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Kenapa? tentunya, al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber ajaran Islam yang utama yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, sehingga siapa saja yang menjadikan keduanya sebagai pedoman, maka ia telah berpegang kepada ajaran Islam yang murni dan berarti ia selamat dari kesesatan. Bukankah Rasulullah Saw. menyuruh yang sedemikian itu kepada umatnya?
Akan tetapi persoalan mulai muncul ketika memahami Al Qur’an dan as-Sunah sebagaimana slogan yang mereka usung adalah memahami al Qur’an dan as-Sunah dengan pemahaman dan pemikiran mereka sendiri serta menafikan pendapat ulama-ulama ahli tafsir dan ulama-ulama ahli hadits. Akibatnya muncullah orang – orang yang merasa paling benar tentang urusan agama dan tidak jarang mereka membid’ahkan, mensyirikkan dan mengkafirkan orang-orang yang tidak sejalan dengan pemikirannya khususnya kepada warga Nahdliyyin.

Pembahasan
a. Pengertian bermadzhab
b. Hukum bermadzhab
c. Menakar kebenaran slogan “Kembali kepada al Qur’an dan as-Sunah”.

Jawaban:
a. Mazhab secara bahasa artinya adalah tempat untuk pergi. Berasal dari kata zahaba – yazhabu – zihaaban. Mahzab adalah isim makan (kata benda yang menunjukkan pengertian tempat) dan isim zaman (kata benda yang menunjukkan pengertian waktu) dari akar kata tersebut. Sedangkan secara istilah, mazhab adalah sebuah metodologi ilmiah dalam mengambil kesimpulan hukum dari kitabullah dan Sunnah Nabawiyah. Mazhab yang kita maksudkan di sini adalah mazhab fiqih.

Adapula yang memberikan pengertian mazhab fiqih adalah sebuah metodologi fiqih khusus yang dijalani oleh seorang ahli fiqih mujtahid, yang berbeda dengan ahli fiqih lain, yang menghantarkannya memilih sejumlah hukum dalam kawasan ilmu furu'.

 Ijtihad

Kata ijtihad (اجتهاد ) berasal dari kata ijtahada (اجتهد ) yang artinya: bersungguh-sungguh, berusaha keras. Kemudian dalam istilah dipergunakan dengan pengertian: mengerahkan daya kemampuan berpikir untuk dapat mengambil kesimpulan pendapat (istinbath = استنباط ) sendiri dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Dengan sederhana dapat disimpulkan bahwa berijtihad ialah beristinbath sendiri.
Kalau diuraikan (dianalisa), maka perbuatan ijtihad itu berkaitan dengan beberapa unsur:
1. Mujtahid (مجتهد ), orang yang melakukan perbuatan ijtihad.
2. Masalah (مسألة ) yang diijtihadi, yang dicari, hukumnya atau pendapat mengenai masalah itu.
3. Methoda (طريقة ) pengambilan kesimpulan pendapat.
4. Landasan (الدليل ), yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah.
5. Hasil (النتيجة ), yaitu hukum atau pendapat mengenai sesuatu masalah.

Kalau diucapkan kata Mujtahid tanpa predikat lain, maka menurut istilah Islam, dimaksudkan Mujtahid Muthlaq (مجتهد مطلق ) yaitu imam (tokoh agama) yang mampu berijtihad/beristinbath sendiri dari al-Qur’an dan as-Sunnah, dengan menggunakan methoda yang ditemukan/dirumuskannya sendiri dan diakui kekuatannya oleh para tokoh agama (Imam) lainnya.Yang paling terkenal di antara para Mujtahid Muthlaq ini ialah: Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal.
Mujtahid Muthlaq disebut juga Mujtahid Mustaqil (مجتهد مستقل ), artinya “mujtahid bebas”, tidak terikat dengan hasil ijtihad Imam lain dan bebas dari methoda yang ditemukan dan dipergunakan oleh Imam lain.

Di bawah tingkat Mujtahid Muthlaq, ada juga dipergunakan istilah Mujtahid meskipun sudah tidak bebas dari ikatan Mujtahid lain (Mujtahid Muthlaq lain), yaitu:

  1. Mujtahid Madzhab (مجتهد المذهب ), yaitu seorang yang sudah mampu beristinbath sendiri dari al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi masih menggunakan methoda dan kaedah yang ditemukan/diciptakan oleh seorang Mujtahid Muthlaq yang diikutinya, seperti Imam Muzani.
  2. Mujtahid Fatwa (مجتهد الفتوى ), yaitu seorang yang mampu menilai mana yang terkuat (Tarjih = الترجيح ), di antara pendapat-pendapat yang berkembang di dalam suatu madzhab (pendapat-pendapat hasil istinbath para Mujtahid Madzhab). Dari pendapat-pendapat itu, dipilih untuk difatwakan (disampaikan kepada orang lain yang memerlukannya).

Nahdlatul Ulama mengikuti peristilahan yang umumnya dipergunakan di kalangan Ulama Ahlussunnah wal Jamaah, bahwa yang dinamakan Mujtahid sepenuhnya hanyalah Mujtahid Muthlaq (Mustaqil). Di bawah tingkat itu, tergolong Muqallid (orang yang bertaqlid).

Tidak semua masalah agama memerlukan ijtihad (kemampuan daya berpikir) untuk mengambil istinbath (kesimpulan pendapat) dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Masalah-masalah yang sudah tercantum dalilnya secara sharih ( الصريح = tegas, jelas) dalam al-Qur’an atau as-Sunnah, seperti wajibnya shalat lima waktu atau larangan zina dari al-Qur’an dan as-Sunnah, bukanlah perbuatan ijtihad.

Masalah yang perlu diijtihadi hanyalah masalah yang tidak tercantum dalil sharih-nya dalam al-Qur’an atau as-Sunnah, seperti mengenai jumlah rakaat Shalat Tarawih, bunga bank sekarang ini apakah termasuk riba yang diharamkan, siapakah yang berhak menggantikan Rasulullah Saw. melanjutkan pimpinan negara dan umat, apakah bir termasuk khamr yang diharamkan dan sebagainya. Itulah masalah-masalah ijtihadiyyah ( المسائل الإجتهادية = masalah-masalah yang sudah masuk ruang lingkup ijtihad).

Tiap Mujtahid Mustaqil (Mujtahid Muthlaq) mempunyai methoda istinbath yang dirumuskannya sendiri. Dalam satu hal, tidak terdapat perbedaan antara semua methoda istinbath para Mujtahid Mustaqil, yaitu bahwa landasan pertama adalah al-Qur’an kemudian kedua adalah al-Hadits (as-Sunnah) yang shahih ( الصحيح = benar, diyakini kekuatan sanad, para perawi dan isinya). Sesudah kedua landasan itu, terdapat perbedaan methoda. Ada yang lebih mendahulukan Qiyas ( القياس = analogi), ada yang mendahulukan Mashlahah Mursalah ( المسلحة المرسلة = kepentingan umum) dan sebagainya.
Ilmu tentang methoda-methoda istinbath ini (methodologi), disebut Ilmu Ushul Fiqh ( أصول الفقه = pokok-pokok pengolahan fiqh) dan Qawaidul Fiqhiyyah ( القواعد الفقهية = Kaidah-kaidah fiqh). Untuk mampu beristinbath, selain penguasaan teori dan praktek Ushul Fiqh dan Qawaidul Fiqh, mutlak diperlukan penguasaan terhadap banyak macam ilmu yang lain.

 Taqlid
Kata taqlid (تقليد ) berasal dari kata qallada (قلّد ) yang berarti mengikat atau mengikut. Kemudian dalam istilah agama dipergunakan dalam arti: mengikuti pendapat orang lain yang diyakini kebenarannya sesuai dengan al-Qur’an dan al-Hadits.

Bertaqlid tidak selalu identik dengan mengikuti secara membuta tuli yang dalam bahasa Arab diungkapkan dengan taqlid a’ma ( تقليد أعمى = taqlid buta) tanpa sama sekali mempertimbangkan apakah pendapat yang diikuti itu benar atau sesat. Memang, pada tingkat pertama semua orang pasti mengalami proses mengikut tanpa mengerti kekuatan pendapat yang diikuti. Anak (atau orang dewasa pun) yang baru belajar shalat, pasti dia mengikuti pelajaran gurunya tanpa mempersoalkan dalil-dalilnya, kuat atau tidak. Tetapi setelah tingkat pertama (permulaan) ini terlampaui, maka harus diusahakan supaya pengetahuannya meningkat, menurut kemampuan dan kesempatan yang ada. Sewajarnya, dia harus mengetahui dan meyakini kebenaran pelajaran yang diikutinya, dengan berusaha mengetahui dalil-dalilnya. Dengan mengetahui serba sedikit tentang dalil-dalil itu, tidaklah berarti dia sudah lepas dari tingkatan bertaqlid.

Secara nyata, Nahdlatul Ulama berusaha meningkatkan kemampuan para muqallidin (orang yang sama bertaqlid) ini, supaya tidak selalu berada pada tingkat yang pertama/permulaan. Di pesantren dan madrasah, para ulama Nahdlatul Ulama berusaha memberikan pelajaran ilmu agama dalam kadar yang memadai, tidak hanya untuk menjadi muqallid a’ma (pentaqlid buta) tetapi untuk memiliki kemampuan lebih tinggi lagi, untuk menjadi muqallid yang lebih baik. Meskipun demikian betapapun banyak ilmu agama yang diajarkan, para ulama tetap tahu diri dan mendidik para santri dan muridnya untuk selalu tahu diri, bahwa dengan ilmu yang didapatnya itu tidak berarti sudah cukup untuk menjadi mujtahid sendiri. Selain itu mereka dididik untuk tidak merasa menjadi mujtahid, padahal sesungguhnya tetap mengikuti pendapat orang lain yang disukainya saja, bukan Imam Malik, Imam Abu Hanifah, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal tetapi Imam atau tokoh yang lain.

Dasar pengambilan:
التمذهب : تفعل من ( ذهب يذهب ذهابا ومذهبا ) أي الصيرورة إلى مذهب ما
والمذهب في اللغة : هو مصدر من ذهب يذهب كالذهاب قال ابن منظور في لسان العرب 1 ص 393: (
ذْهبَ والم مصدر كالذَّها ب … ) اه
قال الخطيب في شرحه على أبي شجاع ١ ص 5١
المذهب : أي ما ذهب إليه الإمام من الأحكام في المسائل ، مجازا عن مكان الذهاب اه
قال شيخ الإسلام زكريا الأنصاري في أسنى المطالب ج 5 ص 2١6
( والاجتهاد ( لغة استفراغ الوسع في تحقيق ما يستلزم المشقة ، واصطلاحا : استفراغ الوسع في طلب الظن بشيء
من الأحكام الشرعية اه
وفي شرح المحلي على الجمع 2 ص 240
( الاجتهاد( المراد عند الإطلاق وهو الاجتهاد في الفروع ( استفراغ الفقيه الوسع ) بأن يبذل تمام طاقته في النظر
في الأدلة ( لتحصيل ظن بحكم ) اه
نيل الابتهاج للتنبكتي ص 44
اعلموا أن المجتهد : إما مطلق، وهو من اطَّلع على قواعد الشرع، وأحاط بمداركها ووجوه النظر فيها، فهو يبحث
عن حكم نازلة بنظره في دلالتها على المطلوب
وقال الإمام السيوطي في رسالته الرد على من أخلد إلى الأرض ص ١١2
الاجتهاد المطلق قسمان : مستقل وغير مستقل .والمستقل : هو الذي استقل بقواعده لنفسه يبني عليها الفقه
خارجا عن قواعد المذاهب المقررة كمالك والشافعي وأبي حنيفة وأحمد بن حنبل ) اه
وقال الإمام السيوطي في رسالته الرد على من أخلد إلى الأرض ص ١١2
الاجتهاد المطلق قسمان : مستقل وغير مستقل .والمستقل : هو الذي استقل بقواعده لنفسه يبني عليها الفقه
خارجا عن قواعد المذاهب المقررة كمالك والشافعي وأبي حنيفة وأحمد بن حنبل ) اه
روى الخطيب في كتاب الفقيه والمتفقه ٢ ص 157
عن الشافعي أنه قال : لا يحل لأحد أن يفتي في دين الله إلا:

1 . رجلا عارفا بكتاب الله بناسخه ومنسوخه ، ومحكمه ومتشا ه ، وتأويله وتتريله ،ومكيه ومدنيه ، وما
أريد به
٢ . ويكون بعد ذلك بصيرا بحديث رسول الله صلى الله عليه وسلم ، وبالناسخ والمنسوخ ، ويعرف من
الحديث مثل ما عرف من القرآن
3 . ويكون بصيرا باللغة ، بصيرا بالشعر وما يحتاج إليه للسنة والقرآن ، ويستعمل هذا مع الإنصاف
4 . ويكون بعد هذا مشرفا على اختلاف أهل الأمصار
5 . وتكون له قريحة بعد هذا ، فإذا كان هكذا فله أن يتكلم ويفتي في الحلال والحرام ، وإذا لم يكن هكذا
فليس له أن يفتي .) اه
وقال ولي الله الدهلوي في حجة الله البالغة ١ ص ١23
إن هذه المذاهب الأربعة المدونة المحررة قد اجتمعت الأمة أو من يعتد به منها على جواز تقليدها إلى يومنا هذا
وفي ذلك من المصالح ما لا يخفى لا سيما في هذه الأيام التي قصرت فيها الهمم جدا وأشربت النفوس الهوى
وأعجب كل ذي رأي برأيه فما ذهب إليه ابن حزم حيث قال : التقليد حرام ولا يحل لأحد أن يأخذ بقول أحد
غير رسول الله صلى الله عليه وسلم بلا برهان … إنما يتم فيمن له ضرب من الاجتهاد ولو في مسألة واحدة ) اه
في الذخيرة للقرافي : ١ ص ١40
قال ابن القصار قال مالك : يجب على العوام تقليد المجتهدين في الأحكام ويجب عليهم الاجتهاد في أعيان
المجتهدين كما يجب على المجتهدين الاجتهاد في أعيان الأدلة ، وهو قول جمهور العلماء خلافا لمعتزلة بغداد ،
وقال الجبائي : يجوز في مسائل الاجتهاد فقط ) اه
وقال الإمام الحطاب في مواهب الجليل ١ ص : 30
)فرع ) التقليد هو الأخذ بقول الغير من غير معرفة دليله ، والذي عليه الجمهور أنه يجب على من ليس فيه
أهلية الاجتهاد أن يقلد أحد الأئمة المجتهدين سواء كان عالما أو ليس بعالم . وقيل : لا يقلد العالم وإن لم يكن
مجتهدا ؛ لأن له صلاحية أخذ الحكم من الدليل ) اه
وقال الشيخ عليش في فتح العلي المالك ١ ص 90
وقد أجمع أهل السنة على وجوب التقليد على من ليس فيه أهلية الاجتهاد حسبما في الديباج للإمام ابن فرحون
رحمه اللهتعالى وعمدة المريد للشيخ اللقاني وغيرهما وشاع ذلك حتى صار معلوما من الدين بالضرورة .) اه

b. Wajib bagi orang yang tidak mampu ber-istinbath dari Al-Qur’an dan Hadits. Haram bagi orang yang mampu dan syaratnya tentu sangat ketat, sehingga mulai sekitar tahun 300 hijriah sudah tidak ada ulama yang memenuhi kriteria atau syarat mujtahid. Mereka adalah Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi'i, Ahmad bin Hanbal, Sufyan ats-Tsauri, Dawud azh-Zhahiri dan lain-lain.

Begitu juga menjawab Ibnu Hazm dalam Ihkam al-Ahkam yang mengharamkan taqlid, karena haram yang dimaksudkan menurut beliau adalah untuk orang yang ahli ijtihad sebagaimana disampaikan al-Buthi ketika menjawab musykil dalam kitab Hujjah Allah al-Balighah [1/157-155] karya Waliyullah ad-Dihlawi yang menukil pendapat Ibnu Hazm tentang keharaman taqlid. ( Al-la Madzhabiyyah hlm. 133 dan ‘Iqdul Jid fi Ahkam al-Ijtihad wa at-Taqlid hlm. 22. ). Pada hakikatnya orang yang tidak mau bermadzhab pada salah satu madzhab empat (Maliki. Hanafi, Syafi'i dan Hanbali) juga bermadzhab pada yang lain atau pada hawa nafsunya sendiri dengan merumuskan Quran Hadits sesuai kehendaknya.

Dasar Pengambilan:
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا من قَ بل كَ إ لَّا رجَال اٗ نُّو حيٓ إ لَۡي ه مۡ فَسۡ لَُوٓ اْ أَهۡلَ ٱل ذكۡ ر إ ن كنتُمۡ لَا تَ عۡلَمُونَ 43

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui”.

۞وَمَا كَانَ ٱۡلمُؤۡ منُونَ ل يَن فرُواْ كَآفَّة فَ لَوۡلَا ن فََرَ من ك لّ ف رۡقَة مّۡن هُمۡ طَآئ فَة ل يَ تَ فَقَّهُو اْ في ٱل دي ن وَل يُن ذرُو اْ قَ وۡمَهُمۡ إ ذَا
رَجَعُوٓ اْ إ لَۡي همۡ لَعَلَّهُمۡ يَحۡذَرُونَ 1٢٢

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”.

ومن لم يقلد واحدا منهم وقال أنا اعمل بالكتاب والسنة مدعيا فهم الأحكام منهما فلا يسلم له بل هو مخطئ
ضال مضل سيما في هذا الزمان الذى عم فيه الفسق وكثرت الدعوى الباطلة لأنه استظهر على أئمة الدين وهو
دونهم في العلم والعمل والعدالة والاطلاع

"Dan barangsiapa yang tidak mengikuti salah satu dari mereka (Imam madzhab) dan berkata "saya beramal berdasarkan al Quran dan hadits", dan mengaku telah memahami hukum-hukum al Qur’an dan hadits maka orang tersebut tidak dapat diterima, bahkan termasuk orang yang bersalah, sesat dan menyesatkan terutama pada masa sekarang ini dimana kefasikan merajalela dan banyak tersebar dakwah-dakwah yang salah, karena ia ingin mengungguli para pemimpin agama padahal ia di bawah mereka dalam ilmu, amal, keadilan dan analisa". (Tanwiir alQuluub 74-75)

كل من الأئمة الأربعة على الصواب ويجب تقليد واحد منهم ومن قلد واحدا منهم خرج من عهدة التكليف
وعلى المقلد أرجحية مذهبه أو مساواته ولايجوز تقليد غيرهم فى إفتاء أو قضاء. قال ابن حجر ولايجوز العمل
بالضعيف بالمذهب ويمتنع التلفيق فى مسألة كأن قلد مالكا فى طهارة الكلب والشافعى فى مسح بعض الرأس
)إعانة الطالبين, الجزء 1 الصفحة 17(

"Setiap imam yang empat itu berada di jalan kebenaran maka wajiblah bagi umat islam untuk bertaqlid kepada salah satu diantara yang empat tadi sebab orang yang sudah bertaqlid kepada salah satu imam yang empat tersebut maka ia telah terlepas dari tanggungan dalam keagamaan dam orang yang bertaqlid haruslah yakin bahwqa madzhab yang ia ikuti itu benar dan sama benarnya dengan yang lain serta tidak boleh bertaqlid kepada madzhab lain selain madzhab yang ia ikuti, seperti apa yang dikatakan oleh ibnu hajar alhaitami: tidak boleh seseorang yang menganut suatu madzhab berbuat talfiq (mencampur adukkan madzhab untuk mencari yang ringan-ringan) misalnya mengikuti imam malik yang mensucikan anjing dan juga mengikuti imam syafi'ie dalam membasuh sebagian kepala dalam berwudu''. (I'anatut Tholibin I/17).

c. Slogan “Kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” yang digembar-gemborkan segolongan umat Islam ini sepintas benar dan sangat ideal. Mereka juga mengajak umat untuk kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Kenapa? Karena tentunya, al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan sumber ajaran Islam yang utama, yang telah diwariskan oleh Rosululloh ^ . Siapa saja yang menjadikan keduanya sebagai pedoman, maka ia telah berpegang kepada ajaran Islam yang murni dan berarti ia selamat dari kesesatan. Bukankah Rosululloh ^ telah memerintahkan yang sedemikian itu kepada umatnya, seraya bersabda:

يَا أَي هَُّا النَّاسُ إ نيّ قَدْ تَ رَكْتُ ف يْكُمْ مَا إ ن اعْتَصَمْتُمْ ب ه ف لَنْ تَ ضلُّوا أَبَدًا ك تَابُ الله وَسُنَّةُ نَب ي ه ^ )رواه الحاكم فى
المستدرك(

“Wahai manusia! Sesungguhnya aku telah wariskan kepada kalian akan sesuatu yang apabila kalian berpegang teguh dengannya, niscaya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits.” (H.R.al-Hakim dalam al-Mustadrak)

Namun slogan ini justru menimbulkan masalah di tengah masyarakat, sebab siapapun yang menurut mereka tidak sesuai dengan al-Qur’an dan AS-Sunnah versi mereka, dianggap menyimpang dan sesat. Mereka menjustifikasi tanpa memperhatikan pendapat para ulama yang sebenarnya ber-istinbath dari ayat al-Qur’an dan atau hadits Nabi. Oleh sebab itu, slogan tersebut merupakan kalimat yang benar, tapi digunakan untuk hal yang tidak benar. Hal ini sesuai dengan ungkapan:

كَل مَةُ حَ قّ أُ ريْدَ بَِا الْبَا طلُ

“Kalimat yang benar yang disalahgunakan untuk hal yang salah.”

Nahdlatul Ulama memperhatikan dan merujuk pada pendapat para ulama yang mengambil kesimpulan hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah (istinbath al-hukm). Dalam rumusan Qonun Asasi NU, hal ini diistilahkan dengan “memasuki rumah melalui pintu-pintunya”. Inilah kesinambungan modeling istinbath al-hukm para ulama madzhab empat, yang tentu tidak hanya diikuti oleh NU, bahkan oleh mayoritas umat Islam sepanjang zaman. Sebagaimana dijelaskan oleh Hadrotus Syaikh K.H Hasyim Asy’ari dalam Muqoddimah Qonun Asasi:

فَ يَا أَي هَُّا الْعُلَمَاءُ وَالسَّادَةُ الْأَتْ قيَاءُ منْ أَهْ ل السُّنَّ ة وَالجَْمَاعَ ة أَهْ ل مَذَا ه ب الْأَئ مَّ ة الْأَرْب عََ ة أَنْ تُمْ قَدْ أَخَذْتُُُ الْعُلُوْمَ مَِّنْ
قَ بْ لَكُمْ وَ منْ قَ بْل كُمْ مَِّنْ قَ بْ لَهُ بات صَا ل السَّنَ د إ لَيْكُمْ وَتَ نْظُرُوْنَ عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ ديْ نَكُمْ فَأَنْ تُمْ خَزَن تَُ هَا وَأَبْ وَابَُِا ، وَلَا تَأْتُوا
الْبُ يُ وْتَ إ لَّا منْ أَبْ وَا بَِا ، فَمَنْ أَتََهَا منْ غَ ير أَبْ وَا بَِا سّيَ سَا رقًا

“Wahai ulama dan para pemimpin yang bertakwa di kalangan Ahlussunnah wal Jamaa’ah keluarga madzhab Imam Empat; Kalian telah menimba ilmu-ilmu dari orang-orang sebelum kalian, dan orang-orang sebelum kalian menimba dari orang-orang sebelum mereka, dengan jalinan sanad yang bersambung sampai kepada anda sekalian. Anda sekalian selalu meneliti dari siapa anda menimba ilmu agama kalian itu. Maka kalian-lah para penjaga dan pintu gerbang ilmu-ilmu itu. Jangan memasuki rumah-rumah kecuali dari pintu-pintunya. Barangsiapa memasukinya tidak lewat pintu-pintunya, akan disebut pencuri.”

Prinsip tersebut akan kita perinci dalam beberapa poin berikut ini. Tujuannya adalah untuk menimbang slogan “Kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” yang secara lahiriyah terlihat sangat ideal.

Pertama, prinsip “Kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” adalah benar secara teoritis, dan sangat ideal bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam. Tetapi yang harus diperhatikan adalah sesuatu yang benar secara teoritis belum tentu benar secara praktis. Hal ini dengan menimbang kapasitas dan kapabilitas (kemampuan) setiap orang dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sangat berbeda-beda. Maka dapat dipastikan, kesimpulan pemahaman terhadap al-Qur’an atau as-Sunnah yang dihasilkan oleh seorang alim yang menguasai bahasa Arab dan segala ilmu yang menyangkut perangkat penafsiran atau ijtihad, akan jauh berbeda dengan kesimpulan pemahaman yang dihasilkan oleh orang awam yang mengandalkan buku-buku “terjemah” al-Qur’an atau as-Sunnah. Itulah kenapa di zaman ini banyak sekali bermunculan aliran sesat. Jawabannya tentu karena masing-masing mereka berusaha kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, lalu mereka berupaya mengkajinya dengan kemampuan dan kapasitasnya sendiri.

Kedua, al-Qur’an dan as-Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh para ulama terdahulu yang memiliki keahlian yang sangat mumpuni untuk melakukan hal itu, sebut saja misalnya ulama madzhab empat, para ulama tafsir, ulama hadis, ulama fikih, ulama aqidah Ahlussunnah Wal-Jama’ah, dan ulama tasawuf/akhlaq. Hasilnya, mereka telah menulis beribu-ribu jilid kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Qur’an dan as-Sunnah secara gamblang dan terperinci, sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap umat yang hidup di kemudian hari.

Karya-karya besar itu merupakan pemahaman para ulama yang disebut di dalam al-Qur’an sebagai “ahl al-dzikr”, yang kemudian disampaikan kepada umat Islam turun-temurun dari generasi ke generasi secara berantai sampai saat ini. Adalah sebuah keteledoran besar jika upaya orang belakangan dalam memahami Islam dengan cara “kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” dilakukan tanpa merujuk kepada pemahaman para ulama tersebut. Hal yang menjadi pangkal penyimpangan adalah karena mereka memutus mata rantai amanah keilmuan mayoritas ulama dengan membatasi keabsahan sumber rujukan agama hanya sampai pada ulama salaf (yang hidup sampai abad ke-3 Hijriah).

Bayangkan, berapa banyak ulama yang dicampakkan dan berapa banyak kitab-kitab yang dianggap sampah yang ada di antara abad ke-3 hingga abad ke-8 hijriyah. Lebih parahnya lagi, dengan rantai yang terputus jauh, mereka memproklamasikan diri sebagai pembawa ajaran ulama salaf yang murni, padahal yang mereka sampaikan hanyalah pemahaman mereka sendiri setelah merujuk langsung pendapat-pendapat ulama salaf. Bukankah yang lebih mengerti tentang pendapat ulama salaf adalah murid-murid mereka? Bukankah para murid ulama salaf itu kemudian menyampaikannya kepada murid-murid mereka lagi dan hal itu terus berlanjut secara turun temurun dari generasi ke generasi baik lisan maupun tulisan? Bijaksanakah ketika pemahaman agama dari ulama salaf yang sudah terpelihara dari abad ke abad, lalu mereka campakkan sebagai tanda tidak percaya, dan mereka lebih memilih untuk memahaminya langsung dari para ulama salaf tersebut? Sungguh, ini bukan saja tidak bijaksana, tetapi juga keteledoran besar, bila tidak ingin disebut kebodohan. Jadi mereka bukan cuma menggaungkan slogan “kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” secara langsung, tetapi juga “kembali” kepada pendapat para ulama salaf” secara langsung dengan cara dan pemahaman sendiri.

Ketiga, para ulama telah menghidangkan penjelasan tentang al-Qur’an dan as-Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai sebuah “hasil jadi”. Boleh dibilang, kemampuan yang dimiliki para ulama itu tak mungkin lagi bisa dicapai oleh orang setelahnya, terlebih di zaman ini, menimbang masa hidup mereka yang masih dekat dengan masa hidup Rosululloh ^ dan para Shahabat yang tidak mungkin terulang. Belum lagi keunggulan hafalan, penguasaan berbagai bidang ilmu, lingkungan yang shalih, sifat wara’ (kehati-hatian), keikhlasan, keberkahan, dan lain sebagainya. Pendek kata, para ulama seakan-akan telah menghidangkan “makanan siap saji” yang siap disantap oleh umat tanpa repot-repot meracik atau memasaknya terlebih dahulu, sebab para ulama tahu bahwa kemampuan meracik atau memasak itu tidak dimiliki setiap orang.

Berdasarkan uraian di atas, nyatalah bahwa pihak yang menyerukan “kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah” itu belum tentu dapat dianggap benar. Sesungguhnya para ulama yang telah menulis ribuan jilid kitab tidak mengutarakan pendapat menurut hawa nafsu mereka. Amat ironis, bila karya-karya para ulama yang jelas-jelas lebih mengerti tentang al-Qur’an dan as-Sunnah itu dituduh sebagai kumpulan pendapat manusia yang tidak berdasar pada dalil. Sementara mereka yang menyerukan kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah jelas-jelas hanya memahami dalil secara tekstual (harfiyah). Lalu dengan angkuhnya mereka menyatakan diri sebagai orang yang paling nyunnah, paling sejalan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.

As-Syaikh Muhammad Taufiq al-Buthi dalam tulisannya kepada masyarakat Indonesia (dimuat Majalah Cahaya Nabawiy Mei 2016 dan Majalah Aula Juni 2016) menyatakan urgensi (pentingnya) bermadzhab dan keharusan kembali pada ulama dalam penafsiran hukum. Beliau menyatakan :
“Tidak semua orang mampu mengambil hukum dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka menjadi suatu keniscayaan orang awam kembali kepada ulama kompeten. Tidak semua orang mampu mempraktikkan syarat ijtihad, maka mereka harus kembali kepada hasil ijtihad para ulama mujtahid. Umat Islam selalu konsisten dan terbukti selalu mengikuti imam-imam mujtahid madzhab. Mengikuti mereka, bukan karena mereka atau hasil ijtihad mereka belaka, namun capaian madzhab mereka dalam dinamika perjalanan madzhab, mulai generasi ulama murid para imam madzhab (ashhab), kemudian ulama mujtahid madzhab, lalu pen-tarjih, dan mufti. Hal itu terjadi berabad-abad, melalui proses penelitian mendalam (tahqiq) dan diskusi (munaqasyah) hingga madzhab mereka teruji, di mana salah seorang di antara kita tidak dapat melakukannya.

Bukanlah sesuatu kebijaksanaan, kita memulai sesuatu yang telah dilakukan oleh para imam yang jeda masa mereka dengan Nabi Muhammad ^ hanya dua abad. Kita tidak dapat mengabaikan begitu saja terhadap usaha mereka, perpustakaan besar yang mengoleksi karya fikih dan segala apapun yang menjelaskan tentang syariat. Sedangkan kita di masa ini dipisahkan oleh 14 abad. Bahasa kita lebih lemah untuk memahami nash atau dalil.

Penguasaan kita terhadap syarat ijtihad dan pirantinya sangat lemah. Tidak mengindahkan madzhab-madzhab fikih berarti memusnahkan khazanah keilmuan klasik, sesuatu yang telah dihasilkan oleh ribuan ulama. Mereka mengerahkan segenap usaha untuk meneliti produk-produk ijtihad para imam fikih dan para pengikut mereka pada era berikutnya.

Mereka juga menyempurnakan amal usaha dalam membangun keilmuan fikih ini untuk menyelesaikan berbagai kasus yang terjadi saat sudah tersedia dalil, atau hal-hal yang telah terjadi atau dipotensikan akan terjadi. Hasil diskusi antar ulama merupakan simpanan kekayaan besar, dalam pola diskusi yang baik, sisi pengambilan hukum dari dalil (istidlal), dalam kekuatan dan keelokannya”.

LTN-NU Kota Malang

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button