Artikel

Ekspedisi Batin (16): Melafal Ketahanan Spiritual

Salah tiga pembaca setia “Ekspedisi Batin” bertanya senada, mengapa beberapa edisi tulisan ke belakang stay tune pada spiritualitas. Penulis memahami pertanyaan itu.

Namun penting untuk diutarakan di sini bahwa, dalam upaya tadabbur diri dan menyelami batin melalui “ekspedisi” ini, ujungnya berada pada kebutuhan energi mental spiritual. Energi yang memproduksi kemampuan istiqamah melafalkan dan meng-engagement ketahanan spiritual untuk menerima, mencerna, menyesapi, lalu memurnikannya menjadi suatu kebijaksanaan dan pengetahuan, sebagai bekal pelepasan diri dari kemelekatan duniawi.

Dalam seharian kemarin, penulis menemani beberapa orang. Salah duanya adalah Mas Fulan dan Mbak Fulani. Kami keliling dari satu tempat ke tempat lain yang kental dengan energi spiritual. Dari makam waliyullah satu ke makam waliyullah yang lain. Menyerap dan menyesap kentalnya energi spiritual sebagai bagian dari bahan bakar menemukan frekuensi hamba dan Pencipta.

Karib ini adalah orang hebat dalam segala cerita harta dan tahta. Di tengah gemuruh hidupnya yang tak henti mencambuk, Fulan ini coba ingin berjalan di tepian kehidupannya untuk memetik pelajaran hidup. Apalagi ia baru merasa saat Ramadan inilah menemukan ketahanan spiritual sebagai pelita dalam gelombang ujian hidupnya.

Ya, penemuan ini berawal saat dia menghadapi badai kehidupannya. Proyek yang hilang, emosi jiwa yang terus merosot, dan mimpi yang seolah terkunci dalam kotak pandora kebuntuan. Namun, di tengah keputusasaan, ia merasa menemukan cahaya di bulan suci. Bulan di mana setiap detiknya Fulan merasa telah mendapatkan kesabaran dan keteguhan hati.

Ramadan kali ini bagi Fulan telah menjadi medan laga di mana setiap hari tanpa makan dan minum hanyalah simbol kecil dari ketahanan yang lebih besar: ketahanan hati menghadapi badai kehidupan. Di setiap tarikan nafas saat sahur, dia menghirup kekuatan. Dan di setiap buka puasa, ia meneguk harapan, membasuh luka dengan air kebersihan spiritual.

Bagi Mas Fulan, setiap tarawih yang dijalaninya adalah perjalanan ke dalam diri. Menggali kedalaman iman yang lebih dari sekadar rutinitas ibadah. Itu adalah kultivasi panjang yang menyatukannya dengan frekuensi kehidupan yang lebih tinggi, di mana setiap rukuk adalah pembungkukan hati terhadap takdir, dan setiap sujud adalah pengakuan kecil akan keterbatasan diri di hadapan keagungan Sang Pencipta.

Mas Fulan menemukan bahwa Ramadan tahun ini adalah kilas balik kehidupan. Sebuah refleksi yang mengajarkannya tentang kefanaan dan kelanggengan. Setiap malam layaknya lembaran-lembaran buku yang ditulis ulang dengan tinta emas kebijaksanaan. Lembaran yabg membingkai kembali cerita-cerita pahit menjadi pelajaran berharga.

“Saya berharap ketika Ramadan ini beranjak pergi, saya bukan lagi orang yang sama,” ucapnya santai saat menjelang terlelap dalam perjalanan pulang di kendaraan yang sama.

Begitulah. Pribadi Mas Fulan telah diukir ulang oleh waktu suci Ramadan ini. Di mana kisah nyata perjuangannya bertransformasi menjadi sumber inspirasi bagi yang mendengarnya. Kepada siapa saja yang mungkin juga tengah tersesat dalam keputusasaan dan hiruk pikuk dunia.

“Betul kata Sampean, kekuatan terbesar terletak dalam kelembutan hati, dan keberanian terbesar adalah ketika kita berani menghadapi diri kita sendiri,” sambungnya lirih. Mata pun terpejam sampai sebuah hotel di di kawasan Bandara Juanda menyambutnya menjelang Subuh.

Cerita Mas Fulan ini adalah bukti nyata bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan rasa lapar, dahaga, dan segala rutinitas ibadah saja. Ramadan merupakan sesuatu cara menemukan ketahanan spiritual untuk menghadapi setiap tantangan. Ia pelajaran tentang kekuatan iman, ketabahan, dan transformasi diri.

Melalui serangkaian waktu suci yang dipadati dengan doa dan renungan, Ramadan membawa kita ke sebuah pemahaman bahwa dalam setiap kesulitan terdapat kemudahan. Dalam setiap ujian, tersembunyi hikmah yang mampu menjadikan kita insan lebih kuat dengan endurance spiritualitas tinggi. Perjalanan bersama Kang Fulan itu adalah simbol perjalanan setiap jiwa yang berjuang, meneguhkan bahwa di balik layar tantangan, ada sinar harapan yang menanti untuk ditemukan.

Sebuah cerita bagi banyak jiwa yang berusaha menavigasi samudera kehidupan yang ganas. Ketika badai keputusasaan menerjang, kentalnya spiritualitas Ramadan di tempat-tempat tertentu menjadi sauh yang mampu menstabilkan dan mengarahkan kembali ke pusat ketenangan spiritual.

Ramadan, bagi Fulan-Fulan lain yang merenungi maknanya, bukan hanya tentang absensi makanan dari fajar hingga senja. Ini adalah perihal bagaimana jiwa diuji, ditempa, dan akhirnya disempurnakan dalam iklim pengalaman spiritual. Seperti logam mulia yang dibersihkan dalam nyala api, jiwa Mas Fulan dan kita semua, mungkin, ditempa dalam bulan penuh berkah ini.

Harapannya, Fulan bukan lagi sosok yang terhuyung oleh badai kehidupan, tapi pelayar yang bijak. Mengarungi lautan dengan kepercayaan bahwa setiap gelombang yang dihadapi menjadikannya lebih dekat dengan daratan iman dan kekuatan spiritual yang tak tergoyahkan.

Dan, untuk mencapai itu semua ketahanan spiritual sangat dibutuhkan dalam hidupnya. Termasuk dalam hidup kita semua. Wallahu a’lam bis shawab. (*)

* Penulis adalah wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU

NU MUDA

Lembaga Ta'lif wan Nasyr PCNU Kota Malang

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button